Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
LIBUR sekolah selalu menjadi momen dinanti anak-anak. Tapi bagi banyak orang tua, liburan justru menjadi tantangan: anak di rumah seharian, orang tua tetap kerja, dan ujung-ujungnya anak larut dalam gadget tanpa arah.
Pertanyaannya: bagaimana sebaiknya kita mengisi liburan anak? Apakah liburan hanya soal bersenang-senang, atau bisa menjadi momen pembelajaran yang menyenangkan?
Di Finlandia, liburan bukan berarti berhenti belajar. Pemerintah, sekolah, dan komunitas bekerja sama menyelenggarakan Nature Schools—program edukatif luar ruang di mana anak-anak belajar langsung dari alam. Kegiatan ini gratis, seru, dan mendidik.
Di Denmark, ada Holiday Clubs, yaitu klub liburan yang disubsidi negara. Anak-anak bisa ikut kelas seni, olahraga, eksplorasi alam, atau eksperimen sains. Ini adalah bentuk liburan yang tidak hanya menghibur, tapi juga memperkuat karakter dan keterampilan sosial anak.
Kuncinya adalah kolaborasi antara negara, masyarakat, dan keluarga. Liburan diperlakukan bukan sebagai waktu kosong, tapi sebagai investasi sosial dan emosional bagi masa depan anak-anak.
Kabar baiknya, Indonesia juga punya contoh positif. Beberapa di antaranya:
Program-program ini lahir dari inisiatif lokal, dan bisa diperkuat jika didukung secara sistematis oleh pemerintah daerah.
Sebagai daerah dengan kekayaan budaya dan alam luar biasa, Bali punya potensi besar untuk menjadi pionir liburan edukatif berbasis komunitas. Beberapa ide solutif dan suportif yang bisa diterapkan:
Semua ini akan berhasil jika ada kemauan bersama: pemerintah sebagai fasilitator, masyarakat sebagai penggerak, dan orang tua sebagai pendukung utama.
Liburan adalah kesempatan emas untuk membangun karakter anak—tanpa harus mahal, tanpa harus jauh. Finlandia dan Denmark sudah membuktikan bahwa negara, orang tua, dan komunitas bisa bekerja sama untuk menciptakan liburan yang mendidik dan membahagiakan.
Kini giliran kita di Indonesia—terutama di Bali—untuk menyadari bahwa liburan bukan hanya tentang pergi ke tempat wisata, tapi juga tentang membangun ekosistem tumbuh kembang anak yang lebih bermakna.
Karena sejatinya, masa depan Bali tak hanya ada pada pariwisata, tapi pada anak-anak yang bahagia, berpengetahuan, dan bangga akan akar budayanya. [T]
Penulis: Dewa Rhadea
Editor: Adnyana Ole
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...