DENGAN berkembangnya industri kreatif di era globalisasi ini, dunia seni terus bergerak cepat dengan penuh semangat yang membuat kolaborasi antar genre seni menjadi hal yang sudah biasa.
Panggung pertunjukan saat ini tidak lagi kaku dalam menyajikan satu jenis seni saja, melainkan lebih terbuka untuk dapat menyandingkan genre seni yang berbeda dalam satu ruang yang sama.
Salah satu kolaborasi yang sangat sering disuguhkan pada acara-acara adalah menggabungkan seni pertunjukan tradisional dengan seni pertunjukan modern, terutama pertunjukan musik, dalam satu panggung. Sesungguhnya tidak tepat disebut kolaborasi, karena tak ada penggabungan antara dua unsur kesenian itu. Tepatnya, bisa disebut tampil dalam satu acara di atas panggung secara bergiliran.
Tapi, apa pun namanya, dua jenis seni pertunjukan dari dua zaman yang berbeda itu selalu menarik untuk diperbincangkan. Sangat menarik, bagaikan bulan dan matahari bertemu, saling mengisi serta memperkaya suasana.
Namun apakah pertemuan selalu semulus konsep di atas kertas?
Seringkali, kolaborasi ini justru terhambat oleh satu hal yang paling mendasar yaitu ego antar pelaku seni.
Seni pertunjukan tradisional dan seni modern masing-masing pastinya memiliki filosofi, bentuk, hingga cara penyampaian yang berbeda. Seni tradisional bermula dari nilai-nilai adat tradisi dan budaya yang diwariskan turun-temurun. Indahnya seni tradisional tidak hanya terlihat dari ekspresi gerak atau bunyi, tetapi juga terlihat dari maknanya yang begitu dalam, serta kesakralan yang terdapat di dalamnya.
Seni modern tumbuh dari semangat kebebasan mengekspresikan diri, bebas mencoba hal-hal baru, serta sering juga bisa berani keluar dari kebiasaan , lebih cair dan lebih dapat menyesuaikan keadaan.
Ketika dua seni ini disatukan dalam satu ruang, sering muncul permasalahan. Salah satu contoh yang sering terjadi pada acara seni adalah pembagian panggung. Seniman tradisional sering merasa keberatan jika alat-alat musik modern seperti drum set, gitar, keyboard, hingga amplifier ditempatkan di atas panggung yang sama.
Mereka, seniman tradisional itu, berpendapat bahwa alat-alat tersebut mengganggu keindahan visual panggung tradisional, bahkan bisa juga dianggap mengganggu nilai kesakralan, Yang akhirnya beberapa di antaranya di setiap acara meminta agar alat-alat tersebut tidak dikeluarkan dulu (tidak diposisikan di panggung) atau ditutup tirai sepenuhnya saat pertunjukan tradisional berlangsung.
Sebaliknya, seniman modern sering merasa permintaan itu adalah bentuk pembatasan dalam berekspresi dan juga harus menunggu lama untuk bisa memasang perlengkapan mereka, yang menurut mereka, akan mengganggu saat mereka pentas.
Dalam beberapa kasus, ego ini menjadi konflik. Misalnya, dalam satu acara, terjadi kericuhan kecil yang membuat semangat kolaboratif berubah menjadi persaingan diam-diam antar kelompok seni.
Permasalahan ini sesungguhnya bermula pada beberapa hal.
Pertama, ketakutan hilangnya identitas budaya. Kedua, kurangnya ruang dialog kreatif yang mempertemukan antara dua seni yang berbeda tersebut. Dan, ketiga, superioritas gaya dan nilai seni.
Namun, semua permasalahan ini bisa diatasi jika semua pihak mampu membuka ruang komunikasi, saling mendengarkan, dan bersedia untuk mencari jalan tengah yang adil. Desain panggung bisa dirancang secara fleksibel dan berlapis.
Alat musik modern bisa ditempatkan di area yang bisa ditutup saat tidak digunakan, meskipun pada acara yang sama. Misalnya dalam acara menyambut Hari Sumpah Pemuda akan dilaksanakan kegiatan seni yang melibatkan pemuda-pemudi daerah, tentu saja dalam kegiatan tersebut akan ada seni tradisional dan seni modern. Nah tempatnya (venue) bisa dibedakan, seni tradisional dipentaskan di taman budaya dan seni modern bisa dipentaskan di lapangan terbuka.
Bagaimana dengan penonton? Apakah nanti tidak terbagi? Iya jelas, yang menonton juga pasti akan memilih pertunjukan seni sesuai dengan yang mereka suka, jadi yang suka seni tradisional pastinya akan lebih memilih menjadi penonton di taman budaya, begitupun sebaliknya.
Atau bisa juga di satu lapangan atau tempat pertunjukan dibuat dua panggung yang berbeda, panggung tradisional dan panggung modern. Hal tersebut dapat terlihat indah, karena kita bersama bisa melihat penonton berbaur dalam satu lapangan meskipun dengan minat yang berbeda. Namun, dengan catatan, sound system yang dihasilkan tentu juga juga harus diperhitungkan agar tak saling menganggu.
Yang paling penting juga adalah harus ada pertemuan antara dua seni yang berbeda tersebut sejak awal proses persiapan. Setiap kelompok seni harus diberi ruang untuk menyampaikan pendapat dan harapan mereka, dari sana, panitia lebih bisa menyusun skemanya dengan rapi yang membuat kolaborasi antara dua seni tersebut indah.
Pemahaman juga sangat perlu disampaikan bahwa kolaborasi bukanlah bentuk pengkhianatan terhadap tradisi, melainkan bentuk keberlanjutan yang menyesuaikan kondisi dan situasi. Seni tradisional tidak akan kehilangan maknanya jika dikemas dengan cermat dan tetap menghormati nilai dasarnya. Seni modern pun bisa menjadi jembatan agar nilai-nilai tradisional lebih bisa diterima generasi muda.
Bulan dan Matahari pastinya tidak akan bisa bertemu namun bulan dan matahari bisa dirasakan manfaatnya oleh mahluk hidup di Bumi. Artinya seni tradisional dan seni modern tidak bisa kita samakan dari segi maknanya, namun bisa dinikmati keindahannya oleh penonton. Akhirnya, seni bisa menyatukan manusia, bukan memisahkannya. Ego antar pelaku seni hanyalah hambatan yang bisa diselesaikan dengan niat dan komunikasi yang baik. [T]
DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang calon wirausaha ditanya mengenai apa y...
SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali seperti sediakala?"
Pertanyaan...
PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya di Jembrana-Bali, yang telah berpulang pada 21 Januari 20...
KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi ini: hutan-hutan terbaik yang be...
"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota Singaraja," ujar Bupati Buleleng, dr. I...
JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan akan datang orang-orang yang dan...
HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai marmer rumah mewah di kawasan elit. Suara temba...
MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA
mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata
jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta kebijakan berbe...
TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar. Di tengah gemuruh tabuh dan warna-warni busa...
RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat dikenali secara utuh dalam epik Ramaya...