Mahasiswa Kos dan Mahasiswa Rumahan: Punya Galau Masing-masing
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
PERKEMBANGAN teknologi komunikasi telah melahirkan banyak perubahan dalam pola komunikasi antarmanusia. Media digital maupun media sosial sebagai produk teknologi komunikasi menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan manusia.
Media sosial dapat menjadi apa saja bagi seseorang. Media sosial bisa menjadi guru bagi orang yang ingin belajar tanpa harus berada di dalam kelas. Media sosial dapat menjadi teman bagi orang yang tidak begitu suka bergaul dengan sesama.
Media sosial juga menjadi sumber informasi bagi banyak orang yang ingin melakukan perjalanan wisata. Informasi terkait objek dan daya tarik wisata dapat diperoleh melalui media sosial. Begitu pun transaksi pembayaran dapat dilakukan secara digital melalui berbagai aplikasi.
Meski demikian, media sosial juga kerap menimbulkan masalah dan kontroversi. Fenomena cancel culture yang berkaitan dengan penggunaan media sosial sering terjadi. Pernyataan, tindakan, dan perilaku seseorang dapat menyebabkan cancel culture; utamanya pada diri pesohor atau selebriti. Seorang tokoh atau selebriti yang berkomentar rasis atau melanggar norma akan mendapat reaksi negatif dari netizen di media sosial.
Dilansir dari Cambridge Dictionary, sebagaimana dikutip kompas.com (28/10/2024), cancel culture adalah fenomena sosial di mana sekelompok orang atau individu secara bersama-sama menarik dukungan dari seorang figur publik, organisasi, atau merek karena dianggap melakukan tindakan atau pernyataan yang tidak dapat diterima.
Fenomena cancel culture dipengaruhi oleh media sosial. Informasi tentang perilaku seseorang tersebar dengan cepat dan menimbulkan aksi kolektif. Bentuk cancel culture bisa berupa pengucilan maupun boikot terhadap orang dan merek tertentu. Platform seperti Instagram, TikTok, dan X sering digunakan untuk melakukan cancel culture.
Kekuatan media sosial dan persebaran yang semakin masif membuat cancel culture dapat menimpa siapa pun dan apa pun. Sektor pariwisata merupakan salah satu yang patut untuk waspada terhadap fenomena ini. Banyak produk wisata yang sensitif terhadap boikot dan penolakan di media sosial karena berbagai alasan.
Banyak kasus yang membuat wisatawan maupun netizen geram terhadap produk wisata yang mengecewakan. Karenanya, cancel culture bisa saja melanda sektor pariwisata Tanah Air. Hujatan netizen terhadap produk wisata dapat menjadi cikal bakal boikot dan penolakan.
Transportasi menjadi bidang yang rentan terhadap cancel culture. Banyak keluhan yang dilontarkan netizen terkait transportasi udara. Jadwal penerbangan yang seringkali delay banyak dikeluhkan. Begitu pula sikap dan perilaku pengemudi taksi di satu destinasi wisata yang kurang sopan, ugal-ugalan, maupun memberikan tarif tak wajar kepada wisatawan.
Akomodasi acap menjadi sasaran kejengkelan wisatawan yang kadang diunggah di media sosial. Kondisi hotel yang jelek, fasilitas kamar yang buruk dan tidak lengkap, serta makanan yang kurang enak. Kekecewaan netizen dapat disaksikan dalam review yang negatif di aplikasi pemesanan kamar hotel. Bahkan wisatawan menyarankan netizen untuk tidak menginap di salah satu hotel.
Objek dan wahana wisata tidak luput dari sasaran komentar netizen. Tidak sedikit objek wisata yang kotor, sampah berserakan, maupun wahana wisata yang sudah tidak layak pakai. Toilet di objek wisata yang jorok dan parkir kendaraan yang semerawut kerap diunggah netizen di media sosial.
Wisatawan kadang merasa dongkol ketika menikmati makanan dan minuman di satu destinasi wisata. Bukan hanya soal menu maupun rasa makanan yang dianggap tidak sesuai selera wisatawan. Harga makanan yang terlalu mahal juga dikeluhkan wisatawan. Tidak jarang wisatawan yang mengunggah nota pembayaran makanan di media sosial seraya tidak merekomendasikan netizen untuk datang ke warung atau restoran itu.
Pelayanan di destinasi wisata mendapat perhatian serius dari netizen. Review hotel dan restoran yang sering diunggah wisatawan di aplikasi pemesanan berkaitan sikap karyawan yang kurang ramah, pelayanan yang lambat, dan kurang informatif. Komentar wisatawan semacam ini dapat mempengaruhi wisatawan lain untuk tidak mengunjungi hotel dan restoran itu.
