Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
PERSETERUAN anak-anak banteng dengan seorang resi kesatria paripurna masih terus berlanjut, malah semakin sengit dengan melontarkan serangan membabi-buta, penuh amarah disertai kebencian, dengan memanfaatkan media lewat konfrensi pers. Publik sadar arah omon-omon ini kemana, dipastikan sasarannya pada resi yang sedang hidup tenang, menikmati purnatugas di kampung halamannya.
Selama ini sang resi kesatria ini, lebih banyak diam, tidak pernah merespons, apakah itu bentuk hinaan, sumpah serapah, fitnah, pembunuhan karakter, hanya di respons dengan senyum saja, dan berujar he.., he.., he... Mungkin ini yang membuat anak-anak banteng jadi tambah kepo, gondok dan tambah baperan.
Baru kemarin ada respons dari sang resi satu kalimat, ”sabar juga ada batasnya”, buktikan saja ”siapa utusan yang di maksud”, respons tersebut ternyata membuat anak-anak banteng ”jiper” juga, sibuk mengklarifikasi, ”tidak maksud katanya”. Pernyataan kami tidak mengarah pada resi, cek saja kalimat kami, tapi publik menilai ”banteng” lagi-lagi sedang membangun narasi pepesan kosong yang hyperrealitas dengan berkelit-kelat ketika diminta membuktikan omon-omonnya. Lidah anak banteng emang tidak bertulang, eh semua lidah tidak bertulang memang.
Ruang publik kita jadi ramai, sangat ramai gara-gara ”omon-omon” anak banteng ini, yang laris tentunya media, baik media mainstream, maupun media sosial berjaringan, sibuk membuat agenda acara ”omon-omon” anak banteng, dan respon sang resi ”buktikan saja, apa untungnya, logikanya dimana”, kata sang resi.
Ritual acara debat, pro-kontra, membahas tema tersebut digelar di mana-mana baik podcast, maupun televisi siaran dalam rangka menaikan rating acaranya dengan menghadirkan nara sumber yang pro-kontra pada isu tersebut.
Omon-omon ini menuai komentar dari berbagai kalangan, salah satunya pewaris tahta ”kandang banteng”, sudahilah permusuhan ini, kita saling instrospeksi diri, membangun kembali harmoni. Salah satu pewaris tahta kandang banteng menyerukan agar segala bentuk perselisihan yang dapat memecah belah bangsa segera dihentikan.
Pernyataan ini disampaikannya saat menanggapi isu yang kembali memanas terkait hubungan anak-anak banteng dengan sang resi. Komentar sang resi yang selalu menyerang menyudutkan itu siapa dengan omon-omon ”menyakitkan” itu, kan dari sana yang selalu mulai dengan penuh kebencian dan hinaan, kata sang resi.
Anehnya menurut saya, sekelas lawyer top-markotop mau juga ya, mendampingi anak-anak banteng yang mulai lupa jatidiri, yang sudah mulai kehilangan sopan santun, etika adabnya kepada orang yang pernah berjasa pada negeri ini, dan juga pada kandang banteng tentunya sang resi berjasa, karena menaikkan pamor kandang banteng di mata publik.
Hinaan cacian baik yang datang dari anak-anak banteng, maupun kelompok ”sengkuni” yang terus menggong-gong yang ditujukan pada sang resi terus silih berganti dari persoalan pribadi, ijazah palsu, bisnis putra-putri, isteri sang resi, sampai urusan politik kenegaraan, isu pelemahan KPK, IKN, PIK-2, projek-projek strategis nasional, anak-anak banteng yang ditangkap dan menjadi tersangka KPK, itu menjadi persoalan, dan kesalahan yang ditujukan pada sang resi.
Sepertinya sang resi ini nyaris tanpa jasa dan prestasi selama memimpin hampir 300 juta jiwa anak bangsa ini, saya tidak ingin mengungkapkan apa yang telah di torehkan sang resi selama sepuluh tahun ini dalam memimpin bangsa yang super majemuk ini, karena beliau sang resi bukan tipe orang yang selalu menepuk dada dan berkata ”Aku”.
