5 Puisi Yuditeha | Remah Roti di Lantai Kamar Mandi
Lima puisi ini saya buat setelah menonton film berjudul The Reader (2008) Remah Roti di Lantai Kamar Mandi perempuan itu duduk di tepi bakmenunduk seperti hendak memungut...
— Catatan Harian Sugi Lanus, 26 Juni 2025
DALAM ajaran Hindu Bali, "Bhuta Kala" dipahami sebagai kekuatan alam yang bersifat negatif yang mendatangkan gangguan atau kekacauan. Bentuknya beragam. Bisa berupa janji manis hidup penuh kesenangan dan rayuan surgawi yang menyesatkan kehidupan manusia.
"Panugrahan Ida Bhatara" merujuk pada anugerah dari Ida Bhatara (Tuhan) kepada umat manusia. Bentuknya tidak selalu material, tapi lebih banyak berupa tuntunan batin dan keteguhan pikiran yang membuat tidak mudah tergoda, bertindak jernih dan tahan banting.
Masyarakat Hindu Bali kini menghadapi banyak tantangan dan iming-iming 'kemajuan instan' yang menyesatkan dan membawa dampak buruk jangka panjang berkepanjangan bagi Hindu Bali.
Iming-iming ini bisa bersumber dari sepak terjang ceroboh masyarakat lokal, program pemerintah daerah dan pemerintah pusat yang gegabah, investasi lokal-nasional dan investasi asing yang tidak peduli tatanan alam dan budaya Bali, dll.
Secara tradisional, ajaran Hindu Bali memberi tuntunan untuk tidak bekerja sama dengan "Bhuta Kala" dan sebaliknya memohon "Panugrahan Ida Bhatara".
Masyarakat Hindu Bali kini dituntut jernih melihat mana "Program Bhuta Kala" dan mana "Panugrahan Ida Bhatara".
Dalam cerita Ramayana, penculikan Sita didahului oleh tipu daya Rahwana yang menyamar menjadi seorang pendeta tua dan tipu daya Marica yang menyamar menjadi rusa emas yang membuat Sita meminta Rama menangkapnya, sehingga Rama meninggalkan Sita dan Laksmana.
Dalam tradisi sastra di Bali disebutkan Sita melambangkan "tanah air" tertipu diculik Rahwana.
Kakawin Ramayana yang diwarisi dalam tradisi Hindu Bali, jika dibandingkan dengan situasi Bali sekarang, senasib Sita tergoda rusa emas jelmaan Marica.
Tipu daya sosok pendeta tua dan rusa emas telah mengejawantah dan bergentayangan di Bali.
Menjaga tanah Bali tidak cukup dengan berbagai upakara caru dan persembahan dalam menghadapi "Program Bhuta Kala".
Program Bhuta Kala ini hanya bisa dinetralisir (somya) dengan keberanian bersikap penolakan dan berani berpihak pada 'pandangan benar' dan 'pikiran jernih' agar mata batin tidak dibutakan silau emas si rusa dan bujuk rayu manis si pendeta tua.
Jika tertipu kata-kata manis dan kilau emas, maka masyarakat Bali akan mengikuti Program Bhuta Kala, Rahwana dan Marica.
Sejarah dan masa depan Bali sedang ditulis oleh masyarakat Bali sendiri. Mengikuti "program Bhuta Kala" (si rusa emas dan pendeta palsu), atau mengikuti tuntunan "Panugrahan Ida Bhatara", keduanya sangat tergantung kesadaran kolektif masyarakat Bali dalam menjawab/menyikapi tantangan kekinian. [T]
Lima puisi ini saya buat setelah menonton film berjudul The Reader (2008) Remah Roti di Lantai Kamar Mandi perempuan itu duduk di tepi bakmenunduk seperti hendak memungut...
MENONTON film Kanada, Blitzmusik (2024), karya Martin Amiot, di acara Minikino Film Week 11 (MFW11), Jum’at, 12 September 2025, seperti menonton dua tentara berani mematahkan dokt...
SATU lagi mahasiswa dari Poltekkes Kemenkes Denpasar menunjukkan kreativitas dan prestasi. Mahasiswa tersebut adalah I Gede Muliartha Wiguna, mahasiswa semester 5 jurusan Keperawa...
ADA sebuah ungkapan yang akrab di telinga orang Bali: “taluh goreng ada hasil.” Filosofi sederhana ini mengingatkan kita agar tidak membuang tenaga untuk hal yang sia-sia, melaink...
Pengantar DEMOKRASI modern menempatkan presiden bukan hanya sebagai kepala pemerintahan, tetapi juga sebagai simbol pemersatu bangsa. Di dalam sistem presidensial seperti Indon...
Judul : Kado Kematian untuk Pacarmu Penulis : Wayan Agus Wiratama Tahun Terbit : Singaraja, 2019 Penerbit : Mahima Institute Indonesia Tebal buku : 108 halaman ISB...
Caught In 4K menyajikan cerita yang sangat relevan di era digital. Film ini menunjukkan kehidupan seorang anak pra-remaja perempuan bernama Ava yang berusia 11 tahun. Hidupn...
DUNIA sepertinya berada dalam gelombang ketidakpuasan yang tak bisa lagi disangkal. Mulai dari Nepal, Jepang, Prancis, hingga negara-negara lain terjadi lonjakan protes, krisis le...
MEMBACA sajak-sajak Georg Trakl seperti memasuki lorong jiwa yang tak berujung. Lahir pada 3 Februari 1887 di Salzburg, Austria, Trakl tumbuh dalam keluarga yang keras. Ia berkonf...
Wayan: "Bapa, apa madan ‘blabar’?” Bapa: "Banjir ento basa Baline 'blabar'. Blabare ento yeh ujan ane liu mentas di tukade. Ento madan 'blabar'. Ipidan tongos blaba...