Setiap kisah selalu mengundang dikenang pun riwayat ini seperti biografi tubuh melayang-layang di ombak-ombak riuh sambil meneriakkan nama-nama.
masa lalu kelak menjadi sulur-sulur merambati bilangan-bilangan dan susuri ramalan-ramalan
percayalah, tak hanya kecewa dan muram sering menyapa atau harapan yang sekejap padam namun, juga ruang-ruang pesta dan musik mempesona dan kita menuang anggur dalam piala lantas berdansa menari seperti kaum sufi mencari teka-teki : mengapa cinta tak dapat diurai dengan cium dan kata-kata?
riwayat adalah biografi tubuh disumpali jejak sedih maupun riang pun gagap dan bodoh berulang gagal menghafal dan mengkhatam kitab
riwayat panjang ini adalah perjalanan musafir tersaruk-saruk dengan cemas memanggul harapan-harapan yang sekejap menjadi berbait-bait puisi
: mencatat semuanya jadi kitab dongeng cinta para darwis yang majnun!
TAKZIAH
Dunia akan tamat, ya, dunia bergegas menuju tamat. Bakal susut melebihi segala keriput. Khayalan-khayalan membadai menuju jalan sorga atau ambang neraka. Mereka, kita, kami pun berjalan oleng seperti pelaut renta yang mabuk disetir syak wasangka.
: Duh, gelap dan badai pekat. Mereka, kami dan kita sesat ke dalam kelam. Menuju ruang-ruang lengang yang hampa. Dari lengang menuju hampa. Dari hampa bolak-balik ke lengang.
Kita, kami dan mereka gontai beku dalam terowong hampa. Lengang yang khianat dan pengap. Kesadaran sampai titik beku. Marah dan putus asa terbakar di pusar api. Semua pergi, beringsut makin dalam ke kelam. Lengang dan hampa di mana-mana, tanpa peta dan rambu-rambu. Mengingsut-ingsut beku menyetubuhi hampa. Para penyair, baik yang salon maupun oposan, politikus-politikus, baik asli dan dadakan, kritikus nyinyir dan jadi-jadian, insiyur, kaisar, raja-raja, segenap tiran, buruh dan saudagar semua antre menuju kelam dengan kitab di tangan. Punggung terbongkok-bongkok.
Kun, gelaplah langit tanpa matahari dan bulan. Segala catatan, daftar menu, buku alamat, buku petunjuk, kitab-kitab wingit terbakar jadi abu dan pelan-pelan disedot debu. Segenap tindakan dan perkataan hilang tujuan. Kita semua, kami semua, mereka semua beringsut oleng menuju bukit-bukit pemakaman sunyi.
PULUNG GANTUNG
(serupa monyet telah kusabda mereka bergantungan tersesat di lorong waktu yang kekal asing)
jangan menyesal! telah kau pilih dengkurmu sendiri bukankah kau lelah meraung dan ratapi rajah tanganmu dan aku datang menyapa tawarkan sebuah kisah baru dunia baru arah baru sebuah kampung tak peduli pada tubuh kampung para pelayat ziarahi tubuh sendiri bergelantungan.
ini bukan khianat atas takdir namun dendam pada nasib kuajari kau merentas rajah di telapak tanganmu kuajari jadi hantu kekalkan riwayat sendiri
kuajari engkau membangun pemberontakan. revolusimu semua mata akan mendongak kelangit pukau pada gairahmu
tak ada lagi yang bisa menafsirmu :hanya engkau sendiri!
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...