Tampak seorang ibu berasal dari pulau Nusa Penida, Bali, merantau ke Kecamatan Lunyuk, Kabupaten Sumbawa, NTB, menyuguhkan sesaji (banten) di depan karung-karung berisi jagung. Berdoa dengan “gaya bercakap-cakap”. Gaya ini disebut “masaha” atau “masasontengan”.
Isi doanya: — Membangunkan pada “leluhur jagung” dengan banten sesaji ayam panggang dan tumpeng. — Ijin mau merontokkan jagung lalu dimasukkan ke dalam karung nantinya. — Sang ibu meminta kepada leluhur jagung agar membantunya menjadi berat seberatnya jika datang tukang timbang. — Sebab, hanya sang jagung yang ditanam dan dirawatnya yang bisa meringankan bebannya dari kemelaratan. Tidak ada yang lain harapannya adalah si jagung membantu meringankan beban hidupnya. — Kalau tidak engkau wahai jagung, lalu siapa yang meringankan bebanku?
Doanya berbahasa Bali bercampur Bali kuno, ditandai dengan penggunaan kata ‘’la’ atau kola” (yang berasal dari kata ‘kaula’) untuk kata ‘aku’. Aku = ‘la’ = ‘kola’. Kata ‘ta’, dalam ungkapan “katung ta” terasa nuasa Bali kuno-nya.
—
Seha/Sesonteng atau ucapan lengkapnya seperti ini:
BAHASA BALI
Nah kaki-dadong Kumpi-Buyut leluhur jagung
Le bangun sayang…
Ne kola teka mai lakar mapuaran ngabang Ida banten ayabang banten ayabang matumpeng dadua mabe siap panggang
Nah kola kal ngerontok nah disubane ba peragat ngerontok penpen sik karung ta ada pengidih la tulungin kola
Ada anak nimbang mai apang ngidang Ida baat sebahat-bahata apang nyak Ida mesari sesarine tune apang ngidang Ida ngeringan beban la ne
Anak Ida dang tajuk la ne garap la ne bertahun-tahun ne lamen dong Ida ngeringanang beban la ne men nyen?
Nah ingetang Jagung apang nyak Ida mesari Swaha-swaha-swaha…
BAHASA INDONESIA (terjemahan)
Wahai kakek-nenek nenek moyang leluhur jagung
Wahai bangun sayang…
Ini aku datang ke sini hendak memberitahukan membawakan Engkau sesaji ayaban sesaji ayabang berisi dua tumpeng dengan ayam panggang
Nah aku akan merontokkanmu nah setelah selesai merontokkamu akan disimpan dalam karung ada permintaanku bantu aku
Ada orang ke sini menimbangm semoga Engkau bisa seberat-beratnya agar Engkaiumembawa isi rejeki mejekimu itu agar bisa Engkau meringankan beban hidupku ini
Engkau yang kutanam kugarap bertahun-tahun Jika bukan Engkau yang meringankan bebanku ini lantas siapa?
Nah ingat wahai jagung agar sedia Engkau memberi rejeki Tercapai-tercapai-tercapai….
—
Begitulah, di benak orang Bali, jagung dan segala tumbuhan memiliki ‘jiwa’ dan leluhur. Bisa diajab bercakap-cakap, seperti yang dilakukan saban 210 hari di hari Tumpek Tanaman.
Jagung dan tanaman, bagi petani Bali adalah partner hidup. Sandaran kehidupan petani. Dihormati dan bisa biasa diajak bercengkrama.
Manusia Bali di dalam hatinya selalu terbuka untuk bekerjasama dengan alam beserta isinya, untuk meringankan beban hidupnya. Keberadaan tumbuhan dan hewan di muka bumi adalah modal hidup yang membuat orang Bali (dulunya) tidak mengenal menyerah. Tanah tegalan dan sawah adalah partner dan saudara terdekatnya yang harus dihormati dan diajak berkerjasama. Patang dan haram untuk menjual “saudara” yang berupa modal hidup, yang bernama tanah tegalan dan sawah.
Tanah tegalan dan sawah adalah modal terbesar peradaban Bali. Yang lain adalah modal tambahan. Upakara, seni, tari, dll, hanya tambahan. Tanah, tegalan dan sawah adalah modal dasar awal hidup dan kehidupan. Yang diperlukan di atas tanah-tegalan-sawah adalah keseriusan diri untuk bekerjasama dengan mereka (tanah-tegalan-sawah) agar bisa melampaui atau mengatasi beban hidup sehari-hari yang dihadapi sebagai manusia di bumi ini. Bukan mengkonversi, apalagi menjualnya. Begitulah manusia Bali (dulunya). [T]
DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu bergerak perlahan melintasi Jalan Ngurah Rai menuju Gedung D...
Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan
TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali. Ledakan bom merenggut ratusan nyawa dan menggunca...
NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan usaha, hingga berbagai tr...
PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati....
HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Iya, hampir saja. Itu berarti b...
Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi dan tiang-tiang bangunan ikut...
KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses pemulihan roh kebudayaa...
IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama berhenti diajukan m...
PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.
Bagi saya, it...