SENIMAN Buleleng, ketika berkarya, selalu terbuka terhadap sumber-sumber inspirasi yang datang dari mana saja. Saat menampilkan peed aya pada pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) 2025 mereka menampilkan berbagai seni "luar" yang lestari di Buleleng seperti barongsai (Tionghoa) dan burdah (seni muslim).
Begitu juga yang dilakukan saat seniman-seniman baleganjur menggarap karya yang ditampilkan di panggung terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, Kamis malam, 26 Juni 2025. Mereka menggarap musik baleganjur dengan mengolah inspirasi dari ritual Madewa Ayu yang biasa dilakukan warga di Desa Pemuteran, Gerokgak, Buleleng.
Musik yang dimainkan Sanggar Seni Tari dan Tabuh Jelung Kumara, Desa Pemuteran, itu diberi judul "Paripurnaning Dewa Ayu".
"Melalui gending Paripurnaning Dewa Ayu, kami ingin menghadirkan kembali makna sakral dari tradisi Madewa Ayu sebagai warisan spiritual dan kultural yang penuh nilai," kata Putu Febryanto Kusuma Atmaja yang menjadi penata tabuh "Paripurnaning Dewa Ayu".
Garapan musik atau tabu baleganjur itu memang diniatkan sebagai upaya untuk menghidupkan kembali nilai-nilai tradisi yang diwariskan leluhur warga di Desa Pemuteran.
Penampilan sekaa baleganjur dari Sanggar Seni Tari dan Tabuh Jelung Kumara, Desa Pemuteran, Buleleng | Foto: Kominfosanti Buleleng
Tabuh "Paripurnaning Dewa Ayu" diangkat dari spirit kesakralan tradisi Madewa Ayu yang tetap lestari di Desa Pemuteran, meski sesungguhnya tradisi itu berasal dari Desa Seraya.
Ketika sejumlah warga Desa Seraya di Karangasem pindah ke Desa Pemuteran di Buleleng sekira tahun 1930-an, mereka membawa serta tradisi mereka.
Tradisi ini merupakan ungkapan syukur dan permohonan keselamatan kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa, sekaligus dipercaya sebagai sarana penyembuhan dan permohonan berkah yang abadi.
Penampilan sekaa baleganjur dari Sanggar Seni Tari dan Tabuh Jelung Kumara, Desa Pemuteran, Buleleng | Foto: Kominfosanti Buleleng
Balaganjur dari seniman-seniman muda Buleleng ini mendapat sambutan gegap gempita dari penonton yang memenuhi tribun terbuka Ardha Candra. Garapan tabuh yang ritmis sekaligus terkesan magis dan sakral itu membuat penonton seakan terbawa pada suasana masa lalu yang damai, kusuk, dengan bunyi-bunyi dari laku ritual yang tulus.
Putu Febryanto Kusuma Atmaja mengatakan karya baleganjur ini bukan sekadar dibuat sebagai pertunjukan seni, melainkan juga sebagai ruang untuk mengembalikan kesadaran terhadap nilai-nilai masa lalu yang sesungguhnya masih punya hubungan baik dengan kehidupan orang Bali di masa kini.
Tabuh ini menyuarakan narasi musikal yang kuat dengan tetap mengikuti struktur klasik Tri Angga; pengawit, pengawak, dan pengecet. Sebagaimana tabuh balaganjur pada umumnya, nada-nada dimainkan begitu dinamis, tanpa melupakan jeda dan isapan-isapan sunyi yang membuat penonton tetap menyimak dari awal hingga akhir.
Penampilan sekaa baleganjur dari Sanggar Seni Tari dan Tabuh Jelung Kumara, Desa Pemuteran, Buleleng | Foto: Kominfosanti Buleleng
Tabuh juga dilengkapi vokal untuk memberi kesan spiritual yang begitu kental. Gerakan-gerakan penabuh dan penari perempuan juga diatur sedemikian rupa sehingga garapan baleganjur itu terkesan seperti sebuah ritual yang unik di atas panggung.
"Ini bukan sekadar pertunjukan, tetapi sebuah upaya merajut harmoni antara seni, kepercayaan, dan jati diri masyarakat Buleleng," kata Putu Febryanto Kusuma Atmaja. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana Editor: Adnyana Ole
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...