DI ruang kelas LPK Hishou Tejakula, seorang remaja berdiri dengan seulas senyum, Gede Bayu Pratama, siswa kelas 7 dari SMPN 2 Tejakula. Di tangannya, ia memegang buku berisi tulisan pendek tentang kenangan masa kecilnya. Bukan tentang taman bermain atau pusat perbelanjaan, melainkan tentang sebuah lereng bukit yang bernama Diing Barak di Desa Penuktukan, Kecamatan Tejakula, Buleleng, Bali.
“Saya menulis tentang wisata Diing Barak,” katanya lembut.
Bukan tempat wisata populer yang ramai dikunjungi turis, namun bagi Bayu, Diing Barak adalah tempat yang menyimpan kenangan berharga. Ia mengenangnya sebagai lokasi pendakian pertamanya, sebuah pengalaman yang ia dapatkan saat masih duduk di bangku kelas 4 SD. Di sana, ia dan keluarganya mendaki bukit yang disebut "Diing Barak"—sebuah istilah lokal yang merujuk pada arah lokasi bukit itu dari desa.
Yang menarik, Bayu menyebut adanya tanaman besar menyerupai bambu, yang disebut masyarakat setempat sebagai “tiing” kemudian menjadi ”diing’’. Pangkal bambu berwarna kemerahan, kontras dengan hijaunya daun dan tanah bebukitan. Bagi Bayu kecil, pemandangan itu sangat menakjubkan.
“Suasananya indah, dan saya bisa berkumpul dengan keluarga. Itu membuat hati saya gembira,” kenang Bayu.
Pesertaworkshop Menulis Cerita Desa yang dihelat Singaraja Menonton dan Tejakula Community Center (TCC) | Foto: tatkala.co/Puja
Pengalaman itu yang kemudian menginspirasinya untuk menulis dalam sesi Workshop Menulis Cerita Desa yang dihelat Singaraja Menonton dan Tejakula Community Center (TCC). Bayu datang ke acara itu seorang diri. Ia mengaku tahu dari guru SMP-nya dan langsung tertarik. Meskipun mengaku tidak pernah benar-benar aktif menulis di sekolah, Bayu dipilih untuk mewakili karena tulisannya yang iseng-iseng ternyata cukup menonjol.
“Senang bisa ikut. Ternyata begini cara menulis cerita yang baik, yang bisa jadi berita,” ujarnya antusias. Ia mengaku baru pertama kali mendapatkan pelatihan menulis dengan pendekatan seperti ini. Di sekolahnya, belum pernah ada pelajaran yang menjelaskan tentang penulisan feature atau berita berbasis cerita personal.
Bayu mungkin datang sendiri, namun ia pulang dengan satu bekal baru: keberanian untuk menuliskan kisahnya, seberapapun sederhana. Baginya, Diing Barak bukan sekadar tempat wisata, melainkan ruang kecil di mana kenangan masa kecilnya tetap hidup—dan kini, telah menjadi sebuah cerita yang tertulis.
Cermin Impian dan Jembatan Budaya
Jika Bayu menulis untuk merawat ingatan personal, peserta lain, Kadek Dian Pramesti, menulis untuk mengejar sebuah impian. Mahasiswi Manajemen Undiksha ini memilih mengangkat kisah Nyoman Suma Putra, seorang pemandu wisata lokal dari Desa Sambirenteng, Kecamatan Tejakula, Buleleng, Bali.
Bagi Dian, Nyoman Suma Putra, tak sekadar menemani wisatawan. Ia adalah narasi hidup dari kebudayaan yang dijaga dalam tutur, laku, dan bahasa. Menjadi pemandu wisata bukan cuma soal menjelaskan lokasi, tetapi menjembatani dunia luar dengan nilai-nilai lokal yang penuh makna. Sosoknya bukan sekadar inspiratif—tapi seperti cermin dari apa yang ia impikan.
“Aku tuh suka banget sama cerita, apalagi yang berhubungan sama sejarah dan budaya. Aku juga suka ngomong. Rasanya kalau bisa jadi tour guide atau penutur budaya, itu cocok banget buat aku,” ucapnya dengan semangat.
