Pesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
PEMBACA yang budiman, ada kabar baik. Atau kabar buruk, entahlah. Sekarang kita bisa membuat video yang sangat realistis hanya dengan mengetik prompt. Bisa juga bikin foto keluarga dengan upload foto anggota keluarga kita, tinggal mengetik prompt untuk background, lighting, suasana, kemudian di swap biar persis. Ga usah ke studio. Bahkan ada yang menjanjikan analisa pasar saham dengan tool AI, dan kita tinggal tiduran saja. Atau jika butuh teman, asisten rumah tangga, pelayan toko yang cantik, maka tersedia Sophia, Geminoid HI-4, Erica yang sudah bisa menjanjikan itu.
Banyak sekali kemajuan yang kita alami, yang inilah atau yang itulah. Saya menyebutnya tetek bengek teknologi. Nah, di tengah gegap gempita revolusi kecerdasan buatan, kita sering terlalu sibuk menatap masa depan. Kita jadi lupa melihat siapa yang berdiri di tengah, generasi X. Generasi X adalah mereka yang lahir antara tahun 1965 hingga 1980, berada di antara Baby Boomers dan Millennials.
Kali ini, saya kok ingin mengajak para pembaca yang budiman untuk menengok sejenak ke arah mereka. Mereka bukan digital native, tapi juga bukan imigran digital yang canggung. Mereka adalah jembatan yang hidup, antara dunia yang lambat dan dunia yang serba cepat, antara masa lalu yang penuh analog dan masa depan yang didesain algoritma. Dan hari ini, saat boneka android bisa berempati, dan AI mampu menulis puisi patah hati, generasi ini bukan hanya relevan. Mereka sangat dibutuhkan.
Generasi X, tumbuh dalam dunia yang penuh dengan perubahan. Mereka merasakan memutar kaset dengan bolpoin dan pensil, lalu digantikan CD, lalu MP3, lalu Spotify. Mereka pernah mengirim surat cinta dengan perangko, sebelum akhirnya menjadi pengguna awal email dan chatroom klasik macam mIRC, “asl pls”. Di antara pembaca yang budiman ada yang masih ingat, kan? Mereka belajar mengetik di mesin tik, sebelum akhirnya mengedit dokumen di Google Docs.
Mereka tahu rasanya menunggu hasil cuci foto seminggu penuh dan kecewa karena sebagian terbakar, belajar dari buku dan ensiklopedia, bukan dari YouTube, menelepon pacar pakai telepon rumah sambil deg-degan saat ditanya orangtuanya. Mereka punya sesuatu yang generasi digital native tidak miliki, yaitu ingatan emosional tentang dunia sebelum internet.
Dan justru dari ingatan inilah mereka bisa mengenali apa yang hilang di tengah kemajuan. Keheningan, kesabaran, keterhubungan yang tulus. Ingatan itu bukan sekadar nostalgia; ia adalah kompas moral yang bisa menuntun kita melewati dunia yang makin dingin dan tergesa-gesa. Di zaman ini, ketika semua hal bisa disimulasikan, mereka masih menyimpan rasa yang autentik. Dan itulah aset mereka.
Kita hidup di zaman ketika AI bisa meniru suara manusia, menulis naskah film, bahkan mengambil keputusan medis. Tapi satu hal yang tidak bisa diakselerasi secepat itu adalah moralitas. Nilai-nilai etika tidak bisa di-download atau di-update versi 2.0 begitu saja. Filsuf teknologi seperti Hans Jonas dalam The Imperative of Responsibility sudah mengingatkan sejak 1979, semakin besar kekuatan teknologi, semakin besar tanggung jawab etis yang menyertainya.
Masalahnya, dunia kita terlalu sibuk menciptakan teknologi, tapi lalai menciptakan kerangka moral untuk menampungnya. Padahal kita butuh etika baru yang mempertimbangkan dampak terhadap generasi mendatang dan keberlangsungan kehidupan. Di sinilah Generasi X tampil bukan sebagai pembuat kode, tapi sebagai penyaring atau filter nilai.
Apa yang membuat Generasi X istimewa dalam menghadapi era ini? Mereka adalah kurator nilai, bukan seperti penjaga museum yang kolot, tapi editor yang cermat memilih mana nilai yang bisa dibawa ke masa depan, dan mana yang harus ditinggalkan. Mereka bisa bilang, “Kita boleh hidup berdampingan dengan robot, tapi jangan sampai kita jadi seperti mereka.”
Generasi X punya keseimbangan antara nalar dan rasa. Mereka tidak menolak AI, tapi juga tidak menyerah total pada otomatisasi. Mereka bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan penting yang kadang luput di era serba praktis ini. Jika anak belajar dari ChatGPT, siapa yang mengajarinya empati? Jika robot perawat bisa tersenyum, apakah ia benar-benar peduli? Jika semua hal bisa diprediksi oleh algoritma, di mana tempatnya kehendak bebas manusia? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini penting bukan untuk menghambat teknologi, tapi memblokir efek negatifnya, untuk menyelamatkan sisi manusia kita.
