Kudengar radio, setiap hari. Di kamar yang sepi, bersama buku-buku dan kucing kawin. Suara tenggelamkan omongan tetangga (mereka suka bergunjing--aku tak suka).
Lagu-lagu keluar dari kotak ajaib itu. Aku membelinya lima bulan lalu, dari lelaki yang membawa masa lalu.
"Radio tak akan punah, orang-orang akan merindukannya," katanya penuh arti.
Radio memahami kegelisahanku. Sambil menjual buku atau menulis, radio menemaniku hingga sore hari, atau saat kantuk membuatku ingin sejenak tidur.
Kadang radio seperti mengajakku bercakap-cakap. Itu jika aku lupa minum obat. Skizofrenia mirip iblis, merampas kewarasanku. Dia sudah aku jadikan sahabat; aku tahu cara mengatasinya.
Sudah lama aku menyukai radio. Pernah ingin menjadi penyiar, tetapi hidup menjadikanku seorang penyair. Penyiar dan penyair berbeda satu huruf. ---Ini pasti bukan satu kebetulan, kataku.
Radio ditemukan oleh Marconi. Buku pelajaran sekolah dulu memberitahuku. Dia pasti orang hebat. Menciptakan teman bagi manusia sunyi di kamar.
Radio tidak kumatikan, tidak seperti Dorothea tulis dalam sajaknya. Dia pasti juga suka radio, berbeda cerita.
2025
SETELAH REUNI BERAKHIR
Teman-temanku sekarang menua. Dulu mereka cantik, dengan payudara ranum dan senyum menggoda. Waktu begitu sempurna menggilas keindahan itu. Tanpa sisa, tanpa bisa ditawar.
Reuni membawaku membaca semua. Aku yang lupa bahwa tidak pernah ada yang abadi di dunia, ataukah mereka yang terlampau serius menjalani hidup? Entahlah. Aku juga tidak tahu.
Dua-tiga anak pada usia menjelang paruh baya. Ada perut yang setiap hari membutuhkan kepastian; gaji bulanan: satu digit, dua digit; seperti cerita kawan. Dia kini orang kaya baru.
Bertemu klien di banyak restoran mahal. Karena penyakit ada yang pantang makanan tertentu. Padahal uang ada. Atau, sedih karena kehilangan waktu bersama keluarga karena terlalu sibuk.
Ada pula yang mengidap skizofrenia. Dia murid pandai. Keluarganya menuntut dia berhasil. Kini dia bahagia bersama puisi dan buku-buku. Juga, kekasih yang mencintai dia apa adanya.
Bertukar nomor telepon, dan kenangan manis sekolah dulu; bersiap untuk petualangan dan pengkhianatan. Untuk apa kita bertemu? Masa lalu telah lama mati pada ingatanku yang tua.
2025
PEMBERIAN TAHU UNTUK KEKASIH
Aku sedang di warung. Puisi Rahung Nasution muncul di beranda media sosial, tentang Jakarta semakin rusak --kampung halaman yang lama tak pernah kau singgahi.
Hanya puisi menghiburku belakangan ini. Darinya aku merasa hidup lagi--- "Ah, memangnya kamu pernah mati?" Kubayangkan kata-kata itu meluncur dari bibirmu yang merah oleh lipstik murah --berdandan setiap pagi sebelum berangkat kerja, lalu pulang dengan wajah lelah, bibirmu sedikit pucat.
Suara burung begitu nyaring di warung ini, dalam sangkar mahal yang dibeli dari keuntungan warung tak seberapa. Dunia ini memang ruang pamer---juga internet, selalu mengajari kita untuk jumawa, padahal sejatinya menderita.
Buddha meraih pencerahan karena telah mampu rileks, di bawah pohon pejamkan mata ---tak ingin mendapatkan apa-apa, hanya duduk hening. Dan, hopplaa! Pencerahan datang! Justru saat ia tak puasa hingga tubuh kurus, atau berdoa dan membaca kitab suci semalaman.
Sudah lama aku tak melakukan meditasi. Kota yang sibuk membuat detik harus menjadi uang, bukan menit kontemplasi. Pelukanmu di sepeda motor, itu sudah cukup. Tanganku kau cium, menatap mesra pada mataku yang mengantuk---tidur dini hari setelah mengirim berita, deadline membuatku selalu terjaga; demi uang untuk kontrakan, dry food kucing.
Aku di warung. Minum segelas kopi susu, tanpa sarapan. Makan bisa ditunda siang hari, saat perut benar-benar lapar---beda tipis antara berhemat dan menunda waktu makan. Begitulah hidup, sayang.
Selamat bekerja----bersama buruh lain, juga catatan dan pesan dalam telegram dari bos yang baik sekaligus pemarah. Sebentar lagi aku pulang. Langit sehabis hujan menyisakan kelabu. Kicau burung ingatkan aku kehidupan di desa. Tak ada harapan, meski terasa indah. Salam!
2025
NOTIFIKASI SEORANG DIRI
"Semoga hari ini ada notifikasi yang membuat diriku bahagia," tulis perempuan dalam story.
Sudah lama dia membujang, sibuk bekerja, hingga tak ingin menikah. Berita-berita hanyalah soal uang. Tak pergi liputan jika berita tak berbayar. Lebih baik mengetik di kos, sambil bercanda dengan kucing -- lebih setia daripada lelaki yang selalu birahi.
"Tapi upah wartawan kini hanya dihitung dari page view, PHK dimana-mana, masih bekerja saja sudah untung!”
Terpikir olehnya untuk pergi jauh ke luar negeri, pada kota-kota sepi karena anak muda enggan punya anak.
Tidak ada yang lebih enak tinggal di negara sendiri. warga dunia juga berdatangan ke sini. Buat apa kabur untuk kemudian merasa terasing?
Dia teringat orang-orang tua yang kelayapan. Mereka dulu mahasiswa, tidak bisa pulang karena huru-hara politik. Puisi menjadi teman setia di kamar sempit. Mati sendiri, kremasi hanya dihadiri satu-dua sahabat yang juga tua.
"Blub!" Notifikasi muncul di ponsel pintar perempuan itu: "Nak, sudah transfer uang bulan ini?"
Ibunya tak menanyakan kabar, hanya uang dan uang. Ia bingung, honor berita baru dibayar bulan depan. Hari-hari bagai sembilu yang mengiris nadi. Kupu-kupu hinggap di pipi tanpa skincare.
DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu bergerak perlahan melintasi Jalan Ngurah Rai menuju Gedung D...
Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan
TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali. Ledakan bom merenggut ratusan nyawa dan menggunca...
NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan usaha, hingga berbagai tr...
PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati....
HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Iya, hampir saja. Itu berarti b...
Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi dan tiang-tiang bangunan ikut...
KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses pemulihan roh kebudayaa...
IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama berhenti diajukan m...
PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.
Bagi saya, it...