Faktor keamanan dan kenyamanan dalam berwisata mewarnai cancel culture pula. Tak jarang wisatawan dibuat kesal oleh objek wisata yang tidak aman, karena wisatawan kehilangan barang bawaan di objek wisata itu. Ketidaknyamanan wisatawan dapat juga disebabkan oleh petugas parkir di objek wisata yang melakukan pungutan liar, seperti pernah terjadi di beberapa objek wisata di Indonesia.
Media sosial kini memang telah menjadi mata, telinga, dan mulut bagi wisatawan. Kelalaian yang dilakukan pengelola objek wisata dapat berdampak pada viralnya masalah itu di jagat maya. Dampak buruk yang lebih parah adalah munculnya ajakan dari netizen untuk tidak berkunjung ke objek wisata yang bermasalah.
Tidak ada jalan lain bagi pengelola objek wisata untuk bersikap waspada terhadap fenomena cancel culture yang merugikan. Pengawasan dan evaluasi terhadap objek wisata harus secara rutin dilakukan. Paling tidak, ada tiga hal yang perlu diwaspadai pengelola objek wisata.
Pertama, kualitas produk wisata. Pengusaha dan pengelola objek wisata harus memastikan bahwa produk wisata mereka berkualitas, sehingga tidak mengundang komplain wisatawan. Kualitas produk wisata bisa mulai dari persoalan tiket hingga wahana wisata.
Kedua, pengawasan secara berkesinambungan terhadap produk wisata. Jangan biarkan parkir liar menjadi sumber masalah bagi wisatawan. Periksa secara berkala kondisi toilet di objek wisata. Masalah yang sering dianggap sepele oleh pengelola objek wisata, justru akan menjadi masalah serius bagi wisatawan.
Ketiga, perlu peningkatan profesionalisme sumber daya manusia (SDM) di sektor pariwisata. Kualitas pelayanan di sektor pariwisata sangat dipengaruhi oleh profesionalisme SDM pariwisata. Pendidikan dan pelatihan yang berkaitan dengan hospitality sangat diperlukan.
Langkah adaptif perlu dilakukan oleh seluruh pelaku di sektor pariwisata dalam menghadapi cancel culture ini. Caranya dengan memanfaatkan perkembangan teknologi komunikasi sebagai media informasi dan edukasi bagi wisatawan. Sehingga ketika terjadi keluhan wisatawan terhadap produk wisata, mereka dapat segera melakukan evaluasi dan memberi klarifikasi secara benar. [T]
Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole
BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
PADA zaman maya saat ini, seorang remaja tanpa menyentuh gadget atau handphone selama satu hari saja sudah termasuk hebat. Tapi di Desa Bungaya, Karangasem, Bali, ratusan remaja pu...
KESULITAN terbesar saya ketika harus membicarakan sajak-sajak Nuryana Asmaudi SA yang terkumpul dalam buku "Doa Bulan untuk Pungguk" (DBUP) adalah upaya menghilangkan bayang-bayang...
JIKA ingin melihat sejati-jatinya festival yang jujur, tanpa pesan ini-itu, tanpa pidato ini-itu, tanpa kampanye ini-itu, tanpa bau politik dan kekuasaan, tanpa EO dan panitia over...
MAHASISWA adalah sebutan untuk “siswa” dengan tambahan kata “maha” di depannya. Maha artinya besar. Mahasiswa tentu bukan lagi siswa biasa. Kehidupan siswa bisa bergantung pada or...
Cerpen: Made Adnyana Ole TUBUH mungil gadis itu ditusuk pedang cahaya ketika sinar purnama menerobos di sela ranting gaharu. Cahaya memantul dari tubuhnya hingga hutan kecil di tep...
IGAU andaikata rumput berwarna merah muda, sapi-sapi mungkin saja berwarna jingga. dan kau berdiri di atas batu kuning mengenakan sepatu hijau, menembaki aku dengan senapan buru l...
MASA KKN (Kuliah Kerja Nyata) kini sudah usai. Acara perpisahan di balai desa atau di lapangan umum sudah digelar dengan meriah, penuh canda sekaligus haru. Namun, setelah KKN buba...
MENYELENGGARAKAN ngaben megah menghabiskan banyak uang, diurus oleh beratus-ratus orang dengan uang ratusan juta rupiah, adalah salah satu contoh, betapa orang Bali senang sekali m...
BERBICARA sebagai orang awam, sembari turut menilai fenomena dan paradigma tentang berbagai hal yang terjadi di masyarakat, tentu dengan guyonan ringan ditambah dengan sruputan kop...