Tentang Lauk yang Dipindahkan Diam-Diam dari Piring MBG
SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi orang tua Indonesia, terutama yang tumb...
KARYA sastra seringkali dianggap atau diposisikan sebagai medium “tinggi” yang di dalamnya mengandung unsur-unsur estetika serta moralitas. Dalam pandangan umum serta imajinasi masyarakat tentang sastra sering ali menganggap bahwa karya sastra harus memiliki nilai yang agung, puitis, dan juga mendidik. Hal tersebut seolah menjadikan karya sastra harus selalu berperan sebagai penyampai kebenaran universal atau dijadikan sebagai norma sosial.
Pada ruang-ruang formal seperti dalam pendidikan atau kursus kebudayaan populer, sastra diasosiasikan dengan idealisme dan juga etika. Oleh karena hal tersebut, penyimpangan-penyimpangan yang ada dalam karya sastra dianggap sebagai provokasi bahkan hingga dianggap sebagai penghinaan terhadap martabat kesusasteraan.
Pandangan mengenai karya sastra tersebut dengan mudah digugat ketika membaca novel karya Kedung Darma Romansha yaitu Telembuk: Dangdut dan Kisah Cinta yang Keparat. Novel tersebut secara frontal mengguncang batas-batas nyaman pembaca. Isi dalam novel tersebut menggambarkan dengan rinci mengenai realitas sosial yang vulgar, penuh hasrat, serta menjungkirbalikkan tatanan nilai yang mapan.
Novel Telembuk ini menyoroti kehidupan masyarakat Indramayu, khususnya terkait dengan isu-isu sosial, budaya, serta posisi perempuan. Masalah tersebut diangkat dari realitas sosial di daerah Indramayu yang memperlihatkan bagaimana tatanan ekonomi dan sosial sangat berpengaruh pada keseharian masyarakatnya. Novel ini merepresentasikan enam masalah utama yaitu masalah ekonomi, kenakalan remaja, disorganisasi keluarga, pelanggaran norma, kriminalitas, dan persoalan perempuan.
Novel Telembuk ini mungkin terlihat sebagai karya sastra dengan lanskap subversif dan menganggu. Namun, disitulah inti dari pesan yang ingin disampaikan oleh penulis dalam novel tersebut. Novel ini tidak berupaya untuk “memperbaiki” dunia, tetapi memperlihatkan apa adanya tanpa sensor apapun.
Kedung Darma Romansha sendiri merupakan sastrawan yang lahir di Indramayu dan merupakan alumni jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Yogyakarta serta pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Ia dikenal sebagai seorang sastrawan yang memiliki gaya kepenulisan keras. Tulisan-tulisannya lekat dengan perpaduan antara bahasa sastra yang puitis dengan kenyataan sosial yang getir.
Pada novel Telembuk, penulis membawa pembaca untuk melihat dunia kelas bawah yang sering terpinggirkan dalam wacana sastra arus utama. Ia membongkar konstruksi kultural terkait dengan tubuh, seksualitas, serta hiburan masyarakat dengan gaya yang melawan. Novel ini menantang pembaca untuk meninjau ulang makna dari suatu karya sastra di mana idealnya sastra adalah cermin masyarakat yang dijadikan sebagai alat pembongkaran makna dan kekuasaan.
Jika dipandang dari kerangka pembacaan dekonstruktif ala Jacques Derrida, novel Telembuk tidak dapat didekati dengan pendekatan moralistik yang kaku. Sebaliknya, novel ini justru disajikan dengan menggugat dikotomi-dikotomi yang selama ini menjadi pondasi utama sistem nilai masyarakat yaitu seperti suci-najis, tinggi-rendah, serta moral-amoral.
Melalui penggambaran universal para pekerja seks pada lingkup pertunjukkan dangdut semi-urban, novel Telembuk menggambarkan pertanyaan besar tentang siapa sebenarnya yang berhak mendefinisikan kesucian dan kenajisan. Kemudian, apakah nilai-nilai tersebut dianggap benar-benar murni atau hanya konstruksi sosial belaka yang sarat akan kepentingan juga kepura-puraan.
Novel Telembuk sering kali dianggap sebagai novel yang “tidak pantas” karena di dalamnya berisi tulisan-tulisan yang vulgar. Label tersebut dengan sendirinya mencerminkan ketakutan masyarakat akan realitas sosial yang ditelanjangi oleh sastra. Hal tersebut menjadikan novel Telembuk terasa menganggu. Namun disisi lain, novel ini merupakan suatu karya sastra yang berani membongkar kepalsuan nilai-nilai yang selama ini dianggap benar.
