"Mebalih Jegog Malu" di Jegog Spirit Festival 2025
HUJAN mengguyur Jembrana dari sore hari, Jumat, 19 Desember 2025. Namun tetabuhan Jegog tetap terdengar dari pinggir jalan utama Denpasar-Gilimanuk. Festival Spirit Jegog Jembrana...
— Catatan Harian Sugi Lanus, 26 Juni 2025
DALAM ajaran Hindu Bali, "Bhuta Kala" dipahami sebagai kekuatan alam yang bersifat negatif yang mendatangkan gangguan atau kekacauan. Bentuknya beragam. Bisa berupa janji manis hidup penuh kesenangan dan rayuan surgawi yang menyesatkan kehidupan manusia.
"Panugrahan Ida Bhatara" merujuk pada anugerah dari Ida Bhatara (Tuhan) kepada umat manusia. Bentuknya tidak selalu material, tapi lebih banyak berupa tuntunan batin dan keteguhan pikiran yang membuat tidak mudah tergoda, bertindak jernih dan tahan banting.
Masyarakat Hindu Bali kini menghadapi banyak tantangan dan iming-iming 'kemajuan instan' yang menyesatkan dan membawa dampak buruk jangka panjang berkepanjangan bagi Hindu Bali.
Iming-iming ini bisa bersumber dari sepak terjang ceroboh masyarakat lokal, program pemerintah daerah dan pemerintah pusat yang gegabah, investasi lokal-nasional dan investasi asing yang tidak peduli tatanan alam dan budaya Bali, dll.
Secara tradisional, ajaran Hindu Bali memberi tuntunan untuk tidak bekerja sama dengan "Bhuta Kala" dan sebaliknya memohon "Panugrahan Ida Bhatara".
Masyarakat Hindu Bali kini dituntut jernih melihat mana "Program Bhuta Kala" dan mana "Panugrahan Ida Bhatara".
Dalam cerita Ramayana, penculikan Sita didahului oleh tipu daya Rahwana yang menyamar menjadi seorang pendeta tua dan tipu daya Marica yang menyamar menjadi rusa emas yang membuat Sita meminta Rama menangkapnya, sehingga Rama meninggalkan Sita dan Laksmana.
Dalam tradisi sastra di Bali disebutkan Sita melambangkan "tanah air" tertipu diculik Rahwana.
Kakawin Ramayana yang diwarisi dalam tradisi Hindu Bali, jika dibandingkan dengan situasi Bali sekarang, senasib Sita tergoda rusa emas jelmaan Marica.
Tipu daya sosok pendeta tua dan rusa emas telah mengejawantah dan bergentayangan di Bali.
Menjaga tanah Bali tidak cukup dengan berbagai upakara caru dan persembahan dalam menghadapi "Program Bhuta Kala".
Program Bhuta Kala ini hanya bisa dinetralisir (somya) dengan keberanian bersikap penolakan dan berani berpihak pada 'pandangan benar' dan 'pikiran jernih' agar mata batin tidak dibutakan silau emas si rusa dan bujuk rayu manis si pendeta tua.
Jika tertipu kata-kata manis dan kilau emas, maka masyarakat Bali akan mengikuti Program Bhuta Kala, Rahwana dan Marica.
Sejarah dan masa depan Bali sedang ditulis oleh masyarakat Bali sendiri. Mengikuti "program Bhuta Kala" (si rusa emas dan pendeta palsu), atau mengikuti tuntunan "Panugrahan Ida Bhatara", keduanya sangat tergantung kesadaran kolektif masyarakat Bali dalam menjawab/menyikapi tantangan kekinian. [T]
HUJAN mengguyur Jembrana dari sore hari, Jumat, 19 Desember 2025. Namun tetabuhan Jegog tetap terdengar dari pinggir jalan utama Denpasar-Gilimanuk. Festival Spirit Jegog Jembrana...
Hari pertama Jegog Spirit Festival 2025, Jumat, 19 Desember, di Anjungan Cerdas Rambut Siwi, Jembrana, diisi dengan berbagai kegitaan edukatif dan kompetisi, sekaligus meriah. Itu...
AKHIR tahun di Denpasar selalu punya dua wajah. Di satu sisi, ia menjadi ruang perayaan, temu kreativitas, dan etalase budaya yang hidup. Di sisi lain, langit kerap menyimpan keju...
Tak ada yang dapat sepenuhnya menghindar dari lagu ini, sebab jejaknya telah lama terpahat dalam ingatan: “I Love You More Than You’ll Ever Know” dari Blood, Sweat & Tears. Di...
Tidak ada satu pun negara di dunia yang tidak melakukan pembangunan. Pembangunan akan terus berlangsung seiring dengan perjalanan sebuah negara. Dalam prosesnya, pembangunan harus...
HUBUNGAN Papa dan Mama sangat aneh. Mereka tidak pernah bertengkar, tapi juga tidak pernah tampil mesra. Mereka bersikap sopan terhadap satu sama lain. Mereka juga membagi pekerja...
SKETSA MALAM Saban malam kau berceritaseseorang yang memahat mayatnyamenjelma penari api oleh dendamnya. Kegilaan mempesona jiwanya menemukangua purba dan lukisan perburuan...
BALI kerap dipuja sebagai surga dunia. Pulau kecil ini hadir dalam imajinasi global sebagai lanskap eksotis: sawah berundak hijau, pantai berkilau, ritual keagamaan yang sakral, s...
MENGUSUNG tema wisata, literasi, seni, dan budaya, sebuah acara “dadakan” diadakan di Desa Adat Gulinten, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, Bali. Kegiatan ini sebagai ajang b...
PERJALANAN saya ke Kota Jakarta kali ini memang berbeda. Sudah 15 kali ke Jakarta, naik bus 6 kali, 9 kali naik pesawat udara. Tapi kali ini saya naik kereta api dari Surabaya, te...