Puisi-puisi Emi Suy | Merdeka Sunyi

Emi Suy
by Emi Suy — Juni 07, 2025 in Puisi

Tatkala.co

Merdeka Sunyi

(untuk semua yang perlahan gugur dari luka)
aku pernah jadi taman
yang menumbuhkan kabutmu
dari benih ragu yang kau bisikkan di sela embun

daun-daunku luruh
satu per satu
dan anginmu menyelipkannya
dalam buku yang tak pernah kutulis

entah ini namanya apa
kau menjelma pusat semesta
sementara aku—
bayangan yang belajar diam di balik bayangmu sendiri

lalu datang seorang yang lama menunggu takhta
duduk di kursi yang baru saja kutinggalkan
tanpa salam, tanpa pamit
hanya aroma duri
dan bisik langkah yang tak sudi ditinggal

aku tak membalas
tak ada makna di balik cermin-cermin palsu
racun tak perlu dicium
dan dendam—
tak bisa dijadikan lampu bagi malam

maka kutinggalkan lingkaran
kubuka jendela yang dulu dipaku
dan menghirup pagi yang tak lagi bernama kamu

kini aku tahu:
kehilangan bisa jadi pintu
dan sunyi—
adalah ladang yang paling jujur bagi jiwa

aku pulang
bukan ke masa lalu
tapi ke tubuhku sendiri
yang dulu kau gusur seperti badai menggusur ladang

selamat tinggal, para bayang
selamat tinggal, luka yang dulu kupeluk seperti anak
hari ini aku sunyi
dan untuk pertama kalinya:
aku tak dijajah siapa pun

Jakarta, 2025


Di Balik Topeng

kau datang seperti kabut
dengan suara lembut dan aroma gula
tapi setiap aku bicara
matahari diseret menjauh

aku larut
seperti hujan yang kehilangan langit
kau ajarkan aku menyusut
dalam cermin yang tak mengenali bayangan

teman-temanku
menjadi bayangan asing
mereka menatapku
dari sudut yang telah kau bengkokkan

luka-luka tanpa darah
tertinggal di lantai yang tak bernama

hari ini
aku tahu siapa penulis panggungnya
dan siapa tokoh yang tak pernah masuk naskah

aku turun
meletakkan topeng yang tak pernah kupilih
dan diam menjadi panggung
yang tak bisa kau ganggu lagi

Jakarta, 2025


Teman yang Diam-diam Menunggu Jatuhku

kupikir kau adalah jendela
rupanya hanya cermin yang memantulkan retakku

kau tahu:
rumahku sedang terbakar
tapi kau datang membawa minyak,
dalam senyum yang dingin

saat aku kehilangan
kau memetik yang tersisa
saat aku jatuh
kau tertawa dari balik dinding sunyi

aku menangis
bukan karena pengkhianatanmu
tapi karena aku pernah menyebutmu
dengan nama yang terlalu mulia

tapi sekarang aku tahu:
tak semua yang dekat adalah pintu
tak semua yang memeluk adalah rumah

kusapu jejakmu dari lantai dadaku
dengan sapu yang kutenun sendiri
dari bulu angsa yang tak pernah kau lihat

Jakarta, 2025


Rumah yang Kutinggalkan

aku pernah menyebutmu rumah
padahal kau tak lebih dari lorong
yang terus mengecilkan suaraku sendiri

aku masuk
dan setiap dindingmu
mengulang: salah, kurang, diam

hingga aku lupa
bahwa aku juga bisa bersinar
bahwa cahaya tak harus dibeli dengan takut

kau ambil semua:
nama-nama yang kucintai
jalan-jalan tempat aku belajar percaya
lalu kau tukar dengan keheningan yang menuduh

aku keluar
tanpa mengetuk
tanpa dendam
hanya napas yang tak mau lagi ditakar

rumahmu bukan tempat pulang
karena pulang bukan tempat
tapi keberanian untuk hidup sebagai diri

Jakarta, 2025

Sepi yang Kudekap Sendiri

setelah pintu-pintu tertutup
dan suaramu tak lagi menggema di tembok
aku mendengar sesuatu
yang sejak lama hilang dari telingaku:
diriku sendiri

sepi itu datang seperti air
dingin, jernih
dan mula-mula menyakitkan
seperti kehilangan

tapi kemudian
aku berenang di dalamnya
dan mendapati:
tak ada yang harus kujelaskan
tak ada yang harus kubuktikan

aku bisa duduk
tanpa perlu meminta izin
untuk merasa cukup
untuk merasa hidup

mereka—yang dulu menyebut diri cinta—
hari ini kulipat dalam doa
dan kupulangkan pada langit

Jakarta, 2025


Nama yang Tak Lagi Kusebut

dulu namamu
adalah mantra
yang kubisikkan pada malam yang lapar

kudoakan
agar kau jadi bagian dari halaman
yang ingin kutulis dengan tinta bersih

ternyata
namamu adalah kabut
yang menutup semua petunjuk jalan

dan seseorang
yang selalu berdiri di belakang
akhirnya duduk di singgasana
yang baru saja kutinggalkan

tak ada tangis
tak ada gugatan
karena yang kau ambil
bukan lagi milikku

aku keluar dari cerita itu
menutup buku
dan membiarkan namamu
terkubur di antara kalimat yang tak sempat selesai

kini kusebut : telah kulepaskan
dan langit menjawab dengan hening
yang paling bening

Jakarta, 2025

Penulis: Emi Suy
Editor: Adnyana Ole


[][] Klik untuk BACA puisi-puisi lain

https://tatkala.co/2024/02/10/puisi-puisi-emi-suy-kepada-capres/
https://tatkala.co/2025/01/12/puisi-puisi-sonhaji-abdullah-menyesap-manis-perih-hidup/embed/#?secret=ymTkNRKVcT#?secret=jkOPVgLY5B
https://tatkala.co/2025/01/04/puisi-puisi-muhammad-rifan-prianto-setelah-membaca-100-soneta-cinta-pablo-neruda/embed/#?secret=3rnyN4Owms#?secret=bfxJnKKy9s
https://tatkala.co/2024/12/29/puisi-puisi-gimien-artekjursi-tanamlah-musim-dalam-jiwamu/embed/#?secret=FmSf6cRsYd#?secret=I0rpbBPR9E
Tag: Puisi
Avatar

Emi Suy

Related Posts
Khas

Mengagumi Mobil Mini

BY Jaswanto Juni 22, 2026

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran International Automodified (...

Read More