Proses Kreatif Kurnia Effendi 2# Curah Kisah
SEWAKTU-WAKTU, ketika sedang bersama saya, jangan heran jika saya curahi cerita. Biasanya, judul yang mengemban kandungan cerita itu tak cukup sabar tetap tersimpan dalan vestiaire...
DI banyak tempat di negeri ini, kematian bukan hanya urusan keluarga. Ia adalah milik kampung, urusan RT, urusan tetangga, urusan siapa saja yang merasa mengenal, meski hanya sekilas sapa dan jumpa. Kematian, dengan segala perih dan sedihnya, dibagi. Bukan untuk dikurangi, tapi untuk dirayakan sebagai bentuk kebersamaan terakhir.
Di desa-desa, ketika kabar duka tersebar, orang-orang datang. Tanpa aba-aba, tanpa “undangan”. Mereka datang dengan tangan yang siap mengaduk kopi, meminjamkan karpet, memberi tenaga lewat kaki yang rela bolak-balik mengambil piring, atau sekadar dengan kehadiran yang tak ingin membiarkan keluarga duka duduk sendiri. Dan di tengah suasana yang remuk, ada keteguhan: bahwa duka tidak seharusnya ditanggung sendirian.
Budaya kolektif dalam duka barangkali adalah satu dari sedikit kebiasaan sosial yang masih bertahan dari serbuan individualisme. Ia bukan ritual semata, tapi semacam kesadaran sosial, bahwa kehilangan satu jiwa adalah kehilangan bersama. Bukan hanya karena kekerabatan, tetapi karena di banyak lingkungan, relasi manusia ditenun bukan oleh ikatan darah, melainkan oleh perjumpaan sehari-hari: di warung, di masjid, di jalan, di sawah, di majelis, di gardu, dll.
Tentu, bentuknya bisa berbeda-beda. Di Jawa, kita kenal istilah “layat”. Di Madura “labet”. Orang-orang kampung tidak sekadar setor muka, mereka gotong royong sampai si mati selesai dikubur. Bahkan di beberapa tempat seusai melakukan tahlil, ada tradisi melekan atau begadang sampai menjelang pagi. Semua itu dilakukan untuk meminimalisir kesedihan keluarga si mati, terutama supaya rumah sohibul musibah tak terasa sepi. Di Bali, upacara ngaben melibatkan komunitas dalam jumlah besar. Bahkan di kota, meski lebih sunyi, masih ada sebagian orang yang merasa perlu datang, meski hanya untuk menyalami dan mengucap, “turut berduka cita”.
Namun, kehidupan urban yang padat dan terburu-buru mulai menggerus budaya ini. Waktu duka di kota sering kali dibatasi: hanya beberapa jam, hanya malam ini, hanya teman dekat. Ucapan belasungkawa berpindah ke layar ponsel, diketik cepat dan dibaca lebih cepat lagi. Kadang bahkan tidak sempat diketik: cukup tanda emoji atau kiriman karangan bunga yang dipesan daring. Mungkin ini bukan bentuk kurang empati, tapi hasil dari kelelahan kolektif. Kita terlalu lelah untuk hadir, terlalu sibuk untuk menyentuh duka secara fisik. Sistem telah menggilas waktu kita tanpa ampun.
Padahal, duka bukan hanya soal kehilangan, tapi soal bagaimana manusia memeluk kehilangan itu bersama-sama. Dalam budaya kolektif, tangis menjadi ruang terbuka. Ia tidak ditahan, tidak disembunyikan, karena tahu bahwa di sebelah ada bahu lain yang ikut basah. Bahkan kadang, tangis datang dari orang yang tak punya hubungan langsung dengan almarhum, tapi punya hubungan erat dengan gagasan bahwa hidup itu rapuh dan tak bisa dihadapi sendirian.