***
Resi yang menggantikannya sekarang selalu memuji, bahwa ini adalah prestasi kerja sang resi, saat meresmikan Proyek Smelster PT. Freeport, di masa beliaulah negara menguasai saham terbesar, perusahan tambang emas ini, juga saat resi baru meresmikan 17 stadion sepakbola, ini juga karya sang resi dulu. Ujar resi baru, saya hanya meresmikan. Itu sekedar menyampaikan satu dua torehan prestasi sang resi, yang selalu dihujat sana-sini.
Sang resi, adalah tipe orang yang menurut seorang Kyai yang juga pernah menjadi Presiden RI, kata bijaknya, ”orang yang masih terganggu dengan hinaan dan pujian manusia, dia masih hamba amatiran”. Sepertinya sang resi sangat menghayati, mengamalkan dalam bentuk perilaku kata bijak dari sang Kyai ini. Buktinya sang resi, tidak pernah membalas hinaan dan caci-maki dari para penghujatnya, beliau hanya tersenyum, biarkan saja waktu yang akan menjawab.
Kembali pada omon-omon anak banteng yang mengatakan sang resi pernah mengutus seseorang ke ”kandang banteng” dengan katanya membawa teror dan intimidasi, pada tanggal pertengahan Desember 2024 katanya.
Ternyata narasi itu dibangun dan diagendakan, hanya untuk menyiapkan narasi keberatan (eksepsi) seorang elit penting yang sudah menjadi tersangka kasus yang memalukan ”nyogok” atau menyuap anggota KPU untuk meloloskan kawannya menjadi anggota dewan, yang sekarang menjadi dan masih menjadi manusia buronan pihak yang berwajib.
Elit banteng ini selalu menarasikan, dirinya adalah korban kriminalisasi hukum, korban dari kesewenangan rezim, sudah menjadi target dan tidak malu-malu mengatakan kalau yang bersangkutan adalah tahanan politik, selalu teriak merdeka bergaya ”Sang Proklamator”.
Pertanyaannya di mana letak miripnya dengan kasus Proklamator tercinta kita memperjuang hak atas kemerdekaan bangsa dan negara, dengan kasus anak banteng ini, yang ”menyogok” penyelenggara negara, menghalangi-halangi aparat untuk menangkap ”kriminal” adalah sama dengan perilaku ”kriminal”.
Dalam hal hinaan cacian yang dialami sang resi mulai dari awal menjabat, sampai dengan purnatugas, beliau betul-betul hamba yang profesional seperti kata bijak sang Kyai kita yang humanis ”Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya. Merendahkan manusia berarti merendahkan dan menistakan penciptanya”. Saya meyakini beliau sang resi mengamalkan kata bijak ini. Karena dalam suatu riwayat bahwa ketika kita direndahkan, dihinakan oleh siapa pun, apalagi orang itu zalim, Allah SWT akan meninggikan, menaikkan derajat kita dengan caraNya. Kita bisa buktikan beberapa event nasional kenegaraan, maupun politik, keagamaan, kemasyarakatan beliau masih mendapatkan tempat dan kehormatan di mata elit politik, publik, dan masyarakat umum, dibuktikan rumahnya tidak pernah sepi pengunjung, artinya sang resi banyak dicintai rakyatnya.
Harapan saya sebagai warga yang cinta ketenteraman, sudahlah perseteruan kandang banteng dengan sang resi, tidak perlu dibahas panjang lebar dengan memprovokasi banteng, supaya terus menyeruduk dengan membabi buta.
Hai media, apa pun medianya, bantulah menenangkan banteng untuk tidak terus menyerang, karena akan kehabisan tenaga, dan dukungan dari masyarakat yang cinta damai ini. Mengakhiri tulisan ini saya tutup kata bijak dari sang Kyai, ”dari sudut agama, saya ingin mengingatkan, agar ketidaksenangan kita terhadap seseorang atau suatu kaum jangan sampai menyebabkan kita berlaku tidak adil dalam memutuskan sesuatu”. [T]
Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...