Novel ini memaksa para pembaca untuk melihat kenyataan yang selama ini mereka tolak atau dianggap tidak ada dengan kepura-puraan mereka. Oleh karena hal tersebut, sastra dapat dianggap sebagai alat dekonstruksi yang bukan hanya mengacaukan struktur makna, tetapi juga mengguncang kenyamanan berpikir.

Membaca novel Telembuk bukan hanya sekedar membaca sastra yang berisi kisah vulgar dan menabrak batas etika, tetapi juga membaca cara kerja kekuasaan dalam membentuk makna. Membaca novel ini akan membantu para pembaca menyeleksi mana yang dianggap pantas dan mana yang dianggap tidak pantas.
Selain itu, para pembaca juga akan mengetahui bagaimana tubuh seorang perempuan diposisikan dalam lanskap sosial dan budaya. Dalam novel ini, sastra bukan lagi menjadi bacaan yang menenangkan, tetapi menjadi bacaan yang mengguncang, menyadarkan, bahkan hingga menimbulkan rasa bersalah bagi mereka yang selama ini hidup dalam lapisan kepura-puraan nilai.
Novel Telembuk bukan sekedar novel yang menghadirkan dunia gelap para pekerja seks atau telembuk juga panggung dangdut murahan, tetapi merupakan suatu karya yang secara sadar menggugat pondasi nilai sosial yang penuh dikotomi dan kepura-puraan. Melalui pendekatan dekonstruksi, pembaca akan melihat batas-batas nilai menjadi kabur dan problematis. Novel ini menggemakan pesan bahwa kenyataan memang tidak selalu bisa ditampung dalam bingkai nilai yang rapi dan nyaman sebagaimana suatu karya sastra yang sering kali dianggap sebagai medium “tinggi” yang memuat nilai-nilai estetika.
Oleh karena hal tersebut, penting bagi para pembaca untuk membuka diri terhadap karya-karya yang jauh dari kata ideal dalam pandangan masyarakat, tetapi mampu mengungkap dengan jujur kenyataan yang ada dan menyuarakan realitas yang sering disingkirkan.
Sastra bukanlah objek pelarian dari kenyataan, tetapi cermin retak yang justru menunjukkan wajah asli suatu masyarakat dengan segala luka, ironi, dan kebusukannya. Maka, sudah saatnya kita berhenti menggaungkan sastra hanya karena “indah”, dan mulai menghargai sastra karena “jujur”. [T]
Penulis: Cahyu Dita Fadilah
Editor: Adnyana Ole
SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi orang tua Indonesia, terutama yang tumb...
MENGUNJUNGI Desa Pedawa di Kecamatan Banjar, Buleleng, yang terkenal dengan adat dan budaya yang unik, bagi publik akademik di kalangan kampus, bukan hanya untuk tujuan wisata, na...
PERNAHKAH Anda menyadari bahwa hidup kita hari ini perlahan-lahan dikendalikan oleh mantra tiga kode huruf? Dunia modern adalah rimba aksara yang serbacepat. Demi menghemat ene...
“Dini lade Pak Ngurah Rai nginep ajak pasukanne. Likangi ada, dini ada. Kak sing nawang, nak teka peteng. Di kenkenne, semengan ada bedik jumah. Nak, mekaad peteng, teka peteng. K...
Ketika diumumkan lomba dimulai, suasana ruangan mendadak dipenuhi suara riuh, sorak-sorai dan tepuk tangan sebagai dukungan dari penonton, suporter atau rekan satu hotel ataupun s...
JANGAN sepelekan tradisi menganyam. Seniman Bali, I Ketut Putrayasa membawa tradisi anyaman itu mendunia. Ia dipercaya membuat empat patung yang akan dijadikan ikon kampus di Turk...
PEED Aya atau Pawai Budaya dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII tahun 2026 akan hadir dengan wajah baru yang lebih dinamis dan atraktif. Pertunjukan seni berjalan ini...
KEMAJUAN teknologi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi, memperoleh informasi, dan belajar. Dalam hitungan detik, seseorang dapat mengakses berbagai sumber pengetahua...
DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan, bergema meneror kedua...
LANGIT biru di atas pantai dan laut, di daerah Peninsula Island, Nusa Dua, Bali, dipenuhi warna-warni layang-layang yang menari mengikuti hembusan angin laut, Minggu 7 Juni 2026....