“Jesus Bless You” – Tentang Saya dan Agama
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
SALAH satu hal yang sulit diprediksi dalam industri pariwisata adalah perilaku wisatawan. Selalu saja terjadi perubahan pada perilaku orang dalam berwisata. Perubahan bisa terjadi pada moda transportasi, preferensi pilihan destinasi, akomodasi, dan sebagainya.
Dunia pariwisata sempat diwarnai dengan fenomena FOMO ( Fear Of Missing Out). Orang merasa takut dianggap ketinggalan zaman jika tidak mengunjungi satu destinasi wisata yang sedang viral. Peran media sosial sangat mempengaruhi FOMO dalam pariwisata. Semakin viral objek wisata di media sosial, semakin banyak diburu wisatawan.
Fenomena FOMO dalam berwisata didukung pula oleh gaya hidup YOLO (You Only Live Once) yang melanda generasi milenial dan generasi Z. Gaya hidup ini lebih berorientasi pada mengejar pengalaman dan kesenangan saat ini tanpa memikirkan jangka panjang.
Berwisata sempat menjadi semacam kebutuhan primer bagi kalangan muda. Prinsipnya, hidup hanya sekali. Maka selagi masih hidup, berwisata menjadi wajib dilakukan. Orang menjadi tak peduli jika terpaksa harus berhutang untuk berwisata.
Seiring dengan perjalanan waktu, gaya hidup FOMO dan YOLO ternyata menjadikan beban hidup kaum muda semakin berat. Terjadi perubahan gaya hidup yang lebih realistis, yaitu YONO (You Only Need One). Gaya hidup minimalis ini merupakan antitesis dari YOLO. Orang mulai berpikir pentingnya keberlanjutan dalam hidup, lebih fungsional dan berkualitas.
Orang melakukan perjalanan wisata bukan lagi karena viralitas objek wisata, tetapi lebih karena pertimbangan kondisi objektif keuangan. Frugal living sebagai gaya hidup hemat menjadi faktor bagi orang untuk menentukan perjalanan wisatanya.
Berwisata kini bagi sebagian orang bukan lagi soal kemewahan dan gaya hidup. Muncul kemudian konsep micro tourism dalam aktivitas pariwisata. Micro tourism merupakan konsep berwisata lokal yang lebih mengutamakan destinasi wisata terdekat dengan biaya perjalanan yang serendah mungkin. Tak heran jika konsep berwisata ini menjadi alasan bagi kaum milenial dan Z untuk berwisata dengan prinsip efisiensi.
Faktor Pendukung
Micro tourism tidak mengharuskan orang mengunjungi objek wisata yang populer. Tidak harus menempuh perjalanan jauh untuk menikmati objek wisata. Tidak harus menikmati wahana wisata yang seru. Tidak pula harus merasakan sensasi kuliner yang mahal. Cukup berwisata ke destinasi yang biasa-biasa saja, sepanjang anggaran mencukupi.
Banyak faktor yang mendukung tumbuhnya micro tourism ini. Faktor ekonomi memang menjadi salah satu alasan yang paling kuat. Saat ini masyarakat sedang dihadapkan pada masalah ekonomi yang sulit. Kebijakan efisiensi anggaran bukan hanya berdampak pada instansi pemerintah, tetapi juga swasta.
Kelompok milenial yang bekerja terdampak oleh kebijakan efisiensi anggaran. Mereka tidak lagi leluasa mengunjungi destinasi wisata yang jauh. Perjalanan dinas dipangkas, lama tinggal di destinasi juga berkurang. Sementara generasi Z yang sebagian masih bergantung pada orang tua juga tak lagi menjadikan berwisata sebagai gaya hidup kekinian. Andai pun mereka bepergian, akan menyasar objek wisata yang dekat dengan anggaran yang hemat.
Pembangunan infrastruktur di daerah ikut menjadi faktor pendukung micro tourism. Daerah yang sudah memiliki aksesibilitas baik akan memacu mobilitas orang untuk berwisata di daerah sendiri. Apalagi kini banyak daerah yang mengembangkan objek dan daya tarik wisata baru, sehingga membuat banyak pilihan berwisata di daerah.
Kemacetan di destinasi wisata populer menjadi alasan lain bagi orang untuk berwisata ke objek wisata yang dekat, sepi, dan murah. Secara ideal, mereka yang melakukan micro tourism adalah wisatawan yang juga jenuh pada destinasi favorit yang mulai terjadi kerusakan lingkungan. Mengunjungi objek wisata yang baru dan masih natural menjadi alternatif dalam micro tourism.
Perilaku wisatawan yang berubah dapat berdampak positif maupun negatif. Bagi mereka yang menggeluti bisnis akomodasi, perubahan efisiensi pengeluaran wisatawan dalam menginap tentu saja merugikan, utamanya pada hotel berbintang. Namun arah perubahan perilaku wisatawan dalam hal akomodasi akan sangat menguntungkan bagi pengelola homestay maupun rumah penginapan.
