Topeng Tugek Carangsari – Memainkan Topeng Mengolah Karakter
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
KARYA sastra seringkali dianggap atau diposisikan sebagai medium “tinggi” yang di dalamnya mengandung unsur-unsur estetika serta moralitas. Dalam pandangan umum serta imajinasi masyarakat tentang sastra sering ali menganggap bahwa karya sastra harus memiliki nilai yang agung, puitis, dan juga mendidik. Hal tersebut seolah menjadikan karya sastra harus selalu berperan sebagai penyampai kebenaran universal atau dijadikan sebagai norma sosial.
Pada ruang-ruang formal seperti dalam pendidikan atau kursus kebudayaan populer, sastra diasosiasikan dengan idealisme dan juga etika. Oleh karena hal tersebut, penyimpangan-penyimpangan yang ada dalam karya sastra dianggap sebagai provokasi bahkan hingga dianggap sebagai penghinaan terhadap martabat kesusasteraan.
Pandangan mengenai karya sastra tersebut dengan mudah digugat ketika membaca novel karya Kedung Darma Romansha yaitu Telembuk: Dangdut dan Kisah Cinta yang Keparat. Novel tersebut secara frontal mengguncang batas-batas nyaman pembaca. Isi dalam novel tersebut menggambarkan dengan rinci mengenai realitas sosial yang vulgar, penuh hasrat, serta menjungkirbalikkan tatanan nilai yang mapan.
Novel Telembuk ini menyoroti kehidupan masyarakat Indramayu, khususnya terkait dengan isu-isu sosial, budaya, serta posisi perempuan. Masalah tersebut diangkat dari realitas sosial di daerah Indramayu yang memperlihatkan bagaimana tatanan ekonomi dan sosial sangat berpengaruh pada keseharian masyarakatnya. Novel ini merepresentasikan enam masalah utama yaitu masalah ekonomi, kenakalan remaja, disorganisasi keluarga, pelanggaran norma, kriminalitas, dan persoalan perempuan.
Novel Telembuk ini mungkin terlihat sebagai karya sastra dengan lanskap subversif dan menganggu. Namun, disitulah inti dari pesan yang ingin disampaikan oleh penulis dalam novel tersebut. Novel ini tidak berupaya untuk “memperbaiki” dunia, tetapi memperlihatkan apa adanya tanpa sensor apapun.
Kedung Darma Romansha sendiri merupakan sastrawan yang lahir di Indramayu dan merupakan alumni jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Yogyakarta serta pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Ia dikenal sebagai seorang sastrawan yang memiliki gaya kepenulisan keras. Tulisan-tulisannya lekat dengan perpaduan antara bahasa sastra yang puitis dengan kenyataan sosial yang getir.
Pada novel Telembuk, penulis membawa pembaca untuk melihat dunia kelas bawah yang sering terpinggirkan dalam wacana sastra arus utama. Ia membongkar konstruksi kultural terkait dengan tubuh, seksualitas, serta hiburan masyarakat dengan gaya yang melawan. Novel ini menantang pembaca untuk meninjau ulang makna dari suatu karya sastra di mana idealnya sastra adalah cermin masyarakat yang dijadikan sebagai alat pembongkaran makna dan kekuasaan.
Jika dipandang dari kerangka pembacaan dekonstruktif ala Jacques Derrida, novel Telembuk tidak dapat didekati dengan pendekatan moralistik yang kaku. Sebaliknya, novel ini justru disajikan dengan menggugat dikotomi-dikotomi yang selama ini menjadi pondasi utama sistem nilai masyarakat yaitu seperti suci-najis, tinggi-rendah, serta moral-amoral.
Melalui penggambaran universal para pekerja seks pada lingkup pertunjukkan dangdut semi-urban, novel Telembuk menggambarkan pertanyaan besar tentang siapa sebenarnya yang berhak mendefinisikan kesucian dan kenajisan. Kemudian, apakah nilai-nilai tersebut dianggap benar-benar murni atau hanya konstruksi sosial belaka yang sarat akan kepentingan juga kepura-puraan.
Novel Telembuk sering kali dianggap sebagai novel yang “tidak pantas” karena di dalamnya berisi tulisan-tulisan yang vulgar. Label tersebut dengan sendirinya mencerminkan ketakutan masyarakat akan realitas sosial yang ditelanjangi oleh sastra. Hal tersebut menjadikan novel Telembuk terasa menganggu. Namun disisi lain, novel ini merupakan suatu karya sastra yang berani membongkar kepalsuan nilai-nilai yang selama ini dianggap benar.
