Kami sebut dia kucing hitam, Mata yang membelah malam sunyi, Jendela menuju alam yang tak terjangkau, Cenayang, perantara dunia tersembunyi.
Bukan sekadar kucing, Namun permata dalam lipatan waktu, Memancarkan cahaya bagi jiwa yang terjaga.
Bereinkarnasi, Serpihan roh terbang di angin, Membawa bisu yang berbicara dalam hening.
Pelipur lara, Langkahnya menari di antara dimensi, Menebar kehangatan di ruang tanpa suara.
Bleki, penjaga bayang, Mengikatkan rahasia yang hanya kau pahami, Cahaya dalam gelap yang tak terungkap, Penenang dalam riuh yang tak tampak.
Pekanbaru, 2025
Kafir
Teriak menggema di antara menara dan bayang, menuding langit, padahal jendela dalam dirinya tertutup rapat oleh debu warisan.
Ia lupa, bahwa kafir bukan sekadar bunyi dari lidah, melainkan kabut pekat yang dipelihara di dalam dada, tempat cahaya dipantulkan, bukan diserap.
Ia menggenggam malam seolah fajar adalah musuh. Menolak mentari, namun menyalahkan dunia karena gelap.
Kafir— bukan hanya mereka yang tak menyebut, tapi mereka yang menutup, yang membungkus telinga batinnya dengan daun dogma kering yang tak lagi bernapas.
Pekanbaru, 2025
Perjamuan Malam, Ruang Kosong
Di ruang yang tak bernama, malam menghidang sunyi, setiap hela napas menjelma kidung tak bersyair. Tiada suara—hanya gema yang mengalir dari sumur terdalam keberadaan.
Perjamuan ini tanpa piring, tanpa kursi, hanya kehadiran yang saling mengenali tanpa menyebut, tanpa menjabat.
Dalam hening yang meluruh, aku menjelma wadah yang tak meminta. Keberadaan menjadi sajian, dan cukup— menjadi suapan paling sunyi yang pernah kucerna.
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...