Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
MASYARAKAT Hindu di Bali yang bersifat komunal, sangat terikat dengan kebiasaan komunitasnya (keluarga, soroh, banjar, pamaksan, desa adat dll)
Keterikatan ini tidak saja terkait perbuatan, tetapi juga kata-kata dan pikiran. Keterikatan pikiran bagi masyarakat yang bersepakat disebut juga keyakinan. Keyakinan yang disepakati oleh sebagian besar orang Bali disebut Agama Hindu (Hindu Dharma, Agama Tirta, Sanatana Dharma dll)
Keyakinan yang sesungguhnya bersifat sangat pribadi, dengan kesepakatan-kesepakatan secara sadar dan tak sadar kemudian diwariskan secara secara turun temurun, dilakukan dalam keluarga inti, keluarga besar (paibon/kesatuan garis ibu).
Di Bali kesepakatan antara keluarga diwadahi dalam bajar/dusun/berbagai bentuk lainnya, yang diperluas dalam desa/desa adat/pakraman/ dan berbagai sebutan lainnya.
Kelapa (Cocos nucifera) termasuk genus Cocos dari suku aren-arenan atau Arecaceae.
Kelapa, coconut dalam bahasa Inggris berasal dari kata Portugis dan Spanyol abad ke-16, coco yang berarti "kepala" atau "tengkorak"
Kelapa yang dimaknai sebagai kepala oleh leluhur manusia, juga dimaknai sebagai pemimpin (yang mengepalai). Umat beragama/khususnya Indonesia menyakini bahwa kepala dari sebagai kehidupan, dunia hakerat adalah Tuhan, yang tercermin dari sila pertama dari Pancasila.
Dalam Negara Republik Indonesia, yang disepakati sebagai kepala adalah presiden, secara berurutan adalah gubernur, bupati/walikota, camat, kelapa desa, lurah, kelapa RT/Rw/banjar, kepala keluarga dan berbagai sebutannya.
Dalam kesepakatan bernegara terhimpun berbagai suku, ras, budaya, bahasa, adat istiadat, profesi yang dikenal dengan istilah bhinneka tunggal ika.
Umat Hindu di Bali memuja kemahakuasaan Tuhan dalam manesfestaNYA sebagai yang maha kuasa, maha serpurna, yang disimbolkan dengan buah kelapa, yang bulat sempurna.
Persembahan kepada Tuhan sebagai pemilik segalanya dilakukan dengan keyakinan sebagai manusia yang berjiwa raga, melalui pikiran, kata-kata dan perbuatan.
Kekuataan keyakinan manusia pada kesempurnaan Tuhan berbeda-beda, sesuai dengan jiwa raga, kondisi dan situasinya seorang manusia. Leluhur Bali mengajarkan rasa syukur kehadapan Tuhan bisa dilakukan dengan berbagai jalan: bakti (persembahan pala patra puspa toya biasanya dilakukan oleh pekerja pisik (petani,pengrajin), jnana (persembahan berupa pengetahuan), raja persembahan berupa ketrampilan, keahlian, kebijaksanaan dalam mengelola sumber daya alam dan manusia, dyana/yoga persembahan dengan media jiwa-raga manusia itu sendiri.
Dalam perkembangan kehidupan manusia, ketika hubungan manusia dengan manusia lainnya mencangkup ruang yang lebih luas dan bersifat global. Sistem warna/pembagian tugas yang tercipta dari tata cara mengungkap rasa syukur, memerlukan perantara, yang memunculkan empat jenis warna: sudra, wesya, ksatria, dan brahmana. Untuk menjalankan kehidupan, makan, minim, rumah dll, umat Hindu mendapatkannya dengan bekerja sesuai darmanya,
Petani, pengrajin (produsen) mendapatkan hasil dari pembeli (kunsumen) barangnya secara langsung. Waisya (pedagang/perantara) mendapatkan hasil dari selisih harga produsen dan konsumen. Ksatria/pengelola mendapatkan hasil penyisihan pajak yang dibayarkan, dan inteleltual/brahmana mendapatkan hasil dari punia/sesari yang dihaturkan.