Novel ini memaksa para pembaca untuk melihat kenyataan yang selama ini mereka tolak atau dianggap tidak ada dengan kepura-puraan mereka. Oleh karena hal tersebut, sastra dapat dianggap sebagai alat dekonstruksi yang bukan hanya mengacaukan struktur makna, tetapi juga mengguncang kenyamanan berpikir.

Membaca novel Telembuk bukan hanya sekedar membaca sastra yang berisi kisah vulgar dan menabrak batas etika, tetapi juga membaca cara kerja kekuasaan dalam membentuk makna. Membaca novel ini akan membantu para pembaca menyeleksi mana yang dianggap pantas dan mana yang dianggap tidak pantas.
Selain itu, para pembaca juga akan mengetahui bagaimana tubuh seorang perempuan diposisikan dalam lanskap sosial dan budaya. Dalam novel ini, sastra bukan lagi menjadi bacaan yang menenangkan, tetapi menjadi bacaan yang mengguncang, menyadarkan, bahkan hingga menimbulkan rasa bersalah bagi mereka yang selama ini hidup dalam lapisan kepura-puraan nilai.
Novel Telembuk bukan sekedar novel yang menghadirkan dunia gelap para pekerja seks atau telembuk juga panggung dangdut murahan, tetapi merupakan suatu karya yang secara sadar menggugat pondasi nilai sosial yang penuh dikotomi dan kepura-puraan. Melalui pendekatan dekonstruksi, pembaca akan melihat batas-batas nilai menjadi kabur dan problematis. Novel ini menggemakan pesan bahwa kenyataan memang tidak selalu bisa ditampung dalam bingkai nilai yang rapi dan nyaman sebagaimana suatu karya sastra yang sering kali dianggap sebagai medium “tinggi” yang memuat nilai-nilai estetika.
Oleh karena hal tersebut, penting bagi para pembaca untuk membuka diri terhadap karya-karya yang jauh dari kata ideal dalam pandangan masyarakat, tetapi mampu mengungkap dengan jujur kenyataan yang ada dan menyuarakan realitas yang sering disingkirkan.
Sastra bukanlah objek pelarian dari kenyataan, tetapi cermin retak yang justru menunjukkan wajah asli suatu masyarakat dengan segala luka, ironi, dan kebusukannya. Maka, sudah saatnya kita berhenti menggaungkan sastra hanya karena “indah”, dan mulai menghargai sastra karena “jujur”. [T]
Penulis: Cahyu Dita Fadilah
Editor: Adnyana Ole
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
JIKA di atas meja belajar anda terdapat dua buah benda yaitu gadget dan buku, manakah yang akan anda pilih? Saya percaya, demi sinetron kesukaan ibu-ibu di tivi, kebanyakan dari a...
LAGU anak-anak itu kadang unik, terutama liriknya. Saat Taman Kanak-Kanak dulu kita tidak begitu hirau dan memang tak banyak mengerti arti dan maksud lagunya itu apa. Cuma nyanyi d...
BALI merupakan kepulauan seribu pura yang telah terkenal sejak zaman dahulu. Masyarakat Bali tak lepas dari Tri Hita Karana yang merupakan landasan kehidupan beragama dan beradat....
JIKA benar harga rokok setinggi langit biru, dan jika benar harga tinggi itu bisa menghentikan orang merokok, dan (siapa tahu) nanti benar-benar tak ada yang merokok, bagaimana nas...
PERNAH nyuluh jangkrik? Zaman saya kecil, di desa saya di Jembrana, nyuluh jangkrik (memburu jangrik malam hari) adalah kegemaran saya dan teman sebaya. Jauh-jauh sebelumnya, bapak...
Cerpen: Putri Handayani HAMPIR setiap hari Griya Siwa tidak pernah sepi dari orang-orang yang ngayah1. Mulai dari membuat sarana upakara sampai meracik tirta, semua dilakukan oleh ...
KELAHIRAN istilah 'simakrama' menarik untuk ditelusuri. Awalnya istilah ini yang lebih mengarah pada padanan kata 'silahturahmi', yang mencerminkan keinginan untuk berbicara dan sa...
ADA serombongan remaja sedang berebut peran. Mereka akan menjadi pelakon sandiwara dalam perayaan Agustusan tingkat RT. Peran konglomerat, menteri, dokter, mahasiswa, semua mereka...
GARIS berliku itu menyerupai sungai. Lebar di hulu kemudian menyempit di hilir. Warnanya hijau, biru, dan jingga. Garis berliku serupa sungai itu membelah lukisan menjadi dua bagia...