‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
Yakinilah, penderitaan itu berharga…
Di luar sekolah, rasanya kita tak hanya bisa belajar dari pengalamn orang-orang besar seperti bunda Theresa, sang jiwa agung Mahatma Gandhi atau revolusionis Che Guavara. Namun kita dapat belajar dari oarng-orang biasa yang punya kisah luar biasa. Setidaknya menurut kita sendiri. Pada dasarnya semua tempat adalah sekolah dan setiap orang adalah guru, saat kita mau menjadi seorang murid yang baik, sikap rendah hati dan selalu punya rasa hormat. Itu yang sering saya lakukan dan belakangan ini kembali saya rasakan.
Ia seorang pensiunan sopir ambulance jenazah RS dan saat ini saya minta untuk bekerja menjadi sopir pribadi saya. Saya memerlukan jasanya karena saya harus rutin pulang pergi dari Singaraja ke RS Ngoerah Denpasar untuk melanjutkan pendidikan sub spesialis di bidang rematologi agar bisa menjadi seorang dokter ahli penyakit dalam konsultan. Kualifikasi yang sangat diperlukan oleh RSUD Buleleng untuk melayani pasien-pasien di wilayah Bali Utara dan pemenuhan kompetensi untuk fakultas kedokteran Undiksha di mana saya juga mengajar.
Namanya, sebut saja, Pak Ketut. Ia telah mengabdikan dirinya di RSUD Buleleng sebagai sopir ambulance jenazah tak kurang dari 35 tahun lamanya. Di depan kemudi ia berujar, “Itu pekerjaan paling berat yang sudah saya jalani. Jika yang terberat sudah dijalani, pekerjaan apa lagi sih yang membuat kita gentar?”
Pertanyaan retoris itu jelas bagi saya, yang duduk disebelahnya, tak perlu untuk dijawab. Ia terbiasa mengantarkan jenazah hampir ke seluruh pelosok wilayah Buleleng dan sekitarnya pada dini hari, jam satu atau jam tiga. Melalui medan berat atau guyuran hujan juga sudah biasa. Dan tentu saja kembali ke RS sendirian, masih dengan kemungkinan mobil ambulance mogok di jalan. Cukup jelas bagi saya sebuah pelajaran, penderitaan itu sesungguhnya begitu berharga.
Tiba-tiba teringat oleh saya, pengalaman bertugas di pedalaman Kalimantan, sebuah penderitaan lain yang juga telah mewujudkan kekuatan jiwa dalam menghadapi hidup. Kurun waktu 35 tahun bukanlah hal sepele jika berurusan dengan jenazah. Hanya orang-rang yang memiliki panggilan jiwa atau passion yang dapat melakoni pekerjaan suram seperti itu. Maka, pelajaran berikutnya yang terpampang adalah, bekerjalah denga cinta. Maka itu memberikan kita nafkah dan kesenangan.
Di usianya yang sudah menjelang 60 tahun, tubuhnya masih ramping, tegak, bahkan sesuai untuk gestur seorang prajurit TNI. Bukankah pekerjaan sopir lebih sering membuat seseorang kehilangan bodinya? Karena kurang gerak dan doyan makan? Rahasianya adalah, di samping nyopir, Pak Ketut masih menyabit rumput untuk sapi-sapinya. Membuat dagdag untuk babi-babinya, menanam padi dan berbelanja ke pasar untuk dijual lagi di warungnya. Ini pelajaran tentang potensi tubuh dan pikiran kita yang sejatinya nyaris tak terbatas.
Lihat saja saat ini Elon Musk sedang merancang invasi ke planet Mars atau Yiannis Kouros, runner ultra marathon asal Yunani yang sanggup berlari hingga 1.000 mil. Juga kecanggihan Iron Dome Israel yang mampu mencegat rudal musuh sedemikian efektifnya. Otot dan pikiran yang terus distimulasi dan digerakkan dapat memicu sekresi endorfin, sejenis morfin endogen yang dihasilkan tubuh, yang memberi sensasi menyenangkan dan bebas dari tekanan.
Tiba-tiba muncul bayangan ruang praktek saya di klinik Sahabat. Tempat di mana kadang saya masih senang melayani pasien hingga menjelang jam 12 malam sejak jam 6 sore. Ada endorfin yang tak saya sadari telah menjalari otot dan sel-sel otak saya sampai pasien telah habis saya layani.
Tak jarang saat dalam perjalanan, pak Ketut menerima telefon dari anak-anaknya, bahkan yang sudah pada menikah dan sudah punya anak. Ia mengatakan sudah punya 9 orang cucu dan tak jarang datang ke warungnya, menguras isi dagangan kakek neneknya itu. Alih-alih kesal, ia justru senang dan merasa bahagia. Pelajaran terakhir hari itu saya catat adalah keluarga. Sang Budha pernah mengatakan frase yang terlampau sederhana. “Jika ingin memperbaiki dunia, pulanglah ke rumah, temui keluargamu.”
Itu frase sederhana dengan filsafat sekuat dinamit. Saya yakin, Pak Ketut tak pernah membaca buku tentang Budha, namun ia telah melakukannya. Sama seperti, ia tak pernah memakai morfin, namun telah merasakannya. Keluarga, sebuah bangunan yang penuh dimensi. Sebuah dunia kecil untuk melangkah ke dunia besar dengan berbagai dimensi, urusan pengantaran jenazah, perjalanan sungai berbahaya, sapi dan babi yang harus diberikan makan, dan seterusnya. Pak Ketut, ia bukanlah seorang guru, atau orang besar yang telah dicatat dalam sejarah. Nyatanya saya banyak belajar darinya. [T]
Penulis: Putu Arya Nugraha
Editor: Adnyana Ole
Klik BACA untuk melihat esai dan cerpen dari penulis DOKTER PUTU ARYA NUGRAHA
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus Dur), dan Susilo Bambang Yudoyonomenon...
SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka yang menghabiskan waktu bertahun-tahun menempuh pend...
DESA Pedawa di Kecamatan banjar, Buleleng, yang dikenal dengan adat dan budaya yang unik kembali menjadi tujuan pengabdian akademik. Pada hari Rabu, 10 Juni 2026, tim Pengabdian k...
Hari itu, Kamis, 11 Juni 2026, para siswa yang tergabung dalam OSIS dan MPK (Majelis Perwakilan Kelas) SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) berkunjung ke Yayasan Bali Baby...
DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen dulu." Di lingkungan peke...
SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan sawah yang hijau. Burung-burung berkicau. Angi...
KOMITMEN dalam menjaga kelestarian lingkungan terus ditunjukkan oleh Fakultas Vokasi Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPB Internasional). Melalui Program Studi D4 Man...
DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu menebar cahaya sekaligus memberi sihir warna...
DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan pangan yang paling jujur, sebuah warisa...