Kampusku Sarang Hantu [22]: Mahasiswa Tersandera di Toilet
JIKA ada pepatah mengatakan kebersihan adalah sebagian dari iman, tentu benar adanya. Kebersihan menjadi faktor penting dalam kehidupan manusia. Bahkan semua agama menganjurkan ag...
— Catatan Harian Sugi Lanus, 26 Juni 2025
DALAM ajaran Hindu Bali, "Bhuta Kala" dipahami sebagai kekuatan alam yang bersifat negatif yang mendatangkan gangguan atau kekacauan. Bentuknya beragam. Bisa berupa janji manis hidup penuh kesenangan dan rayuan surgawi yang menyesatkan kehidupan manusia.
"Panugrahan Ida Bhatara" merujuk pada anugerah dari Ida Bhatara (Tuhan) kepada umat manusia. Bentuknya tidak selalu material, tapi lebih banyak berupa tuntunan batin dan keteguhan pikiran yang membuat tidak mudah tergoda, bertindak jernih dan tahan banting.
Masyarakat Hindu Bali kini menghadapi banyak tantangan dan iming-iming 'kemajuan instan' yang menyesatkan dan membawa dampak buruk jangka panjang berkepanjangan bagi Hindu Bali.
Iming-iming ini bisa bersumber dari sepak terjang ceroboh masyarakat lokal, program pemerintah daerah dan pemerintah pusat yang gegabah, investasi lokal-nasional dan investasi asing yang tidak peduli tatanan alam dan budaya Bali, dll.
Secara tradisional, ajaran Hindu Bali memberi tuntunan untuk tidak bekerja sama dengan "Bhuta Kala" dan sebaliknya memohon "Panugrahan Ida Bhatara".
Masyarakat Hindu Bali kini dituntut jernih melihat mana "Program Bhuta Kala" dan mana "Panugrahan Ida Bhatara".
Dalam cerita Ramayana, penculikan Sita didahului oleh tipu daya Rahwana yang menyamar menjadi seorang pendeta tua dan tipu daya Marica yang menyamar menjadi rusa emas yang membuat Sita meminta Rama menangkapnya, sehingga Rama meninggalkan Sita dan Laksmana.
Dalam tradisi sastra di Bali disebutkan Sita melambangkan "tanah air" tertipu diculik Rahwana.
Kakawin Ramayana yang diwarisi dalam tradisi Hindu Bali, jika dibandingkan dengan situasi Bali sekarang, senasib Sita tergoda rusa emas jelmaan Marica.
Tipu daya sosok pendeta tua dan rusa emas telah mengejawantah dan bergentayangan di Bali.
Menjaga tanah Bali tidak cukup dengan berbagai upakara caru dan persembahan dalam menghadapi "Program Bhuta Kala".
Program Bhuta Kala ini hanya bisa dinetralisir (somya) dengan keberanian bersikap penolakan dan berani berpihak pada 'pandangan benar' dan 'pikiran jernih' agar mata batin tidak dibutakan silau emas si rusa dan bujuk rayu manis si pendeta tua.
Jika tertipu kata-kata manis dan kilau emas, maka masyarakat Bali akan mengikuti Program Bhuta Kala, Rahwana dan Marica.
Sejarah dan masa depan Bali sedang ditulis oleh masyarakat Bali sendiri. Mengikuti "program Bhuta Kala" (si rusa emas dan pendeta palsu), atau mengikuti tuntunan "Panugrahan Ida Bhatara", keduanya sangat tergantung kesadaran kolektif masyarakat Bali dalam menjawab/menyikapi tantangan kekinian. [T]
JIKA ada pepatah mengatakan kebersihan adalah sebagian dari iman, tentu benar adanya. Kebersihan menjadi faktor penting dalam kehidupan manusia. Bahkan semua agama menganjurkan ag...
BALI, pulau yang sering dijuluki sebagai “surga dunia”, kini tampak semakin lelah dimata saya. Lelah karena dipuja dan dieksploitasi secara berlebihan. Lelah karena keindahannya d...
“SEPUR…sepur…sepur! Awas sepur! Minggir dulu!” teriak seorang lelaki paruh baya sambil menggerak-gerakkan tangannya, menginstruksikan orang-orang supaya segera minggir dari lintas...
LAGU “Mamak Pesu Bapak Cemburu” yang sempat populer delapan tahun silam kini kembali hadir dalam versi baru yang lebih segar. Lagu ciptaan Ray Peni, musisi senior asal Bali, di...
WAKTU adalah usia kehidupan, sebagai medan eksistensi manusia, dan merupakan tempat ia berlindung dan menetap, tempat ia dapat memberi manfaat kepada orang lain dan tempat ia diam...
GENERASI membuat layangan di Bali sangat mengembirakan. Buktinya, lima kelompok sekaa atau komunitas Teruna sangat kreatif mengikuti Jantra Tradisi Bali, Pacentokan (Lomba) Membua...
LOVINA Festival (LovFest) 2025 siap dilaksanakan 24–27 Juli 2025. Pemkab Buleleng sudah mematangkan segala persiapan agar event tahunan itu berjalan dengan sukses. Tahun ini...
MALAM itu, Senin, 23 Juni 2025, di Kedai Cana, Seririt, Buleleng, bergulir lagi program Layar Kolektif Bali Utara dan Komunitas Singaraja Menonton, yakni pemutaran film-film pende...
SEBAGAI pertanggungjawaban seorang penulis tentunya tidak hanya mengajak pembaca untuk berpikir dan menggali serta menyimpulan sendiri atas sajian paragraf-paragraf yang saya tuli...
AKU mesti menyampaikan terima kasih kepada Nona Angelina Enny yang telah mengundangku bergabung dalam eskpedisi Mencari Sita di Hindia Belanda meski hanya bisa menguntit pelayaran...