Tentang Lauk yang Dipindahkan Diam-Diam dari Piring MBG
SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi orang tua Indonesia, terutama yang tumb...
DALAM setiap roda yang berputar, ada cerita tentang perjalanan. Di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng-Bali, kisah itu hadir dalam bentuk mobil-mobil taksi yang mendadak parkir di banyak halaman rumah saat hari raya tiba. Kendaraan itu adalah saksi bisu dari perjuangan para perantau yang kembali ke desa, dan membawa kerinduan.
Desa Tembok adalah kampung halaman saya. Saya pulang kampung 23 April 2025 saat Hari Raya Galungan.
Matahari pagi menyapu lembut, angin yang sedikit kencang membuat suara ombak pinggir pantai terdengar jelas. Suasana itu memang menjadi ciri khas Desa Tembok, desa paling ujung di bagian timur Kabupaten Buleleng.
Saya jarang pulang ke desa. Tapi, kepulangan saya kali ini perlahan mulai terusik oleh pemandangan tak biasa. Di sepanjang jalan, saya melihat beberapa mobil mulai mengisi halaman hampir di setiap rumah warga di sana, sebagian besar dengan stiker XTX atau Ngurah Rai Taxi Bali di kaca belakangnya. Mobil-mobil itu terparkir rapi, seperti menyiratkan pesan sederhana, vahwa penghuninya pulang.
Dengan jumlah penduduk mencapai 7.819 jiwa dari 2.445 kepala keluarga (KK), Desa Tembok menyimpan fakta menarik, sebanyak 2.988 jiwa atau sekitar 38,21% dari total penduduk memilih merantau, sebagian besar menjadi sopir taksi atau kendaraan lain.
Berdasar informasi yang diperoleh, di Desa Tembok ada banyak warga menjadi sopir, kebanyak sopir taksi. Perkiraannya ada sekitar 400 hingga 500 orang. Mereka kebanyakan menjadi supir taksi, sebagian lain menjadi supir pariwisata, atau supir mobil boks barang.

Taksi parkir di tepi jalan di Desa Tembok saat Hari Raya Galungan | Foto: Arix
Desa Tembok mendadak ramai setiap kali rahinan seperti Galungan atau Kuningan tiba. Menjadi sebuah momen di kala para perantau yang bekerja sebagai supir taksi atau supir lainnya di Denpasar, Badung, dan kota besar lainnya di Bali, kembali ke kampung halaman. Fenomena ini telah menjadi bagian dari ritme kehidupan desa yang kini dikenal sebagai salah satu desa perantau.
Rasa penasaran muncul pada diri saya untuk bertanya ke beberapa orang di desa terkait fenomena ini. Salah satunya, Ketut Sarjana, seorang supir taksi yang telah bekerja selama lebih dari 28 tahun di Denpasar. Ia berbagi cerita di bawah rindangnya pohon mete di samping rumahnya.
"Setiap kali Galungan, saya selalu pulang. Ini bukan sekadar tradisi, tapi juga cara untuk mengingatkan diri sendiri dari mana saya berasal," kata Ketut Sarjana sambil menyeruput kopi hitam.
Ketut Sarjana, seperti banyak penduduk Desa Tembok lainnya, memutuskan merantau untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Minimnya lapangan pekerjaan di desa memaksa sebagian besar warga untuk mencari penghasilan di luar.
"Awalnya sulit, tapi lama-lama saya menikmatinya. Menjadi supir taksi memberi saya kebebasan waktu, meskipun kerja keras," kata Sarjana.
Sama seperti Ketut Sarjana, Ketut Agus Dharma , juga bekerja sebagai supir. Namun ia bukan supir taksi, melainkan supir antar-jemput turis di Denpasar.

Taksi parkir di halaman rumah di Desa Tembok saat Hari Raya Galungan | Foto: Arix
Agus Dharma mengatakan pekerjaan ini adalah pilihan terbaik untuk menunjang kebutuhan keluarga. "Saya merasa pekerjaan ini fleksibel. Saya bisa mengatur waktu untuk keluarga, meskipun harus tinggal jauh dari rumah," ujarnya.
Ketika ditanya tentang kepulangannya ke Desa Tembok setiap Galungan dan Kuningan, ia menjawab sambil tersenyum, "Desa ini adalah rumah, tempat saya bisa istirahat dari hiruk-pikuk kota."
Di hari-hari biasa, Desa Tembok bisa terasa seperti desa yang kehilangan sebagian jiwa mudanya. Banyak rumah hanya dihuni oleh orang tua dan anak-anak. Namun, saat Galungan dan Kuningan tiba, suasana berubah drastis. Riuh-rendah kembali memenuhi jalanan desa. Suara anak-anak yang bermain, hingga aroma khas masakan yang mengepul dari dapur rumah-rumah warga membawa kehidupan baru.
Perbekel (Kepala Desa) Tembok Dewa Ketut Willy Asmawan mengamati fenomena ini dengan rasa haru. "Anak-anak di desa kami mungkin pergi jauh untuk bekerja, tapi setiap rahinan mereka selalu kembali. Itu yang membuat kami merasa desa ini tetap hidup," katanya
Di tengah modernitas yang perlahan merayap masuk ke kehidupan mereka, warga Desa Tembok tetap berusaha menjaga tradisi dan adat istiadat. Bagi para perantau, kepulangan setiap rahinan bukan hanya soal berjumpa keluarga, tapi juga menjaga koneksi spiritual dengan leluhur mereka.
Ketut Sarjana menjelaskan, "Setiap saya pulang, saya merasa lebih dekat dengan leluhur. Seperti momen untuk memohon restu dan berkah sebelum kembali menghadapi kerasnya kehidupan di kota."
Namun, tak semua kisah itu manis. Beberapa perantau mengaku kesulitan menyeimbangkan tuntutan pekerjaan dengan tradisi. "Kadang-kadang sulit ya sulit juga untuk dapat libur, apalagi kalau turis sedang ramai," ujar Agus Dharma. "Tapi saya selalu berusaha. Meski hanya sebentar, saya tetap pulang,” katanya.
Fenomena para supir yang pulang kampung ini mengundang perhatian lebih luas terhadap Desa Tembok. Banyak yang berharap desa ini dapat berkembang sehingga anak-anak muda tidak perlu merantau untuk mencari pekerjaan.
"Saya berharap ada lebih banyak peluang kerja di sini, supaya anak-anak kita nanti tidak perlu pergi jauh," kata Agus Dharma dengan nada penuh harap.
Sementara itu, Dewa Ketut Willy Asmawan, selaku Kepala Desa Tembok, mengakui bahwa fenomena ini adalah tantangan sekaligus potensi.
"Kami sedang berupaya mengembangkan desa wisata dan pelatihan keterampilan untuk generasi muda. Semoga ini bisa menjadi solusi agar mereka bisa berkarya tanpa meninggalkan desa," kata . Dewa Willy.
Jika ditarik kembali, sekitar tahun 1980-an, Desa Tembok terkenal akan Jeruk keprok khas Tejakula. Kala itu, ada istilah “ngumbah lima aji bir” atau “membasuh tangan dengan bir”, karena saking banyaknya produksi jeruk. Tetapi akibat serangan penyakit CVPD (citrus vein phloem degeneration), jeruk ini mengalami kepunahan, yang secara tidak langsung membunuh hasil alam di desa Tembok itu sendiri.