Yang menarik, dalam budaya kolektif ini, duka menjadi pelatuk solidaritas. Dari memasak untuk para tamu yang menghadiri rumah duka, hingga mengatur kursi untuk dikeluarkan dari ruang tamu atau tenda dipasang di halaman, semua punya peran. Dan semua merasa perlu menjalankan peran itu. Tidak ada kompensasi, tidak ada pamrih. Ada keyakinan diam-diam bahwa apa yang kita lakukan hari ini, suatu saat akan kembali pada kita. Semacam gotong-royong dalam kehilangan.
Tentu saja, seperti semua tradisi, budaya ini juga menghadapi tantangannya. Ada kalanya kehadiran kolektif berubah menjadi beban. Keluarga duka merasa harus menyambut tamu, menyajikan makanan dan minuman, menjaga citra. Duka pun berubah jadi semacam hajatan. Tapi di sinilah perlu kebijaksanaan: untuk membedakan antara solidaritas dan formalitas, antara kehadiran yang tulus dan tuntutan yang tak perlu.
Pada akhirnya, budaya kolektif dalam duka adalah cermin dari nilai yang kita pegang tentang hidup bersama. Ia mengingatkan bahwa manusia, pada batas paling personalnya, membutuhkan yang lain. Bukan untuk diselamatkan, tapi untuk tidak merasa sendirian. Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin memaksa orang untuk kuat dan mandiri, budaya ini adalah salah satu pengingat bahwa kadang kekuatan sejati justru lahir dari kesediaan untuk lemah bersama.
Mungkin itulah sebabnya, di kampung-kampung, suara tangis terdengar lebih jernih. Karena ia tak perlu ditahan. Karena ia tahu, ia tidak sendiri. [T]
Penulis: Kim Al Ghozali
Editor: Adnyana Ole
BACA ARTIKEL LAIN DARI KIM AL GHOZALI
SEWAKTU-WAKTU, ketika sedang bersama saya, jangan heran jika saya curahi cerita. Biasanya, judul yang mengemban kandungan cerita itu tak cukup sabar tetap tersimpan dalan vestiaire...
PERNAH nunu urutan setiap pagi menjelang sekolah, pada masa-masa usai libur Hari Raya Galungan dan Kuningan? Jika pernah, masa kecil Anda dipastikan sederhana namun bahagia. Nunu...
"PANJEKAN" mungkin asal muasal kata "panjak". Biasanya prekanggo atau wong kuasa duduk didampingi anak buahnya yang dijadikan "injakan kaki" (panjekan). Lihatlah, foto yang dipasa...
GEGURITAN Galungan (karya IB Putu Bangli) yang penulisannya bersumber dari Lontar Parerembon (milik Ida Pedanda Gede Made Sidemen, Gria Taman Sanur), menuturkan bahwa tra...
SEBAIKNYA di sini kita tidak membahas sloka, lontar, mantra atau Veda. Di zaman informasi yang demikian derasnya, ketidakpedulian hanyalah sebuah pilihan. Hal-hal yang bersifat pen...
HARI Raya Galungan dan Kuningan tentu saja disambut bahagia semua umat Hindu di Bali. Namun, tak begitu dengan sejumlah anggota Dewan, DPRD, DPD atau DPR. Meski tetap tampak bahag...
BAGI umat Hindu di Indonesia, terutama di Bali, Hari Raya Galungan dan Kuningan tentu menjadi hari raya yang paling ditunggu-tunggu. Hari raya ini diperingati setiap 6 bulan sekali...
Saya adalah salah satu dari banyak orang yang sangat menikmati momen KKN, meski saya tidak mengetahui detail kisah KKN kalian satu per satu tapi saya berusaha mewakili rasa rindu k...
GALUNGAN kembali tiba. Sebagian orang mungkin akan bersemangat mendengarnya karena merupakan hari raya besar yang ditunggu-tunggu. Sembahyang, mungkin hanya satu alasan. Ada banyak...
Cerpen: Fatah Anshori "Dalam tradisi Yahudi empat puluh hari sebelum, bayi lelaki dilahirkan. Dilangit ada suara yang meneriakkan siapa wanita yang kelak akan di kawininya. Aku tah...