Banyak dari Generasi X kini memegang peran sebagai orang tua, guru, bahkan kakek-nenek. Mereka mengasuh generasi Z dan Alpha, anak-anak yang tidak pernah hidup tanpa layar, sinyal, dan sistem notifikasi. Mereka bisa menjadi narator moral bagi generasi muda. Bukan dengan ceramah panjang, tapi lewat keteladanan dan penghayatan yang mereka miliki.
Gen X mengajarkan pentingnya tatap muka, bukan dicukupkan oleh video call. Mengingatkan bahwa kesabaran tak bisa dilewatkan dengan fast forward, dan menunjukkan bahwa tidak semua masalah dalam hubungan bisa ditangani dengan tombol mute atau block. Dalam dunia yang makin mekanistik, kehadiran mereka menjadi jangkar eksistensial. Mengingatkan kita bahwa hidup bukan hanya tentang efisiensi, kuota, dan produktivitas, tapi juga pengalaman.
Mari kita akui bahwa dunia memang sedang bergerak terlalu cepat. Sementara algoritma memprediksi segala hal dalam kehidupan manusia modern, generasi X tahu caranya hidup tanpa bisa memprediksi apa pun. Mereka belajar sabar, bukan karena aplikasi mindfulness dari Play Store atauApp Store, tapi karena mereka pernah hidup di jaman yang menuntut hal itu. Aplikasi yang sudah terinstal dalam jiwa mereka secara alami. Dan itulah mengapa mereka penting.
Mereka bukan sekadar saksi sejarah. Mereka adalah pelaku, penjaga, dan penerjemah nilai, dari dunia lama ke dunia baru. Mereka tahu bahwa moralitas tidak muncul dari barcode, melainkan dari pengalaman, empati, dan refleksi.
Dalam era pasca-manusia yang digelisahkan oleh para pemikir futuristik seperti Yuval Noah Harari, ketika manusia dan mesin mulai kabur batasnya, ketika AI bisa unggul dalam pengambilan keputusan tanpa merasa, ketika kesadaran mungkin akan dikalahkan oleh kecerdasan. Di sini generasi X berdiri sebagai orang tua, untuk senantiasa mengingatkan, bahwa menjadi manusia bukan soal kemampuan berpikir, tapi kemampuan merasakan.
Di tengah euforia digitalisasi total, kita tidak bisa meninggalkan mereka. Justru, keterlibatan mereka sangat penting. Mereka punya kapasitas sebagai mentor etika digital, sehingga pas rasanya jika mengundang mereka ke forum-forum kebijakan AI. Beri ruang bagi mereka menjadi pendidik dan penulis masa depan. Karena tanpa generasi X ini, kita mungkin akan menciptakan masa depan yang canggih, tapi dingin. Tanpa rasa. Tanpa jiwa.
Dan manusia tanpa jiwa dan rasa, hanyalah makhluk hidup yang hilir mudik dengan kulit daging, beban peradaban baru yang pantas disingkirkan karena kalah efisien dengan robot AI. Akhir kata, generasi X bukan generasi transisi. Mereka adalah generasi transformasi. Dan di tengah zaman ketika semua hal bisa dipalsukan dengan ketikan prompt yang tepat, mereka mungkin adalah hal paling autentik yang tersisa. Tabik. [T]
Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole
BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apakah yang paling membanggakan dari makhluk yang bernama manusia? “Kreativitas.” Itulah jawabnya. Manusia menjadi “lebih” ketimbang binatang karena memiliki ruang yang sangat luas...
Sebagai orang yang tidak berkompeten dalam bidang bahasa Bali, mungkin saya akan tulah idup karena apa yang akan saya paparkan barangkali banyak bohongnya. Saya bukan orang yang la...
Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya - segalany...
FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan...
KEMISKINAN, di Bali, bisa berarti sebuah upacara. Warga Desa Trunyan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, sebelum berperilaku menjadi manusia miskin melakukan ritus kecil: membakar...
JIKA hobi facebook-an, singgahlah sesekali ke halaman Punk Kwala Ngibur. Bisa kita nikmati komik berbahasa Bali dari tingkat paling kepara sampai sor se-singgih-singgihnya. Tulisan...
MUNGKIN saya sudah terlambat menguraikan hal ini. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Namun dalam konteks ini, saya meyakini bahwa leb...
Bahasa menunjukkan bangsa. Itu peribahasa yang akrab saya dengar di Sekolah Dasar dulu yang bertahun-tahun kemudian saya amini kebenarannya. Kultur sebuah bangsa, seturut makna per...
Judul Buku : Badriyah Pengarang : Ayu Weda Penerbit : Gambang Buku Budaya Tahun Terbit : Maret 2016 Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman ISBN : 978-602-6776-15-0 SELURUH cerita dala...