17 Agustus 2016, Belum Semua Anak Indonesia Merdeka
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
BERKUNJUNG ke Pulau Pinang di Malaysia atau lebih sering disebut Penang Island merupakan perjalanan yang bagi saya selalu memberikan ruang kontemplasi yang berbeda dari biasanya. Sebagai seorang pemandu wisata di desa yang notabene selalu mengisi perjalanan dengan cerita budaya dan sarat sejarah, bahkan cerita masyarakat di masa lampau, Penang menawarkan wisata semacam itu.
Penang menawarkan cerita, dari masa lalu ke masa depan.
Ini untuk kedua kalinya saya berkunjung ke negara bagian di Malaysia itu, yang terletak di pantai barat laut Semenanjung Malaysia, di sepanjang Selat Malaka. Pulau Penang dengan kotanya George Town memang sudah ditetapkan menjadi salah satu kota warisan budaya oleh UNESCO, khususnya George Town Historical Site tahun 2008.
Dari kuil, Masjid hingga bagunan arsitektur kolonial menjadi daya tarik semua pengunjung di negara dengan bendera pohon pinang ini. Jika sempat keliling di seputaran George Town, Clan Jetty, Bukit Bendera dan menikmati kuliner khas Penang dengan campuran kuliner China dan India serta Melayu, ini akan memberikan pengunjung ruang perjalanan yang tak sekadar jalan-jalan, melainkan sekaligus juga bisa belajar.

Penang dikenal sebagai kota pelabuhan sejak abad ke 17. Setidaknya saya bisa melihat banyak persamaan dengan Kota Melaka di Malaysia, tempat yang sebelumnya juga sempat saya kunjungi.
Menginjakan kaki untuk kedua kalinya di Penang diawali dengan proses perjalanan yang berbeda dengan perjalanan beberapa tahun lalu. Mengambil tiket Pesawat Denpasar-Penang via Kuala Lumpur membuat saya menunggu hampir 6 jam transit di Kuala Lumpur.
Bagi saya ini menarik, meskipun dari Kuala Lumpur bisa menuju Penang, dengan jalur darat, seperti yang saya lakukan pada perjalanan pertama kali.

Tepat tengah malam, 26 Juni 2005, saya mendarat di Penang Internasional Airport. Tampak jelas Pulau Pinang dikelilingi oleh laut.
Keesokan harinya saya bernostalgia mengelilingi pusat kota gorge town dengan segudang gambar mural di sudut bangunan cagar budayanya. Saya mencoba kuliner di sepanjang jalan, sampai berkunjung ke clan jetty.

Penang tetap sama dan malah terus bersolek. Salah satu mural dimana lima tahun lalu saya berfoto tampak tetap terawat dan tambah banyak tempat-tempat yang ditambahi etalase seni. Ini membuktikan destinasi ini diurus dengan serius entah oleh negara, swasta dan masyarakatnya.
Meski dipenuhi dengan narasi-narasi lama tentang kolonial dan sebagainya, jelas sekali Pulau Penang punya pandangan jauh ke depan. Tentang bagaimana mengelola pariwisata agar tetap didatangi orang dari tahun ke tahun, setiap saat, hingga pada masa paling modern sekali pun.
Saya juga menjajal hiking ke Bukit Penang atau yang sering dikenal dengan Penang Hill. Bagi pengunjung yang tidak kuat berjalan kaki untuk sampai di atas, kereta listrik sudah disediakan untuk mobilisasi. Tetapi bagi pengunjung yang memang mencoba menjajal trek alam, fasilitas tangga juga sangat bagus dan memadai.

Sekali lagi ini sangat diperhatikan oleh pengelola destinasi. Di Penang saya kembali merasakan kesamaan dengan Bali, beberapa tempat seperti Sanur, Kota Singaraja. yang juga memiliki cerita sebagai kota pelabuhan ya sendiri. Apalagi Sanur yang sudah di resmikan sebagai KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) dan beberapa waktu lalu sudah diresmikan rumah sakit bertaraf internasional.
Penang sendiri, berdasarkan penuturan sopir taxi bandara yang saya tumpangi, telah menjadi destinasi berobat atau medical tourism bagi banyak orang indonesia. "Banyak orang Medan berobat ke sini," kata sopir taksi itu.

Sambil menikmati kopi di sebuah kedai yang seluruh bangunannya arsitektur kolonial dan Cina, saya membaca juga Bandara Bali Utara sudah akan dibangun dalam waktu dekat. Kabar yang bagus bagi inveator dan mungkin awal perubahan bagi kesepian Buleleng menjadi eramaian yang diimpikan sebagian orang.
Dari Penang saya melihat bagaimana kemajuan adalah harus tetap mempertahankan sejarah. Bangunan kuno dirawat dan pemangku kepentingan menjadi garda pelestari terdepan.
Singaraja setidaknya masih memiliki bangunan kolonial yang semeatinya bisa membawa orang kembali mengenali budaya dan masa lalu sebagai kota pelabuhan yang ramai di masanya.

Panasnya Penang sama dengan panasnya Singaraja. Apakah jika Bandara Bali Utara dibangun, Singaraja akan bisa kembali merevitalisasi bangunan sejarah dan nilai-nilai lokalitas yang ada, atau akan mengurug semuanya dan cerita macet, banjir, ketergantungan akan pariwisata, akan kembali menjadi trending topik di Bali Utara. Semoga tidak ya. [T]



Penulis/Foto-foto: Nyoman Nadiana
Editor: Adnyana Ole
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Semalam di tengah gempita dentuman suara sound sistem, saya mengkhayal dibayar 150 juta untuk mengajar 34 jam per minggu, wah pasti kaki saya tidak akan pernah pegal saat berdiri d...
KETIKA mengantar seorang teman untuk membeli sepatu sebagai keperluan bekerja di sebuah instansi pemerintah, kami sempat terlibat obrolan singkat yang pada intinya alas kaki tidak...
BANGKUNG mepalu adaang di Buleleng, jeg pasti rame! Asal gratisss! Iya, babi betina saling sruduk digelar di Buleleng, pasti ramai penontonnya. Apalagi Slank pentas gratisan. Kutik...
MENJELANG Hari Galungan biasanya banyak warga adat menggelar karya gede di Pura. Karya Gede di sebuah Pura merupakan hari yang ditunggu-tunggu warga. Di situ banyak orang akan mema...
ADA semacam mitos yang tampaknya bisa menghantui keluarga Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Buleleng dalam Pilkada, Februari 2017. Yakni, kenyataan bahwa sejak era refor...
AKU adalah ruh sebuah negeri. Negeri nun jauh di sana. Tubuhku bersandar pada pegunungan yang berbaris rapi. Di hadapan mataku terhampar laut utara yang begitu tenang. Mungkin kare...
HALO, kawan sebangsa dan setanah air, sudah makan apa hari ini? Tahu? Tempe? Semoga Tuhan selalu memudahkan rejeki kita, agar tahu dan tempe selalu dapat terbeli. Tahu dan tempe m...
KISAH percintaan memang tak pernah habis jika dibicarakan. Virus-virus cinta dapat tumbuh di mana saja dan kapan saja. Tak seorangpun bisa menduga hal tersebut. Salah satu ajang ya...
I dan Ni oleh banyak orang dianggap title “wong jaba” padahal ini adalah honorific yang generic. I dan Ni adalah honorific. I semacam Mr dan Ni semacam Ms. I dan Ni bukan hanya di...