17 Agustus 2016, Belum Semua Anak Indonesia Merdeka
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
“Hormati kerja mereka dengan tidak membuang sampah ke saluran,
Jangan giliran banjir selalu menyalahkan pemerintah”
(Ridwan Kamil)
Perkembangan kota-kota di Indonesia tidak selalu berjalan sesuai dengan karakter lingkungan sosial budaya masyarakat setempat, sebagaimana yang menjadi potensi dari suatu kota. Beberapa ahli telah menyuarakan bahwa perkembangan kota-kota di Indonesia telah melupakan dan kehilangan jatidiri kota sebagai identitas serta kearifan lingkungan sosial budaya mayarakat setempat.
Menurut Sugiono Soetomo (2013), bahwa hasil proses modernisasi perkotaan menciptakan wajah kota yang sebagian besar tidak tertata dan tidak memiliki identitas kedaerahan. Jejep Fahlul Alam, seorang budayawan dari Majalengka juga menggambarkan bahwa jatidiri suatu kota itu mutlak harus ada, untuk menjadi awal dan pegangan bagi pemerintahan kota dalam melaksanakan pembangunan, saat hari jadi Kota Majalengka (Warta Kiwari Jawa Barat, 7 Juni 2016).
Mengamati karakter dan beberapa ciri khas kota-kota di Jawa sebagian besar telah luntur atau bahkan hilang. Sekitar dua dekade yang lalu (periode 1995-2005), kota-kota di Tanah Air beramai-ramai mendengungkan jargon kotanya masing-masing. Sebutlah Bandung dengan Berhiber, Tasik Bersinar, Semarang Berseri, Yogyakarta Berhati Nyaman dan sebagainya. Pada umumnya, jargon tersebut adalah akronim dari sejumlah kondisi yang diharapkan dapat ditemui di kota tersebut, misal Bandung Bersih, Hijau, Berbunga (Berhiber), Yogyakarta Bersih, Sehat, Indah, Nyaman, Aman (Berhati Nyaman).
Ketika krisis ekonomi melanda dunia pada 1995, berbagai negara mulai menjadikan pariwisata sebagai sumber devisa baru. Maka tren pencitraan kota pun kemudian bergeser menjadi bernuansa lokal-global, seperti Bandung Emerging Creative City, Pekalongan World’s City of Batik, Solo the Spirit of Jawa, Surabaya the Sparkling City dan Yogya dengan Never Ending Asia. Kota Serang Banten dengan semboyan “Kota Serang Madani”.
Kedua tipe tren jargon tersebut sejatinya memiliki tujuan yang sama, yaitu membangun brand (merek) atau identitas kota. Dengan identitas yang dimiliki, diharapkan orang dapat memberikan kesan (citra) positif terhadap kota tersebut, atau dengan kata lain setidaknya mereka sedang melakukan pencitraan kota (city imaging).
Permasalahannya, pencitraan sebuah kota sering terjebak sekedar pada aktivitas yang sifatnya artifisial. Misal sekedar membuat jargon tetapi tidak relevan dengan karakteristik kota atau tidak mengintegrasikan jargon tersebut dengan master plan pembangunan kota, atau prinsip pelayanan kepada masyarakat dan sebagainya.
Salah satu contoh kasus pencitraan kota (city branding) yang masih mencari bentuk dan model dapat ditemukan di kota Bandung. Bandung sebagai kota yang diberi label atau merek seperti kota Eropa yaitu Paris van Java di masa silam, yang kemudian mencanangkan Bandung Bersih Hijau Berbunga sebagai identitas kotanya, justru bermasalah dengan lingkungan. Banjir yang mendera Bandung setiap hujan deras hampir menihilkan upaya pencitraan Bandung sebagai destinasi wisata kreatif dan bahkan sebagai destinasi wisata internasional. Sampah yang hampir dapat dengan mudah ditemukan di sungai-sungai di Bandung seperti tumpukan sampah di aliran sungai Cikapundung dan Soreang yang membelah kota Bandung, beberapa tahun yang lalu.
Dengan semboyan Kota Madani Serang, mencitrakan kota di mana di dalamnya sebuah masyarakat yang beradab yang mengacu pada nilai-nilai kebijakan bersama, dasar masyarakat madani adalah persatuan dan integrasi sosial yang didasarkan pada suatu pedoman hidup, menghindari diri dari konflik dan permusuhan yang menyebabkan perpecahan dan hidup dalam suatu persaudaraan.
