Menggugat Empati Elite kepada Rakyat
RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal 30 November 2025. Rakyat Indonesia juga tak...
DI balik keindahan pariwisata Bali yang mendunia, tersimpan kegelisahan yang jarang terangkat ke permukaan. Bali krisis kader petani muda. Di banyak desa, sawah mulai kosong. Bukan karena gagal panen. Akan tetapi dikarenakan pertanian Bali semakin sedikit yang berminat mengolahnya. Anak-anak muda lebih tertarik bekerja di sektor hospitality, menjadi konten kreator, atau mengejar pekerjaan di kota besar dan bahkan luar negeri. Bertani kini dianggap pekerjaan yang "kuno", kotor, dan tidak menjanjikan.
Bali saat ini tengah darurat kader petani muda. Generasi yang seharusnya mewarisi kearifan lokal dalam pengelolaan lahan dan subak justru menjauhi sektor pertanian. Jika ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin Bali akan kehilangan identitas agrarisnya. Padahal, sektor ini adalah salah satu fondasi utama kebudayaan dan kehidupan masyarakat Bali sejak dahulu.
Namun, menyalahkan anak muda sepenuhnya tentu tidak adil. Dunia pertanian memang selama ini kurang "terekspos" secara menarik di hadapan mereka. Gaya hidup digital, kecepatan informasi, dan pencitraan visual membuat anak muda lebih dekat dengan hal-hal yang viral di media sosial. Sayangnya, pertanian jarang tampil sebagai sesuatu yang keren di platform-platform itu.
Kondisi ini menjadi ironi di pulau yang menggantungkan pangan dan identitas budayanya pada sektor pertanian. Regenerasi petani mengalami stagnasi. Padahal, dengan harga bahan pokok yang melambung dan krisis pangan global yang menghantui, sektor pertanian justru menjadi harapan masa depan. Maka dari itu, sudah saatnya pertanian tidak hanya dikerjakan di sawah, tetapi juga diperkenalkan dan dikampanyekan lewat media sosial. Anak muda Bali yang kreatif dan melek teknologi bisa menjadi pionir perubahan.
Inilah saatnya pertanian masuk ke media sosial. Petani muda perlu diangkat sebagai tokoh keren. Proses bertani—dari menyemai benih, merawat tanaman, hingga memanen—bisa menjadi konten yang menginspirasi. Kisah perjuangan dan inovasi di lahan, terutama pertanian organik, urban farming, atau teknologi smart farming, bisa menyentuh hati generasi muda jika dikemas dengan bahasa visual dan emosional yang tepat.
Salah satu contoh nyata adalah Edy Juliana, seorang alumni SMKN 1 Petang, yang kini sukses mengembangkan usaha pertanian di bawah naungan P4S Amerta Giri Lesungyang dibangunnya selepas sekolah. Pemuda kelahiran Tamblingan, Buleleng, 9 Juli 1999 ini sangat aktif mengampanyekan pertanian organik. Di era medsos ini, Edi tidak hanya bertani.
Dia juga aktif berbagi pengalaman lewat media sosial, menginspirasi anak muda lainnya bahwa bertani bisa modern, menguntungkan, dan bermartabat. Ia membuktikan bahwa menjadi petani tidak harus identik dengan hidup susah, tetapi bisa menjadi jalan hidup yang membanggakan. Bahkan Edi sudah mampu menggaet beberapa pemuda dan menjalin kerja sama dengan berbagai pihak guna memajukan pertanian.
Kisah-kisah seperti Edy Juliana patut dicontoh dan penting untuk diviralkan. Pertanian bisa dikemas menarik: membuat konten harian di ladang, tips budidaya, tutorial hidroponik, hingga vlog panen raya. Kegiatan ini bukan sekadar berbagi informasi, tapi juga bisa membuka peluang kolaborasi dengan UMKM, mendapatkan penghasilan dari endorse produk lokal, dan menciptakan pasar baru.
Kegiatan yang dilakukan Edi tidak hanya berkutat dengan tanah dan pupuk. Edi juga aktif sebagai kreator digital. Dia memanfaatkan media sosial untuk promosi, edukasi, dan memperluas jejaring pertanian organik dan pemasaran hasil pertanian. Ia berhasil membalik stigma bahwa bertani itu ketinggalan zaman. Justru dengan pendekatan digital dan manajemen modern, bertani bisa jadi profesi keren dan berkelanjutan.


Dok. Edi Juliana
Kini, Bali memerlukan banyak anak muda penggiat pertanian. Lahan pertanian yang selama ini masih ditanami oleh generasi tua, bisa jadi akan tinggal kenangan. Oleh karena itu, sekali lagi, inilah saatnya pertanian (Bali) masuk medsos.
Guna mencapai percepatan itu, dunia pendidikan dan pemerintah daerah perlu bergerak bersama. Sekolah kejuruan pertanian mesti didorong untuk memperkenalkan teknologi digital dalam praktiknya. Dinas Pertanian dan komunitas tani bisa membuat kompetisi konten pertanian atau membuka program magang digital di pertanian inovatif.
Bali memang pulau pariwisata. Tapi tanpa petani, tidak akan ada makanan di meja, tidak ada subak yang terjaga, dan tak akan lengkap identitas budaya Bali yang kita banggakan. Maka, membangkitkan semangat bertani di kalangan anak muda adalah tanggung jawab bersama.
Dan di zaman ini, semangat itu perlu dibangkitkan dari tempat yang paling sering mereka kunjungi setiap hari: media sosial. [T]
Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole
BACA artikel lain dari penulis I WAYAN YUDANA
RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal 30 November 2025. Rakyat Indonesia juga tak...
DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi Devi menempatkan bumi sebagai manife...
PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut berakar pad...
SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang ditampilkan justru wajah-wajah nyata, s...
“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens), menempatkan tindakan ekologis ‘menana...
GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung, tetapi aktivitas di lingkungan sekolah justru ber...
MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur. Mereka meletakkan tas, sembari menarik nafas panjang, sambil menikm...
Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru SMP Negeri 1 Singaraja pada Selasa, 21 A...
JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan dari Generasi Z memanfaatkan gawa...
KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT, telah memberi dampak positif dalam menjaga kesehatan ekosistem laut dan pesi...