Topeng Tugek Carangsari – Memainkan Topeng Mengolah Karakter
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
LIBUR sekolah selalu menjadi momen dinanti anak-anak. Tapi bagi banyak orang tua, liburan justru menjadi tantangan: anak di rumah seharian, orang tua tetap kerja, dan ujung-ujungnya anak larut dalam gadget tanpa arah.
Pertanyaannya: bagaimana sebaiknya kita mengisi liburan anak? Apakah liburan hanya soal bersenang-senang, atau bisa menjadi momen pembelajaran yang menyenangkan?
Di Finlandia, liburan bukan berarti berhenti belajar. Pemerintah, sekolah, dan komunitas bekerja sama menyelenggarakan Nature Schools—program edukatif luar ruang di mana anak-anak belajar langsung dari alam. Kegiatan ini gratis, seru, dan mendidik.
Di Denmark, ada Holiday Clubs, yaitu klub liburan yang disubsidi negara. Anak-anak bisa ikut kelas seni, olahraga, eksplorasi alam, atau eksperimen sains. Ini adalah bentuk liburan yang tidak hanya menghibur, tapi juga memperkuat karakter dan keterampilan sosial anak.
Kuncinya adalah kolaborasi antara negara, masyarakat, dan keluarga. Liburan diperlakukan bukan sebagai waktu kosong, tapi sebagai investasi sosial dan emosional bagi masa depan anak-anak.
Kabar baiknya, Indonesia juga punya contoh positif. Beberapa di antaranya:
Program-program ini lahir dari inisiatif lokal, dan bisa diperkuat jika didukung secara sistematis oleh pemerintah daerah.
Sebagai daerah dengan kekayaan budaya dan alam luar biasa, Bali punya potensi besar untuk menjadi pionir liburan edukatif berbasis komunitas. Beberapa ide solutif dan suportif yang bisa diterapkan:
Semua ini akan berhasil jika ada kemauan bersama: pemerintah sebagai fasilitator, masyarakat sebagai penggerak, dan orang tua sebagai pendukung utama.
Liburan adalah kesempatan emas untuk membangun karakter anak—tanpa harus mahal, tanpa harus jauh. Finlandia dan Denmark sudah membuktikan bahwa negara, orang tua, dan komunitas bisa bekerja sama untuk menciptakan liburan yang mendidik dan membahagiakan.
Kini giliran kita di Indonesia—terutama di Bali—untuk menyadari bahwa liburan bukan hanya tentang pergi ke tempat wisata, tapi juga tentang membangun ekosistem tumbuh kembang anak yang lebih bermakna.
Karena sejatinya, masa depan Bali tak hanya ada pada pariwisata, tapi pada anak-anak yang bahagia, berpengetahuan, dan bangga akan akar budayanya. [T]
Penulis: Dewa Rhadea
Editor: Adnyana Ole
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
JIKA di atas meja belajar anda terdapat dua buah benda yaitu gadget dan buku, manakah yang akan anda pilih? Saya percaya, demi sinetron kesukaan ibu-ibu di tivi, kebanyakan dari a...
LAGU anak-anak itu kadang unik, terutama liriknya. Saat Taman Kanak-Kanak dulu kita tidak begitu hirau dan memang tak banyak mengerti arti dan maksud lagunya itu apa. Cuma nyanyi d...
BALI merupakan kepulauan seribu pura yang telah terkenal sejak zaman dahulu. Masyarakat Bali tak lepas dari Tri Hita Karana yang merupakan landasan kehidupan beragama dan beradat....
JIKA benar harga rokok setinggi langit biru, dan jika benar harga tinggi itu bisa menghentikan orang merokok, dan (siapa tahu) nanti benar-benar tak ada yang merokok, bagaimana nas...
PERNAH nyuluh jangkrik? Zaman saya kecil, di desa saya di Jembrana, nyuluh jangkrik (memburu jangrik malam hari) adalah kegemaran saya dan teman sebaya. Jauh-jauh sebelumnya, bapak...
Cerpen: Putri Handayani HAMPIR setiap hari Griya Siwa tidak pernah sepi dari orang-orang yang ngayah1. Mulai dari membuat sarana upakara sampai meracik tirta, semua dilakukan oleh ...
KELAHIRAN istilah 'simakrama' menarik untuk ditelusuri. Awalnya istilah ini yang lebih mengarah pada padanan kata 'silahturahmi', yang mencerminkan keinginan untuk berbicara dan sa...
ADA serombongan remaja sedang berebut peran. Mereka akan menjadi pelakon sandiwara dalam perayaan Agustusan tingkat RT. Peran konglomerat, menteri, dokter, mahasiswa, semua mereka...
GARIS berliku itu menyerupai sungai. Lebar di hulu kemudian menyempit di hilir. Warnanya hijau, biru, dan jingga. Garis berliku serupa sungai itu membelah lukisan menjadi dua bagia...