PERSETERUAN anak-anak banteng dengan seorang resi kesatria paripurna masih terus berlanjut, malah semakin sengit dengan melontarkan serangan membabi-buta, penuh amarah disertai kebencian, dengan memanfaatkan media lewat konfrensi pers. Publik sadar arah omon-omon ini kemana, dipastikan sasarannya pada resi yang sedang hidup tenang, menikmati purnatugas di kampung halamannya.
Selama ini sang resi kesatria ini, lebih banyak diam, tidak pernah merespons, apakah itu bentuk hinaan, sumpah serapah, fitnah, pembunuhan karakter, hanya di respons dengan senyum saja, dan berujar he.., he.., he... Mungkin ini yang membuat anak-anak banteng jadi tambah kepo, gondok dan tambah baperan.
Baru kemarin ada respons dari sang resi satu kalimat, ”sabar juga ada batasnya”, buktikan saja ”siapa utusan yang di maksud”, respons tersebut ternyata membuat anak-anak banteng ”jiper” juga, sibuk mengklarifikasi, ”tidak maksud katanya”. Pernyataan kami tidak mengarah pada resi, cek saja kalimat kami, tapi publik menilai ”banteng” lagi-lagi sedang membangun narasi pepesan kosong yang hyperrealitas dengan berkelit-kelat ketika diminta membuktikan omon-omonnya. Lidah anak banteng emang tidak bertulang, eh semua lidah tidak bertulang memang.
Ruang publik kita jadi ramai, sangat ramai gara-gara ”omon-omon” anak banteng ini, yang laris tentunya media, baik media mainstream, maupun media sosial berjaringan, sibuk membuat agenda acara ”omon-omon” anak banteng, dan respon sang resi ”buktikan saja, apa untungnya, logikanya dimana”, kata sang resi.
Ritual acara debat, pro-kontra, membahas tema tersebut digelar di mana-mana baik podcast, maupun televisi siaran dalam rangka menaikan rating acaranya dengan menghadirkan nara sumber yang pro-kontra pada isu tersebut.
Omon-omon ini menuai komentar dari berbagai kalangan, salah satunya pewaris tahta ”kandang banteng”, sudahilah permusuhan ini, kita saling instrospeksi diri, membangun kembali harmoni. Salah satu pewaris tahta kandang banteng menyerukan agar segala bentuk perselisihan yang dapat memecah belah bangsa segera dihentikan.
Pernyataan ini disampaikannya saat menanggapi isu yang kembali memanas terkait hubungan anak-anak banteng dengan sang resi. Komentar sang resi yang selalu menyerang menyudutkan itu siapa dengan omon-omon ”menyakitkan” itu, kan dari sana yang selalu mulai dengan penuh kebencian dan hinaan, kata sang resi.
Anehnya menurut saya, sekelas lawyer top-markotop mau juga ya, mendampingi anak-anak banteng yang mulai lupa jatidiri, yang sudah mulai kehilangan sopan santun, etika adabnya kepada orang yang pernah berjasa pada negeri ini, dan juga pada kandang banteng tentunya sang resi berjasa, karena menaikkan pamor kandang banteng di mata publik.
Hinaan cacian baik yang datang dari anak-anak banteng, maupun kelompok ”sengkuni” yang terus menggong-gong yang ditujukan pada sang resi terus silih berganti dari persoalan pribadi, ijazah palsu, bisnis putra-putri, isteri sang resi, sampai urusan politik kenegaraan, isu pelemahan KPK, IKN, PIK-2, projek-projek strategis nasional, anak-anak banteng yang ditangkap dan menjadi tersangka KPK, itu menjadi persoalan, dan kesalahan yang ditujukan pada sang resi.
Sepertinya sang resi ini nyaris tanpa jasa dan prestasi selama memimpin hampir 300 juta jiwa anak bangsa ini, saya tidak ingin mengungkapkan apa yang telah di torehkan sang resi selama sepuluh tahun ini dalam memimpin bangsa yang super majemuk ini, karena beliau sang resi bukan tipe orang yang selalu menepuk dada dan berkata ”Aku”.
***
Resi yang menggantikannya sekarang selalu memuji, bahwa ini adalah prestasi kerja sang resi, saat meresmikan Proyek Smelster PT. Freeport, di masa beliaulah negara menguasai saham terbesar, perusahan tambang emas ini, juga saat resi baru meresmikan 17 stadion sepakbola, ini juga karya sang resi dulu. Ujar resi baru, saya hanya meresmikan. Itu sekedar menyampaikan satu dua torehan prestasi sang resi, yang selalu dihujat sana-sini.
