BERKUNJUNG ke Pulau Pinang di Malaysia atau lebih sering disebut Penang Island merupakan perjalanan yang bagi saya selalu memberikan ruang kontemplasi yang berbeda dari biasanya. Sebagai seorang pemandu wisata di desa yang notabene selalu mengisi perjalanan dengan cerita budaya dan sarat sejarah, bahkan cerita masyarakat di masa lampau, Penang menawarkan wisata semacam itu.
Penang menawarkan cerita, dari masa lalu ke masa depan.
Ini untuk kedua kalinya saya berkunjung ke negara bagian di Malaysia itu, yang terletak di pantai barat laut Semenanjung Malaysia, di sepanjang Selat Malaka. Pulau Penang dengan kotanya George Town memang sudah ditetapkan menjadi salah satu kota warisan budaya oleh UNESCO, khususnya George Town Historical Site tahun 2008.
Dari kuil, Masjid hingga bagunan arsitektur kolonial menjadi daya tarik semua pengunjung di negara dengan bendera pohon pinang ini. Jika sempat keliling di seputaran George Town, Clan Jetty, Bukit Bendera dan menikmati kuliner khas Penang dengan campuran kuliner China dan India serta Melayu, ini akan memberikan pengunjung ruang perjalanan yang tak sekadar jalan-jalan, melainkan sekaligus juga bisa belajar.
Penang dikenal sebagai kota pelabuhan sejak abad ke 17. Setidaknya saya bisa melihat banyak persamaan dengan Kota Melaka di Malaysia, tempat yang sebelumnya juga sempat saya kunjungi.
Menginjakan kaki untuk kedua kalinya di Penang diawali dengan proses perjalanan yang berbeda dengan perjalanan beberapa tahun lalu. Mengambil tiket Pesawat Denpasar-Penang via Kuala Lumpur membuat saya menunggu hampir 6 jam transit di Kuala Lumpur.
Bagi saya ini menarik, meskipun dari Kuala Lumpur bisa menuju Penang, dengan jalur darat, seperti yang saya lakukan pada perjalanan pertama kali.
Tepat tengah malam, 26 Juni 2005, saya mendarat di Penang Internasional Airport. Tampak jelas Pulau Pinang dikelilingi oleh laut.
Keesokan harinya saya bernostalgia mengelilingi pusat kota gorge town dengan segudang gambar mural di sudut bangunan cagar budayanya. Saya mencoba kuliner di sepanjang jalan, sampai berkunjung ke clan jetty.
Penang tetap sama dan malah terus bersolek. Salah satu mural dimana lima tahun lalu saya berfoto tampak tetap terawat dan tambah banyak tempat-tempat yang ditambahi etalase seni. Ini membuktikan destinasi ini diurus dengan serius entah oleh negara, swasta dan masyarakatnya.
Meski dipenuhi dengan narasi-narasi lama tentang kolonial dan sebagainya, jelas sekali Pulau Penang punya pandangan jauh ke depan. Tentang bagaimana mengelola pariwisata agar tetap didatangi orang dari tahun ke tahun, setiap saat, hingga pada masa paling modern sekali pun.
Saya juga menjajal hiking ke Bukit Penang atau yang sering dikenal dengan Penang Hill. Bagi pengunjung yang tidak kuat berjalan kaki untuk sampai di atas, kereta listrik sudah disediakan untuk mobilisasi. Tetapi bagi pengunjung yang memang mencoba menjajal trek alam, fasilitas tangga juga sangat bagus dan memadai.
Sekali lagi ini sangat diperhatikan oleh pengelola destinasi. Di Penang saya kembali merasakan kesamaan dengan Bali, beberapa tempat seperti Sanur, Kota Singaraja. yang juga memiliki cerita sebagai kota pelabuhan ya sendiri. Apalagi Sanur yang sudah di resmikan sebagai KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) dan beberapa waktu lalu sudah diresmikan rumah sakit bertaraf internasional.
Penang sendiri, berdasarkan penuturan sopir taxi bandara yang saya tumpangi, telah menjadi destinasi berobat atau medical tourism bagi banyak orang indonesia. "Banyak orang Medan berobat ke sini," kata sopir taksi itu.
Sambil menikmati kopi di sebuah kedai yang seluruh bangunannya arsitektur kolonial dan Cina, saya membaca juga Bandara Bali Utara sudah akan dibangun dalam waktu dekat. Kabar yang bagus bagi inveator dan mungkin awal perubahan bagi kesepian Buleleng menjadi eramaian yang diimpikan sebagian orang.
Dari Penang saya melihat bagaimana kemajuan adalah harus tetap mempertahankan sejarah. Bangunan kuno dirawat dan pemangku kepentingan menjadi garda pelestari terdepan.
Singaraja setidaknya masih memiliki bangunan kolonial yang semeatinya bisa membawa orang kembali mengenali budaya dan masa lalu sebagai kota pelabuhan yang ramai di masanya.
Panasnya Penang sama dengan panasnya Singaraja. Apakah jika Bandara Bali Utara dibangun, Singaraja akan bisa kembali merevitalisasi bangunan sejarah dan nilai-nilai lokalitas yang ada, atau akan mengurug semuanya dan cerita macet, banjir, ketergantungan akan pariwisata, akan kembali menjadi trending topik di Bali Utara. Semoga tidak ya. [T]
Penulis/Foto-foto: Nyoman Nadiana Editor: Adnyana Ole
Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran
TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah kalimat sederhana. Itulah yang say...
ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk memenuhi kepentingan m...
SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada akhir tajuknya Festival Cerita Rasa 0.4. Ang...
PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini dialami oleh banyak sekali cerita rakyat...
TIGA buku tersusun rapi di atas meja. Sampulnya berbeda-beda, tetapi lahir dari ruang akademik yang sama. Ada ‘Lawaté Surup Ring Balé Gedé: Pupulan Puisi Bali Anyar’, ‘Geguritan D...
MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak jauh dari kota kabupaten. Daerah yang...
MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB). Yang kedua, Seleksi Penerimaan Murid...
Bagi anak-anak, Rekasadana (Pergelaran) Karya Legendaris Maestro Wayan Berata yang dipersembahkan Sanggar atau Sekaa Gong Gita Bandana Praja, Banjar Belaluan Sadmerta, Desa Dangin...
SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna, editor yang mengolah naskah, literary...
SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu malam, 16 Juni 2026, yang ditampil...