Madani memiliki multi makna yaitu sebagai suatu masyarakat demokratis, menjunjung etika dan moralitas, transparans, toleran, berpotensi, aspiratif, bermotivasi, berpartisipasi, konsisten, mengakui emansipasi, dan hak asasi. Dapat dikatakan makna semboyan Kota Serang ini adalah semua hal yang positif tentang sebuah kota dan masyarakatnya dicerminkan, sangat ideal dan menantang kita semua untuk mewujudkannya.
***
Mencari identitas kota memang sebaiknya disarikan dari karakteristik kota itu sendiri, apalagi jika ingin membawa unsur wisata dan secara khusus wisata belanja sebagai ikon kotanya. Sekedar menyebut kotanya sebagai The Beauty of Asia seperti Semarang, namun tidak didukung oleh karakteristik kota yang relevan tentu saja menjadi absurd. Salah satu wilayah di Tanah Air yang identik sebagai ikon pusat belanja selain Jakarta dan Bandung di Jawa adalah Bali.
Bali dikenal sebagai Pulau Dewata, identitas sebagai destinasi wisata budaya sangat kental dengan kehidupan wisata di Bali. Salah satu prinsip hidup yang dijadikan pegangan masyarakat Bali adalah Tri Hita Karana, tiga penyebab terciptanya kebahagiaan, meliputi hubungan dengan sesama manusia, hubungan dengan alam sekitar, dan hubungan dengan Tuhan yang saling terkait satu sama lain, secara harmonis dan seimbang.
Menurut Kavaratzis (2004:66) dalam ilmu komunikasi studi tentang jargon, iklan, humas, dan sejenisnya itu adalah tahapan kedua dari proses pencitraan kota. Tahapan utama adalah justru pada pengelolaan ruang, perilaku, infrastruktur, dan struktur organisasi.
Bagaimana membuat brand Kota Serang yang dapat memberikan kenangan, ketika meninggalkan dan memberikan rasa bangga pada orang yang menetap di dalamnya. Hal tersebut dapat terwujud jika nilai sebuah kota dikemas menjadi brand yang hasilnya bisa memenuhi harapan masyarakatnya, sesuai dengan kondisi kota yang sebenarnya. Bukan penentuan atau pencapaian target seperti apa kota ini di mata publik, tapi lebih kepada apa yang dimiliki kota sehingga publik perlu memberinya citra tertentu terhadap kota Serang. Semoga impian Serang Menjadi Kota Madani dapat kita sama-sama wujudkan. [T]
Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Semalam di tengah gempita dentuman suara sound sistem, saya mengkhayal dibayar 150 juta untuk mengajar 34 jam per minggu, wah pasti kaki saya tidak akan pernah pegal saat berdiri d...
KETIKA mengantar seorang teman untuk membeli sepatu sebagai keperluan bekerja di sebuah instansi pemerintah, kami sempat terlibat obrolan singkat yang pada intinya alas kaki tidak...
BANGKUNG mepalu adaang di Buleleng, jeg pasti rame! Asal gratisss! Iya, babi betina saling sruduk digelar di Buleleng, pasti ramai penontonnya. Apalagi Slank pentas gratisan. Kutik...
MENJELANG Hari Galungan biasanya banyak warga adat menggelar karya gede di Pura. Karya Gede di sebuah Pura merupakan hari yang ditunggu-tunggu warga. Di situ banyak orang akan mema...
ADA semacam mitos yang tampaknya bisa menghantui keluarga Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Buleleng dalam Pilkada, Februari 2017. Yakni, kenyataan bahwa sejak era refor...
AKU adalah ruh sebuah negeri. Negeri nun jauh di sana. Tubuhku bersandar pada pegunungan yang berbaris rapi. Di hadapan mataku terhampar laut utara yang begitu tenang. Mungkin kare...
HALO, kawan sebangsa dan setanah air, sudah makan apa hari ini? Tahu? Tempe? Semoga Tuhan selalu memudahkan rejeki kita, agar tahu dan tempe selalu dapat terbeli. Tahu dan tempe m...
KISAH percintaan memang tak pernah habis jika dibicarakan. Virus-virus cinta dapat tumbuh di mana saja dan kapan saja. Tak seorangpun bisa menduga hal tersebut. Salah satu ajang ya...
I dan Ni oleh banyak orang dianggap title “wong jaba” padahal ini adalah honorific yang generic. I dan Ni adalah honorific. I semacam Mr dan Ni semacam Ms. I dan Ni bukan hanya di...