Kondisi tersebut kadang memunculkan kasus baru dalam bisnis akomodasi, seperti terjadi di Bali misalnya. Dengan alasan menghemat biaya perjalanan wisata, orang akan mencari penginapan atau tempat kost murah yang dapat ditinggali selama beberapa hari. Menginap di hotel untuk jangka waktu yang lama tentu memakan biaya tinggi.
Hanya saja, muncul kemudian problematik perizinan berkaitan dengan bisnis pariwisata. Di satu sisi perubahan perilaku wisatawan menguntungkan pemilik homestay dan tempat kost, di lain sisi pemerintah daerah kehilangan pajak pendapatan dari sektor akomodasi. Wisatawan tentunya tidak dapat disalahkan, karena mereka berwisata dengan prinsip efisiensi.
Arah perubahan berwisata juga terjadi pada moda transportasi, terutama pada wisatawan dalam strata ekonomi menengah ke bawah. Sarana transportasi yang murah meriah akan menjadi pilihan. Menuju destinasi wisata cukup menggunakan kereta api kelas ekonomi maupun transportasi umum yang murah. Untuk rombongan keluarga kecil, transportasi kendaraan pribadi menjadi solusi.
Perubahan perilaku wisatawan dalam micro tourism tak luput menyasar pada pilihan objek wisata yang akan dikunjungi. Objek wisata yang dekat dengan tempat tinggal dan objek wisata yang murah menjadi alternatif. Orang tidak lagi tergiur pada objek wisata yang ramai dikunjungi wisatawan jika ternyata jarak tempuh cukup jauh dan harus mengeluarkan biaya banyak.
Objek wisata yang dekat dengan pemandangan alam yang masih belum terkontaminasi oleh wahana permainan dan baliho iklan produk lebih diminati. Wisatawan cukup menikmati kuliner khas daerah dengan harga yang sangat terjangkau. Justru sensasi kuliner tradisional ini yang kini kembali diminati wisatawan.
Dengan mengunjungi objek wisata yang dekat, wisatawan tidak perlu menginap di hotel. Andaikan menginap, cukup satu malam. Tidak heran jika muncul keluhan dari pengusaha bisnis perhotelan di daerah. Pariwisata bergeliat, jumlah hotel meningkat, kunjungan wisatawan juga melesat; namun tingkat hunian hotel menurun.
Micro tourism dapat menjadi antitesis pengembangan pariwisata yang kapitalistik. Pariwisata yang mengeksploitasi alam dengan target kunjungan sebanyak-banyaknya. Micro tourism secara nyata berkontribusi pada ekonomi masyarakat lokal. Bahagia memang sederhana, cukup berwisata di tempat yang dekat dengan anggaran seadanya. [T]
Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole
BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
ADA semacam protes di media sosial, kenapa wayang wong, sebagai kesenian klasik adiluhung yang baru saja ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda, justru dipe...
SEPAK bola kampung kini hanya fosil ingatan. Mungkin karena kampung selalu dirundung revolusi yang dialirkan zaman. Sawah-sawah, bahkan kebun yang dulu menjadi arena laga sepak bol...
KINI sudah masuk tahun ajaran baru. Sejumlah kampus sudah bersiap-siap menghadapi mahasiswa baru. Tentu, semua tahu, hari-hari pertama mahasiswa baru disibukkan dengan orientasi ka...
BEGITU puluhan penari memasuki panggung di depan Tugu Singa Ambara Raja, sore menjelang senja di Singaraja terasa lebih berwarna dari biasanya. Warna-warna itu bukan hanya memancar...
Judul Buku: Sayap Anjing (Kumpulan Cerpen) # Penulis: Triyanto Triwikromo #Halaman: 144 pages # Penerbit: Buku Kompas # Tahun: 2003 # ISBN: 9797090914 (ISBN13: 9789797090913) /...
BULELENG Festival (Bulfest) dibuka 2 Agustus ini dan akan berlangsung 6 Agustus 2016. Ini Bulfest keempatkali sejak digelar pertamakali, Agustus 2013. Di Bali, Bulfest memiliki gem...
Ini pengalaman ketika saya mengajar di sebuah sekolah dasar di Alor, NTT, sebagai guru dalam program SM3T (Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal). SEPERTI b...
MISI belum tuntas! Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan terus bikin kegiatan. Setelah terlaksananya acara Festival Puisi Bangkalan, 20-21 Mei 2016, kini tengah bersiap-siap mengge...
SIAPA saja yang suka memuji dan mengagung-agungkan Bali, pasti bertemu subak. Mereka yang berniat mengikuti alur jejak watak manusia Bali, seyogyanya juga mengakrabi subak. Bagaima...