Sang resi, adalah tipe orang yang menurut seorang Kyai yang juga pernah menjadi Presiden RI, kata bijaknya, ”orang yang masih terganggu dengan hinaan dan pujian manusia, dia masih hamba amatiran”. Sepertinya sang resi sangat menghayati, mengamalkan dalam bentuk perilaku kata bijak dari sang Kyai ini. Buktinya sang resi, tidak pernah membalas hinaan dan caci-maki dari para penghujatnya, beliau hanya tersenyum, biarkan saja waktu yang akan menjawab.
Kembali pada omon-omon anak banteng yang mengatakan sang resi pernah mengutus seseorang ke ”kandang banteng” dengan katanya membawa teror dan intimidasi, pada tanggal pertengahan Desember 2024 katanya.
Ternyata narasi itu dibangun dan diagendakan, hanya untuk menyiapkan narasi keberatan (eksepsi) seorang elit penting yang sudah menjadi tersangka kasus yang memalukan ”nyogok” atau menyuap anggota KPU untuk meloloskan kawannya menjadi anggota dewan, yang sekarang menjadi dan masih menjadi manusia buronan pihak yang berwajib.
Elit banteng ini selalu menarasikan, dirinya adalah korban kriminalisasi hukum, korban dari kesewenangan rezim, sudah menjadi target dan tidak malu-malu mengatakan kalau yang bersangkutan adalah tahanan politik, selalu teriak merdeka bergaya ”Sang Proklamator”.
Pertanyaannya di mana letak miripnya dengan kasus Proklamator tercinta kita memperjuang hak atas kemerdekaan bangsa dan negara, dengan kasus anak banteng ini, yang ”menyogok” penyelenggara negara, menghalangi-halangi aparat untuk menangkap ”kriminal” adalah sama dengan perilaku ”kriminal”.
Dalam hal hinaan cacian yang dialami sang resi mulai dari awal menjabat, sampai dengan purnatugas, beliau betul-betul hamba yang profesional seperti kata bijak sang Kyai kita yang humanis ”Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya. Merendahkan manusia berarti merendahkan dan menistakan penciptanya”. Saya meyakini beliau sang resi mengamalkan kata bijak ini. Karena dalam suatu riwayat bahwa ketika kita direndahkan, dihinakan oleh siapa pun, apalagi orang itu zalim, Allah SWT akan meninggikan, menaikkan derajat kita dengan caraNya. Kita bisa buktikan beberapa event nasional kenegaraan, maupun politik, keagamaan, kemasyarakatan beliau masih mendapatkan tempat dan kehormatan di mata elit politik, publik, dan masyarakat umum, dibuktikan rumahnya tidak pernah sepi pengunjung, artinya sang resi banyak dicintai rakyatnya.
Harapan saya sebagai warga yang cinta ketenteraman, sudahlah perseteruan kandang banteng dengan sang resi, tidak perlu dibahas panjang lebar dengan memprovokasi banteng, supaya terus menyeruduk dengan membabi buta.
Hai media, apa pun medianya, bantulah menenangkan banteng untuk tidak terus menyerang, karena akan kehabisan tenaga, dan dukungan dari masyarakat yang cinta damai ini. Mengakhiri tulisan ini saya tutup kata bijak dari sang Kyai, ”dari sudut agama, saya ingin mengingatkan, agar ketidaksenangan kita terhadap seseorang atau suatu kaum jangan sampai menyebabkan kita berlaku tidak adil dalam memutuskan sesuatu”. [T]
MUSIK tradisional Opera Beijing "Gong dan Drum Tradisional Hakka" membuat penonton terkesima dengan perpaduan luar biasa antara kekuatan ritme yang menggelegar, sinkronisasi koreo...
SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku di Kelurahan Beng, Gianyar, Bali. Di tengah orkestrasi aroma...
TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah sudah berapa ratu...
KESERIUSAN Wikan Satya terhadap musik rupanya tidak berhenti pada “Anacaraka”. Setelah karya itu mendapat banyak sorotan sebagai lagu anak-anak yang mengangkat Bahasa dan Aksara B...
JUNI adalah Bulan Bung Karno. Pada 1 Juni 1945, hari ketiga sidang BPUPKI, Bung Karno mendapat kesempatan ketiga setelah Muhamad Yamin dan Soepomo menyampaikan pidatonya. Hari lah...
“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan, maupun perayaan hari raya....
Penjor yang Menjulang dan Pertanyaan yang Menggantung
Setiap Hari Galungan, Bali berubah menjadi lautan penjor. Di depan rumah-rumah, di sepanjang jalan desa, hingga di pusat-p...
MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun ini. Yang ramai diperbincangkan han...
INI adalah pertunjukan seni panggung. Namun, stage proscenium itu dimeriahkan dengan foto-foto indah dan bersejarah. Bidikan aktivitas budaya, bangunan bersejarah dan hasil keraji...
BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa. Dulu, toko buku itu selalu hidup. Lorong-lorongnya...