Mobil warga perantau saat pulang kampung ke Desa Tembok | Foto: Arix
Sekarang, Desa Tembok berupaya untuk mengembalikan kejayaan jeruk keprok kembali. “Kurang lebih sudah sekitar 5000 bibit jeruk keprok sudah kami sebarkan untuk para pentani lokal di desa agar bisa dikembangkan dan menumbuhkan rasa percaya diri petani untuk bertani jeruk lagi,” kata Dewa Willy.
Ketika jeruk ini nanti mampu di kembangkan lagi dan berhasil, maka tidak menutup kemungkinan nanti di Desa Tembok akan muncul lapangan pekerjaan agar bisa menarik warga lokal untuk tidak pergi keluar desa.
“Kami tidak melarang orang di desa untuk merantau, tapi jika dipikirkan lagi, kenapa kita tidak berusaha untuk mengembangkan desa kita sendiri agar tidak sampai harus keluar desa untuk bekerja.” Kalimat itu yang saya ingat setelah mengobrol dengan Kepala Desa Tembok.
Ketika sore tiba, suara ombak mulai terdengar melambat. Saat pulang, saya melihat orang-orang desa, dengan pakaian adat lengkap, bersiap untuk sembahyang bersama keluarga. Mungkin di mata mereka, sebagai keluarga para perantau, kepulangan bukan hanya sekadar tradisi, tapi juga ritual untuk menguatkan akar mereka di tanah kelahiran.
Seharian di Desa Tembok mengajarkan saya, sebagai salah satu anak perantau juga, bahwa, rumah bukan hanya tempat untuk kembali, tetapi juga sumber kekuatan yang memberi makna pada perjalanan hidup. Ada cerita, kenangan, dan doa yang mengingatkan kita untuk selalu bersyukur.
Sebagai perantau, ingatlah, sejauh apa pun langkah kaki membawa pergi, desa adalah tempat yang akan selalu menerima kita dengan tangan terbuka. Pulanglah, walau hanya sebentar. Sebab, desa adalah akar dari pohon kehidupan kita. [T]
Reporter/Penulis: Arix Wahyudhi Jana Putra
Editor; Adnyana Ole
Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.
Malam Perayaan dan Pergelaran Budaya di Desa Tembok: Kolaborasi Dua Agama
SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi orang tua Indonesia, terutama yang tumb...
MENGUNJUNGI Desa Pedawa di Kecamatan Banjar, Buleleng, yang terkenal dengan adat dan budaya yang unik, bagi publik akademik di kalangan kampus, bukan hanya untuk tujuan wisata, na...
PERNAHKAH Anda menyadari bahwa hidup kita hari ini perlahan-lahan dikendalikan oleh mantra tiga kode huruf? Dunia modern adalah rimba aksara yang serbacepat. Demi menghemat ene...
“Dini lade Pak Ngurah Rai nginep ajak pasukanne. Likangi ada, dini ada. Kak sing nawang, nak teka peteng. Di kenkenne, semengan ada bedik jumah. Nak, mekaad peteng, teka peteng. K...
Ketika diumumkan lomba dimulai, suasana ruangan mendadak dipenuhi suara riuh, sorak-sorai dan tepuk tangan sebagai dukungan dari penonton, suporter atau rekan satu hotel ataupun s...
JANGAN sepelekan tradisi menganyam. Seniman Bali, I Ketut Putrayasa membawa tradisi anyaman itu mendunia. Ia dipercaya membuat empat patung yang akan dijadikan ikon kampus di Turk...
PEED Aya atau Pawai Budaya dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII tahun 2026 akan hadir dengan wajah baru yang lebih dinamis dan atraktif. Pertunjukan seni berjalan ini...
KEMAJUAN teknologi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi, memperoleh informasi, dan belajar. Dalam hitungan detik, seseorang dapat mengakses berbagai sumber pengetahua...
DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan, bergema meneror kedua...
LANGIT biru di atas pantai dan laut, di daerah Peninsula Island, Nusa Dua, Bali, dipenuhi warna-warni layang-layang yang menari mengikuti hembusan angin laut, Minggu 7 Juni 2026....