Michel Platini Menuai Karma di Stade de France
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
LIBUR sekolah selalu menjadi momen dinanti anak-anak. Tapi bagi banyak orang tua, liburan justru menjadi tantangan: anak di rumah seharian, orang tua tetap kerja, dan ujung-ujungnya anak larut dalam gadget tanpa arah.
Pertanyaannya: bagaimana sebaiknya kita mengisi liburan anak? Apakah liburan hanya soal bersenang-senang, atau bisa menjadi momen pembelajaran yang menyenangkan?
Di Finlandia, liburan bukan berarti berhenti belajar. Pemerintah, sekolah, dan komunitas bekerja sama menyelenggarakan Nature Schools—program edukatif luar ruang di mana anak-anak belajar langsung dari alam. Kegiatan ini gratis, seru, dan mendidik.
Di Denmark, ada Holiday Clubs, yaitu klub liburan yang disubsidi negara. Anak-anak bisa ikut kelas seni, olahraga, eksplorasi alam, atau eksperimen sains. Ini adalah bentuk liburan yang tidak hanya menghibur, tapi juga memperkuat karakter dan keterampilan sosial anak.
Kuncinya adalah kolaborasi antara negara, masyarakat, dan keluarga. Liburan diperlakukan bukan sebagai waktu kosong, tapi sebagai investasi sosial dan emosional bagi masa depan anak-anak.
Kabar baiknya, Indonesia juga punya contoh positif. Beberapa di antaranya:
Program-program ini lahir dari inisiatif lokal, dan bisa diperkuat jika didukung secara sistematis oleh pemerintah daerah.
Sebagai daerah dengan kekayaan budaya dan alam luar biasa, Bali punya potensi besar untuk menjadi pionir liburan edukatif berbasis komunitas. Beberapa ide solutif dan suportif yang bisa diterapkan:
Semua ini akan berhasil jika ada kemauan bersama: pemerintah sebagai fasilitator, masyarakat sebagai penggerak, dan orang tua sebagai pendukung utama.
Liburan adalah kesempatan emas untuk membangun karakter anak—tanpa harus mahal, tanpa harus jauh. Finlandia dan Denmark sudah membuktikan bahwa negara, orang tua, dan komunitas bisa bekerja sama untuk menciptakan liburan yang mendidik dan membahagiakan.
Kini giliran kita di Indonesia—terutama di Bali—untuk menyadari bahwa liburan bukan hanya tentang pergi ke tempat wisata, tapi juga tentang membangun ekosistem tumbuh kembang anak yang lebih bermakna.
Karena sejatinya, masa depan Bali tak hanya ada pada pariwisata, tapi pada anak-anak yang bahagia, berpengetahuan, dan bangga akan akar budayanya. [T]
Penulis: Dewa Rhadea
Editor: Adnyana Ole
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
MASIH ingat dulu orang tua kita sering menasehati dan melarang agar tidak duduk di bantal yang ada di tempat tidur. Jika hal itu dilakukan konon bisa membuat bisulan atau dalam ba...
Judul Film: Petani Terakhir # Sutradara: Dwitra J. Ariana # Produser: Maria Ekaristi & Agung Bawantara # Produksi: Sanggar Siap Selem, 2016. PERMASALAHAN kehidupan petani di In...
DI Bali, selama berabad-abad, seni-seni yang berakar pada tradisi, terus lahir. Dan tentu saja sangat beragam. Jaman dulu seni tak hanya lahir dari tangan seniman karawitan seperti...
Pelawak drama gong, I Wayan Tarma (62) yang terkenal dengan nama Dolar, meninggal Sabtu (9/7) sekitar pukul 05.30 Wita. Ia meninggal ketika seni drama gong yang melambungkan namany...
DNA literasi berbangsa terbentuk sungguh unik sejak dulu kala. Nenek moyang bangsa Indonesia merupakan penutur andal di dunia. Ini dibuktikan dengan adanya beragam cerita rakyat da...
TRADISI adalah perayaan kebersamaan. Juga di Bali. Untuk menjaga kebersamaan nyama Bali mempertahankan sekaligus tetap merayakan tradisi di era digital ini. Sebut saja tradisi magi...
GELIAT seni di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur, kembali semarak. Di bulan ramadhan ini gaung kegiatannya sampai merambah ke Desa Arosbaya. Seperti yang terjadi Minggu (3/7). Se...
PERADABAN dunia mengenal sedikit orang hebat. Einstein, Newton, Galileo, adalah manusia-manusia hebat, seperti juga Napoleon, Socrates, Machiavelli, Karl Marx, Adam Smith, Shakespe...
UNGKAPAN “apalah artinya sebuah nama”, bagi saya memiliki makna kebalikannya. Dalam realitas budaya dan adat, nama memiliki banyak arti dan makna, mulai dari yang sederhana hingg...