MASYARAKAT Hindu di Bali yang bersifat komunal, sangat terikat dengan kebiasaan komunitasnya (keluarga, soroh, banjar, pamaksan, desa adat dll)
Keterikatan ini tidak saja terkait perbuatan, tetapi juga kata-kata dan pikiran. Keterikatan pikiran bagi masyarakat yang bersepakat disebut juga keyakinan. Keyakinan yang disepakati oleh sebagian besar orang Bali disebut Agama Hindu (Hindu Dharma, Agama Tirta, Sanatana Dharma dll)
Keyakinan yang sesungguhnya bersifat sangat pribadi, dengan kesepakatan-kesepakatan secara sadar dan tak sadar kemudian diwariskan secara secara turun temurun, dilakukan dalam keluarga inti, keluarga besar (paibon/kesatuan garis ibu).
Di Bali kesepakatan antara keluarga diwadahi dalam bajar/dusun/berbagai bentuk lainnya, yang diperluas dalam desa/desa adat/pakraman/ dan berbagai sebutan lainnya.
Kelapa, Kepala, Warna
Kelapa (Cocos nucifera) termasuk genus Cocos dari suku aren-arenan atau Arecaceae.
Kelapa, coconut dalam bahasa Inggris berasal dari kata Portugis dan Spanyol abad ke-16, coco yang berarti "kepala" atau "tengkorak"
Kelapa yang dimaknai sebagai kepala oleh leluhur manusia, juga dimaknai sebagai pemimpin (yang mengepalai). Umat beragama/khususnya Indonesia menyakini bahwa kepala dari sebagai kehidupan, dunia hakerat adalah Tuhan, yang tercermin dari sila pertama dari Pancasila.
Dalam Negara Republik Indonesia, yang disepakati sebagai kepala adalah presiden, secara berurutan adalah gubernur, bupati/walikota, camat, kelapa desa, lurah, kelapa RT/Rw/banjar, kepala keluarga dan berbagai sebutannya.
Dalam kesepakatan bernegara terhimpun berbagai suku, ras, budaya, bahasa, adat istiadat, profesi yang dikenal dengan istilah bhinneka tunggal ika.
Umat Hindu di Bali memuja kemahakuasaan Tuhan dalam manesfestaNYA sebagai yang maha kuasa, maha serpurna, yang disimbolkan dengan buah kelapa, yang bulat sempurna.
Persembahan kepada Tuhan sebagai pemilik segalanya dilakukan dengan keyakinan sebagai manusia yang berjiwa raga, melalui pikiran, kata-kata dan perbuatan.
Kekuataan keyakinan manusia pada kesempurnaan Tuhan berbeda-beda, sesuai dengan jiwa raga, kondisi dan situasinya seorang manusia. Leluhur Bali mengajarkan rasa syukur kehadapan Tuhan bisa dilakukan dengan berbagai jalan: bakti (persembahan pala patra puspa toya biasanya dilakukan oleh pekerja pisik (petani,pengrajin), jnana (persembahan berupa pengetahuan), raja persembahan berupa ketrampilan, keahlian, kebijaksanaan dalam mengelola sumber daya alam dan manusia, dyana/yoga persembahan dengan media jiwa-raga manusia itu sendiri.
Sekala-Niskala dan Makelar
Dalam perkembangan kehidupan manusia, ketika hubungan manusia dengan manusia lainnya mencangkup ruang yang lebih luas dan bersifat global. Sistem warna/pembagian tugas yang tercipta dari tata cara mengungkap rasa syukur, memerlukan perantara, yang memunculkan empat jenis warna: sudra, wesya, ksatria, dan brahmana. Untuk menjalankan kehidupan, makan, minim, rumah dll, umat Hindu mendapatkannya dengan bekerja sesuai darmanya,
Petani, pengrajin (produsen) mendapatkan hasil dari pembeli (kunsumen) barangnya secara langsung. Waisya (pedagang/perantara) mendapatkan hasil dari selisih harga produsen dan konsumen. Ksatria/pengelola mendapatkan hasil penyisihan pajak yang dibayarkan, dan inteleltual/brahmana mendapatkan hasil dari punia/sesari yang dihaturkan.
Hidup dan kehidupan tidak hanya masalah kecukupan makan minum, rumah dll. (material), juga menyangkut keamanan, kenyamanan, dan kebahagian (spiritual). Umat Hindu di Bali menyebutkan sekala-niskala yang disimbolkan dengan warna "poleng' (hitam-putih),, sehingga harus dipimpin secara sekala-niskala, juga.
Kepala bertugas memimpin agar penerapan Pancasila berjalan lancar, aman, nyaman dan damai, sayangnya pemimpin dalam ranah negara hanya mengacu pada sektor material semata, sedang sektor spiritual terabaikan, dibiarkan berkembang liar tanpa batas.
Kepemimpin seorang gubernur, bupati/walikota dst. semestinya juga memperhatikan kesetimbangan aspek material dan spiritual, sayangnya di Bali, sektor ini terpisah benar-benar terpisah jauh.
