17 Agustus 2016, Belum Semua Anak Indonesia Merdeka
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
SALAH satu hal yang sulit diprediksi dalam industri pariwisata adalah perilaku wisatawan. Selalu saja terjadi perubahan pada perilaku orang dalam berwisata. Perubahan bisa terjadi pada moda transportasi, preferensi pilihan destinasi, akomodasi, dan sebagainya.
Dunia pariwisata sempat diwarnai dengan fenomena FOMO ( Fear Of Missing Out). Orang merasa takut dianggap ketinggalan zaman jika tidak mengunjungi satu destinasi wisata yang sedang viral. Peran media sosial sangat mempengaruhi FOMO dalam pariwisata. Semakin viral objek wisata di media sosial, semakin banyak diburu wisatawan.
Fenomena FOMO dalam berwisata didukung pula oleh gaya hidup YOLO (You Only Live Once) yang melanda generasi milenial dan generasi Z. Gaya hidup ini lebih berorientasi pada mengejar pengalaman dan kesenangan saat ini tanpa memikirkan jangka panjang.
Berwisata sempat menjadi semacam kebutuhan primer bagi kalangan muda. Prinsipnya, hidup hanya sekali. Maka selagi masih hidup, berwisata menjadi wajib dilakukan. Orang menjadi tak peduli jika terpaksa harus berhutang untuk berwisata.
Seiring dengan perjalanan waktu, gaya hidup FOMO dan YOLO ternyata menjadikan beban hidup kaum muda semakin berat. Terjadi perubahan gaya hidup yang lebih realistis, yaitu YONO (You Only Need One). Gaya hidup minimalis ini merupakan antitesis dari YOLO. Orang mulai berpikir pentingnya keberlanjutan dalam hidup, lebih fungsional dan berkualitas.
Orang melakukan perjalanan wisata bukan lagi karena viralitas objek wisata, tetapi lebih karena pertimbangan kondisi objektif keuangan. Frugal living sebagai gaya hidup hemat menjadi faktor bagi orang untuk menentukan perjalanan wisatanya.
Berwisata kini bagi sebagian orang bukan lagi soal kemewahan dan gaya hidup. Muncul kemudian konsep micro tourism dalam aktivitas pariwisata. Micro tourism merupakan konsep berwisata lokal yang lebih mengutamakan destinasi wisata terdekat dengan biaya perjalanan yang serendah mungkin. Tak heran jika konsep berwisata ini menjadi alasan bagi kaum milenial dan Z untuk berwisata dengan prinsip efisiensi.
Faktor Pendukung
Micro tourism tidak mengharuskan orang mengunjungi objek wisata yang populer. Tidak harus menempuh perjalanan jauh untuk menikmati objek wisata. Tidak harus menikmati wahana wisata yang seru. Tidak pula harus merasakan sensasi kuliner yang mahal. Cukup berwisata ke destinasi yang biasa-biasa saja, sepanjang anggaran mencukupi.
Banyak faktor yang mendukung tumbuhnya micro tourism ini. Faktor ekonomi memang menjadi salah satu alasan yang paling kuat. Saat ini masyarakat sedang dihadapkan pada masalah ekonomi yang sulit. Kebijakan efisiensi anggaran bukan hanya berdampak pada instansi pemerintah, tetapi juga swasta.
Kelompok milenial yang bekerja terdampak oleh kebijakan efisiensi anggaran. Mereka tidak lagi leluasa mengunjungi destinasi wisata yang jauh. Perjalanan dinas dipangkas, lama tinggal di destinasi juga berkurang. Sementara generasi Z yang sebagian masih bergantung pada orang tua juga tak lagi menjadikan berwisata sebagai gaya hidup kekinian. Andai pun mereka bepergian, akan menyasar objek wisata yang dekat dengan anggaran yang hemat.
Pembangunan infrastruktur di daerah ikut menjadi faktor pendukung micro tourism. Daerah yang sudah memiliki aksesibilitas baik akan memacu mobilitas orang untuk berwisata di daerah sendiri. Apalagi kini banyak daerah yang mengembangkan objek dan daya tarik wisata baru, sehingga membuat banyak pilihan berwisata di daerah.
Kemacetan di destinasi wisata populer menjadi alasan lain bagi orang untuk berwisata ke objek wisata yang dekat, sepi, dan murah. Secara ideal, mereka yang melakukan micro tourism adalah wisatawan yang juga jenuh pada destinasi favorit yang mulai terjadi kerusakan lingkungan. Mengunjungi objek wisata yang baru dan masih natural menjadi alternatif dalam micro tourism.
Perilaku wisatawan yang berubah dapat berdampak positif maupun negatif. Bagi mereka yang menggeluti bisnis akomodasi, perubahan efisiensi pengeluaran wisatawan dalam menginap tentu saja merugikan, utamanya pada hotel berbintang. Namun arah perubahan perilaku wisatawan dalam hal akomodasi akan sangat menguntungkan bagi pengelola homestay maupun rumah penginapan.