Gede Ganesha saat memberikan materi workshop Menulis Cerita Desa yang dihelat Singaraja Menonton dan Tejakula Community Center (TCC) | Foto: tatkala.co/Puja
Kekaguman itu memantik kesadaran. Dian tahu, impian butuh diasah. “Aku masih kurang ilmu, terutama dalam bahasa. Tapi aku ingin belajar,” tambahnya. Workshop ini menjadi langkah pertamanya. Ia berencana mewawancarai langsung sang idola, menggali motivasi dan cara bertutur yang tepat kepada dunia.
Pengalaman mengikuti workshop ini telah membuka pintu-pintu baru bagi Dian. Perjalanan sekitar 20 menit dari Desa Sambirenteng ke LPK Hishou Tejakula mungkin terasa melelahkan, namun semua itu terbayar lunas dengan ilmu yang didapat.
“Alasan aku ikut ini tuh dua: ingin nambah wawasan karena aku orangnya penasaranan banget, dan punya relasi baru,” ungkapnya. “Ternyata disini aku malah ketemu Indra, dia satu desa sama aku tapi aku baru tahu. Dan dia pinter banget. Kalau aku enggak ikut kegiatan ini, mungkin nggak akan kenal dia.”
Selain relasi baru, Dian juga merasa mendapat banyak inspirasi dari narasumber seperti Ganesha, yang mengisi materi workshop dengan pengalaman-pengalaman menulis dari desa. “Aku sangat menikmati kelas ini, banyak belajar, dan sekarang aku makin semangat membuat tugas,” katanya dengan mata berbinar.
Pulang ke Akar Melalui Tulisan
Narasumber workshop, Gede Ganesha berbicara pelan namun mantap. Ia bukan hanya mengajar menulis—ia sedang mengajak mereka menulis cerita desa yang ia pandu bukan semata soal teknik menulis. Bukan tentang bagaimana merangkai kata yang indah atau membuat alur yang dramatis. Lebih dari itu, Ganesha mengajak para peserta melihat desa sebagai naskah hidup yang belum selesai. Sebuah warisan yang menunggu untuk dirawat melalui kata-kata.
“Menulis tentang desa, sederhana apapun selalu memilili kekuatan karena keaslian, keintiman, dan suara yang jarang terdengar,” paparnya.
Ganesha percaya, setiap jengkal desa, menyimpan kekayaan budaya, sejarah, dan manusia yang tak tergantikan. Ada kebiasaan-kebiasaan yang tak tercatat, ada tokoh-tokoh tua yang menyimpan cerita berlapis waktu. Semua itu, menurutnya, layak diceritakan kembali.
”Dunia butuh lebih banyak cerita yang membumi dan jujur seperti itu, tentang desa dan cerita yang ada di dalamnya,” ucapnya tegas.
Inisiatif Merawat Cerita Desa
Untuk menyemai penulis-penulis muda yang mampu menceritakan potensi dan kehidupan desa, Singaraja Menonton dan Tejakula Community Center (TCC) berkolaborasi menginisiasi sebuah workshop pada 15 Juni 2025. Kardian Narayana, Founder Singaraja Menonton, menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan inisiatif sepihak, melainkan respons atas keinginan teman-teman di Tejakula Community Center.
Foto bersamaworkshop Menulis Cerita Desa yang dihelat Singaraja Menonton dan Tejakula Community Center (TCC) | Foto: tatkala.co/Puja
”Mereka yang sebenarnya ingin melahirkan penulis-penulis cerita-cerita tentang desa. Maka selain memutarkan film, Tejakula Community Center (TCC) juga ingin menyelenggarakan workshop ini. Dan di sinilah titik temu kerja sama kami,” ujar Kardian. Selama ini, nama seperti Don Rare dan Kadek Sudantara (Dex Dol) telah menjadi pencerita desa, namun jumlahnya masih bisa dihitung jari.
Peserta diajak menulis dari pengalaman pribadi, cerita keluarga, hingga peristiwa di sekitar mereka. Menurut Dex Dol, tulisan anak-anak ini meskipun sederhana, justru menyentuh karena jujur dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia berharap tulisan-tulisan ini bisa menjadi jembatan antar generasi.
“Menulis adalah cara kita menjaga ingatan kolektif desa agar tidak hilang,” ujarnya. Dengan kata lain, lewat tulisan, anak-anak Tejakula sedang menanam jejak untuk masa depan desa mereka. [T]
Penulis: Komang Puja Savitri Editor: Adnyana Ole
Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) ditatkala.co.
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...