Jika kemimpinan aspek material di Bali dibiayai, diawasi dan dikontrol oleh presiden dan lembaga yang berwenang, dalam aspek spiritual, tak dibiayai negara, sehingga tak diawasi dan tak terkontrol, sehingga berkembang liar, bebas dan nyaris tanpa batas.
Jaman dahulu, raja mengelola sektor material selalu didampingi para pendeta bijaksana yang di belakang layar memimpin sektor spiritual.
Akibatnya aspek spiritual yang didasari keyakinan pada kemahakuasaan Tuhan dengan mudah dipermainkan dimulai dari tingkatan individu, keluarga, soroh, dadia, paibon, banjar/dusun, desa/desa adat, pakraman, Bali dan Negara. Parisada dan MDA diharapkan bisa menggantikan kekosongan kehadiran Negara dalam aspek spitual menjadi hanya sekedar nama dan jabatan.
Contohnya adalah ketika krama Hindu Bali yang mengeluh tentang mahalnya harga kelapa untuk daksina, para pemimin urusan niskala Parisada, MDA, pendeta, kelian, pengertian dan menawarkan solusi. Pengetahuan cerdas, suci dan hebat yang dimiliki tak mau, tak mampu, tak siap untuk memberikan penerang bahwa kelapa hanya simbol, hanyalah buah (benda) yang bisa dipakai sebagai sarana memuja keagungan Tuhan, dan bukan Tuhan itu sendiri.
Buah kelapa memang kaya manfaat karena kandungan zat-zat pentingnya. Keluruhan bagian dari pohon kelapa dapat dimanfaatkan oleh manusia. Buah (daging dan airnya) dikomsumsi panggung maupun diolah menjadi minyak. Minyak kelapa mengandung 80-90 persen asam lemak jenuh (asam laurat 47 persen, asam miristat dan palmitat), bermanfaat untuk:
Mengurangi Risiko Perburukan Organ dan Jaringan Tubuh, Menurunkan Risiko Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah
Membunuh Bakteri
Mengurangi Rasa Lapar
Meningkatkan Kolesterol Baik
Menurunkan Kolesterol Jahat
Melembapkan Kulit
Mencegah Stretch Mark
Menyehatkan Kulit Kepala
Mengatasi Ketombe
Membantu Meredakan Gejala Alergi
Mengatasi Gigitan Serangga
Menyehatkan Rambut
Melindungi Kulit dari Sinar UV
So what? Kalau tak punya kelapa kita tak bisa memuja Tuhan, tanpa membuat daksina dari Tuhan akan marah?
Yang pertama dan paling marah adalah diri kita sendiri yang terlanjur melekat pada buah/benda yang bernama kelapa.
Mahal dan sulitnya mencari kelapa sebaiknya kita manfaatkan sebagai momentum untuk mawas diri, agar tak mudah dibohongi, dipermainkan oleh pedagang kelapa, para makelar yang mempermainkan harga barang, dan harga persembahan kita pada Tuhan.
Mari berusaha lepaskan kemelekatan pada kelapa, sebagai simbol Tuhan, ada banyak buah, benda, bahan yang bisa dipersembahan sebagai wujud rasa syukur kehadapan Tuhan.
Kemelekatan pada kelapa, semoga bisa mengantarkan kita untuk bisa secara perlahan melepaskan diri dari kemeletakan pada bentuk, warna, rupa yang bersifat material, sehingga memahami makna yang lebih esensi. Sehingga mau, mampu, dan bersemangat berkreaei untuk menciptakan beragam bersembahan yang berguna dan bermakna bagi mahluk dan alam semesta. [T]
BERDASARKAN data, selain kasus kekerasan seksual dan kasus HIV/Aids, kasus pernikahan anak juga termasuk paling tinggi di Buleleng. Sebagai ketua PKBI (Perkumpulan Keluarga Berenc...
DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus, adik ketiga kelas X, dan adik keempat kel...
sore di gerbang tim.
jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di bawah baliho usang iklan pertunjukan,membiarkan...
SETIAP kali menghadiri acara hajatan, seminar, reuni, atau pertemuan keluarga besar, ada satu momen yang hampir selalu ditunggu banyak orang: saat prasmanan dibuka. Entah mengapa,...
Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu, 6 Juni, diikuti oleh 11 peserta.
Secara...
Catatan ini diniatkan sebagai evaluasi bagi para peserta dan pembina lomba baca puisi serangkaian HUT ke-37 SMA Negeri 1 Petang. Mengingat lomba dilakukan secara daring, para juri...
Yajña: Dari Ritual Persembahan Menuju Laku Kehidupan
Banyak orang memandang yajña sebagai ritual keagamaan yang diwujudkan melalui sesajen, canang, bunga, dupa, atau berbagai b...
KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia membawa rasa kehilangan yang mengambang. Galih melangkah...
DOA UNTUK TETANGGA
Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang banyak. Agar tidak ada lagi yangsuka ber...
KEMENTERIAN Kelautan dan Perikanan bersama WWF-Indonesia, Konservasi Indonesia, GIZ Indonesia, CTI-CFF, Coral Triangle Center, Yayasan Pesisir Lestari, dan Coca-Cola Europacific P...