Kondisi tersebut kadang memunculkan kasus baru dalam bisnis akomodasi, seperti terjadi di Bali misalnya. Dengan alasan menghemat biaya perjalanan wisata, orang akan mencari penginapan atau tempat kost murah yang dapat ditinggali selama beberapa hari. Menginap di hotel untuk jangka waktu yang lama tentu memakan biaya tinggi.
Hanya saja, muncul kemudian problematik perizinan berkaitan dengan bisnis pariwisata. Di satu sisi perubahan perilaku wisatawan menguntungkan pemilik homestay dan tempat kost, di lain sisi pemerintah daerah kehilangan pajak pendapatan dari sektor akomodasi. Wisatawan tentunya tidak dapat disalahkan, karena mereka berwisata dengan prinsip efisiensi.
Arah perubahan berwisata juga terjadi pada moda transportasi, terutama pada wisatawan dalam strata ekonomi menengah ke bawah. Sarana transportasi yang murah meriah akan menjadi pilihan. Menuju destinasi wisata cukup menggunakan kereta api kelas ekonomi maupun transportasi umum yang murah. Untuk rombongan keluarga kecil, transportasi kendaraan pribadi menjadi solusi.
Perubahan perilaku wisatawan dalam micro tourism tak luput menyasar pada pilihan objek wisata yang akan dikunjungi. Objek wisata yang dekat dengan tempat tinggal dan objek wisata yang murah menjadi alternatif. Orang tidak lagi tergiur pada objek wisata yang ramai dikunjungi wisatawan jika ternyata jarak tempuh cukup jauh dan harus mengeluarkan biaya banyak.
Objek wisata yang dekat dengan pemandangan alam yang masih belum terkontaminasi oleh wahana permainan dan baliho iklan produk lebih diminati. Wisatawan cukup menikmati kuliner khas daerah dengan harga yang sangat terjangkau. Justru sensasi kuliner tradisional ini yang kini kembali diminati wisatawan.
Dengan mengunjungi objek wisata yang dekat, wisatawan tidak perlu menginap di hotel. Andaikan menginap, cukup satu malam. Tidak heran jika muncul keluhan dari pengusaha bisnis perhotelan di daerah. Pariwisata bergeliat, jumlah hotel meningkat, kunjungan wisatawan juga melesat; namun tingkat hunian hotel menurun.
Micro tourism dapat menjadi antitesis pengembangan pariwisata yang kapitalistik. Pariwisata yang mengeksploitasi alam dengan target kunjungan sebanyak-banyaknya. Micro tourism secara nyata berkontribusi pada ekonomi masyarakat lokal. Bahagia memang sederhana, cukup berwisata di tempat yang dekat dengan anggaran seadanya. [T]
Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole
BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Semalam di tengah gempita dentuman suara sound sistem, saya mengkhayal dibayar 150 juta untuk mengajar 34 jam per minggu, wah pasti kaki saya tidak akan pernah pegal saat berdiri d...
KETIKA mengantar seorang teman untuk membeli sepatu sebagai keperluan bekerja di sebuah instansi pemerintah, kami sempat terlibat obrolan singkat yang pada intinya alas kaki tidak...
BANGKUNG mepalu adaang di Buleleng, jeg pasti rame! Asal gratisss! Iya, babi betina saling sruduk digelar di Buleleng, pasti ramai penontonnya. Apalagi Slank pentas gratisan. Kutik...
MENJELANG Hari Galungan biasanya banyak warga adat menggelar karya gede di Pura. Karya Gede di sebuah Pura merupakan hari yang ditunggu-tunggu warga. Di situ banyak orang akan mema...
ADA semacam mitos yang tampaknya bisa menghantui keluarga Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Buleleng dalam Pilkada, Februari 2017. Yakni, kenyataan bahwa sejak era refor...
AKU adalah ruh sebuah negeri. Negeri nun jauh di sana. Tubuhku bersandar pada pegunungan yang berbaris rapi. Di hadapan mataku terhampar laut utara yang begitu tenang. Mungkin kare...
HALO, kawan sebangsa dan setanah air, sudah makan apa hari ini? Tahu? Tempe? Semoga Tuhan selalu memudahkan rejeki kita, agar tahu dan tempe selalu dapat terbeli. Tahu dan tempe m...
KISAH percintaan memang tak pernah habis jika dibicarakan. Virus-virus cinta dapat tumbuh di mana saja dan kapan saja. Tak seorangpun bisa menduga hal tersebut. Salah satu ajang ya...
I dan Ni oleh banyak orang dianggap title “wong jaba” padahal ini adalah honorific yang generic. I dan Ni adalah honorific. I semacam Mr dan Ni semacam Ms. I dan Ni bukan hanya di...