Hidup dan kehidupan tidak hanya masalah kecukupan makan minum, rumah dll. (material), juga menyangkut keamanan, kenyamanan, dan kebahagian (spiritual). Umat Hindu di Bali menyebutkan sekala-niskala yang disimbolkan dengan warna "poleng' (hitam-putih),, sehingga harus dipimpin secara sekala-niskala, juga.
Kepala bertugas memimpin agar penerapan Pancasila berjalan lancar, aman, nyaman dan damai, sayangnya pemimpin dalam ranah negara hanya mengacu pada sektor material semata, sedang sektor spiritual terabaikan, dibiarkan berkembang liar tanpa batas.
Kepemimpin seorang gubernur, bupati/walikota dst. semestinya juga memperhatikan kesetimbangan aspek material dan spiritual, sayangnya di Bali, sektor ini terpisah benar-benar terpisah jauh.
Jika kemimpinan aspek material di Bali dibiayai, diawasi dan dikontrol oleh presiden dan lembaga yang berwenang, dalam aspek spiritual, tak dibiayai negara, sehingga tak diawasi dan tak terkontrol, sehingga berkembang liar, bebas dan nyaris tanpa batas.
Jaman dahulu, raja mengelola sektor material selalu didampingi para pendeta bijaksana yang di belakang layar memimpin sektor spiritual.
Akibatnya aspek spiritual yang didasari keyakinan pada kemahakuasaan Tuhan dengan mudah dipermainkan dimulai dari tingkatan individu, keluarga, soroh, dadia, paibon, banjar/dusun, desa/desa adat, pakraman, Bali dan Negara. Parisada dan MDA diharapkan bisa menggantikan kekosongan kehadiran Negara dalam aspek spitual menjadi hanya sekedar nama dan jabatan.
Contohnya adalah ketika krama Hindu Bali yang mengeluh tentang mahalnya harga kelapa untuk daksina, para pemimin urusan niskala Parisada, MDA, pendeta, kelian, pengertian dan menawarkan solusi. Pengetahuan cerdas, suci dan hebat yang dimiliki tak mau, tak mampu, tak siap untuk memberikan penerang bahwa kelapa hanya simbol, hanyalah buah (benda) yang bisa dipakai sebagai sarana memuja keagungan Tuhan, dan bukan Tuhan itu sendiri.
Buah kelapa memang kaya manfaat karena kandungan zat-zat pentingnya. Keluruhan bagian dari pohon kelapa dapat dimanfaatkan oleh manusia. Buah (daging dan airnya) dikomsumsi panggung maupun diolah menjadi minyak. Minyak kelapa mengandung 80-90 persen asam lemak jenuh (asam laurat 47 persen, asam miristat dan palmitat), bermanfaat untuk:
So what? Kalau tak punya kelapa kita tak bisa memuja Tuhan, tanpa membuat daksina dari Tuhan akan marah?
Yang pertama dan paling marah adalah diri kita sendiri yang terlanjur melekat pada buah/benda yang bernama kelapa.
Mahal dan sulitnya mencari kelapa sebaiknya kita manfaatkan sebagai momentum untuk mawas diri, agar tak mudah dibohongi, dipermainkan oleh pedagang kelapa, para makelar yang mempermainkan harga barang, dan harga persembahan kita pada Tuhan.
Mari berusaha lepaskan kemelekatan pada kelapa, sebagai simbol Tuhan, ada banyak buah, benda, bahan yang bisa dipersembahan sebagai wujud rasa syukur kehadapan Tuhan.
Kemelekatan pada kelapa, semoga bisa mengantarkan kita untuk bisa secara perlahan melepaskan diri dari kemeletakan pada bentuk, warna, rupa yang bersifat material, sehingga memahami makna yang lebih esensi. Sehingga mau, mampu, dan bersemangat berkreaei untuk menciptakan beragam bersembahan yang berguna dan bermakna bagi mahluk dan alam semesta. [T]
Kesiman, Denpasar, Bali, Sabtu Wage Julungwangi, 12/4/2025
Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor: Adnyana Ole
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...