JAM 18.15. Orang-orang sudah termangu—menunggu di hadapan stage terbuka Singa Ambara Raja, di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Bung Karno, di Sukasada, Buleleng, Bali, Sabtu, 5 April 2025. Dari muda hingga tua, mereka memilih tempat duduk yang nyaman di sana.
Sekaa Gong Padepokan Seni Dwi Mekar dengan baju warna putih, sudah duduk di antara alat musik gamelan. Mereka sudah duduk sekitar satu jam, sebelum para penonton berjubel penuh.
Setelah Gubernur Bali Wayan Koster dan istrinya disebut sudah datang—tentu saja bersama Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra dan Wakil Bupati Gede Supriatna—suara tetabuhan berdenyar terus, menyambut para tamu kehormatan itu ketika hendak duduk di kursi. Suara tetabuhan terus berdengung.
Penonton memadati stage Singa Ambara Raja di RTH Taman Bung Karno | Foto: tatkala.co/Rusdy
Pun para penonton memberi hormat dengan cara berdiri. Wayan Koster bersama Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna lekas memberi penghormatan pula dengan caranya sebagai pejabat. Tidak lama setelah itu, semua yang hadir tetap berdiri, baik penonton –rakyat—maupun pejabat, dan lanjut menyanyikan lagu Indonesia Raya.
... Indonesia tanah yang mulia Tanah kita yang kaya …
Lagu kebangsaan malam itu lebih terasa—menyecap ke batin, menggugah rasa nasionalisme. Masyarakat seperti tanpa kelas duduk di tribun, menyanyi bersama. Disusul pembacaan lima butir utuh Pancasila oleh Ketua DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya. Rasa nasionalisme semakin menancap kuat-kuat.
Para penonton, yang sebagian besar itu adalah masyarakat Buleleng, lekas menyebut ulang—Pancasila ketika dibacakan satu-satu.
O, ini malam, penuh sejuk ketika falsafah bangsa ditabur. Mungkin karena ini acara sakral, HUT Kota Singaraja yang ke-421. Mengingat leluhur dahulu yang memuliakan kota dengan darah. Dengan perang.
Salah satu penari dalam Oratorium; Paripurna Jayeng Wikrama | Foto: tatkala.co/Rusdy
Beberapa penampilan menarik malam itu, ditunggu banyak penonton. Ada pentas utama bernama oratorium. Tak tahu apa arti istilah itu dalam konteks seni pertunjukan di Bali. Yang jelas, pertunjukan itu, ya, sebelas-duabelas dengan drama tari, atau sendratari. Ada juga gong kebyar mebarung dari Padepokan Seni Dwi Mekar Singaraja dan Sanggar Seni Anglo Cita Suara dari Banjar Panarungan Singaraja.
Sugi Hartana, salah satu penonton asal Gerokgak—yang masih berstatus mahasiswa itu, sudah ada sejak jam lima sore. Ia duduk di tribun baris ke empat dari depan panggung sisi selatan. "Karena pacar saya nari," katanya sambil tersenyum.
Katanya, ia memang memang suka menonton tarian tradisional, sehingga dengan setia menantikan sang pacar menari dalam oratorium itu. Oh, ya, pertunjukan utama itu bertajuk “Oratorium; Paripurna Jayeng Wikrama—Kesempurnaan menuju kejayaan dalam keunggulan dan keberagaman”.
Pertunjukan oratorium itu menceritrakan sesosok hebat dari Bali Utara, I Gusti Anglurah Panji Sakti.
Ide cerita dan penata tabuhnya oleh Gede Pande Olit. Kemudian penata tari atawa koreografernya oleh I Gede Gusman Adhi Ginawan. Dan pertunjukan ini ditampilkan oleh Paguyuban Seniman Bali (PSB) Kabupaten Buleleng yang bekerja sama dengan Sanggar Seni Santhi Budaya Singaraja, Sanggar Seni Manik Utara Singaraja, dan Padepokan Seni Dwi Mekar Singaraja.
Raya HUT Kota dalam Pertunjukan
Tetabuhan dengan nada menghentak berdengung kencang membuka dramatari yang disebut oratorium itu. Beberapa penari perempuan muncul. Kemudian beberapa prajurit laki-laki datang menyusul tarian perempuan itu. Mereka menari. Yang laki-laki menari bak prajurit perang. Yang perempuan seperti dayang-dayang yang anggun. Banyak sekali. Cantik sekali. Gagah sekali.
Satu adegan dalam Oratorium; Paripurna Jayeng Wikrama | Foto: tatkala.co/Rusdy
Tarian khas Papuadalam Oratorium; Paripurna Jayeng Wikrama | Foto: tatkala.co/Rusdy
Asap buatan terus mengepul di sisi panggung sebelah utara—kadang menghiasi tarian menjadi tampak lebih bagus, kadang terasa sangat berlebihan. Kadang asap itu menimbulkan nuansa magis, kadang agak norak. Tapi semua penonton terpaku, takjub. Asap-asap itu masuk ke sela penonton juga bersama tetabuhan yang nyaring bunyinya dibawa angin malam.
Para penari dan penabuh, jangan ditanya lagi, bagaimana mereka begitu lihai, sehingga mata dan telinga penonton tak bisa terlepas dari panggung. Mereka memang penari dan penabuh pilihan di Buleleng.
Lihat ketika tokoh Anglurah Panji Sakti menunjukkan karismanya, duduk di atas pelana gajah, dengan iringan pasukan yang gagah-gagah. Panggung seperti menyuburkan imajinasi tentang bagaimana jayanya dulu Buleleng dengan raja besar Anglurah Panji Sakti.
Penonton di tribun panggung Singa Ambara Raja berjubel | Foto: tatkala.co/Rusdy
O, malam itu, penonton tambah banyak. Berjubel di tribun. Tambah seru. Semua mata dipasang baik-baik. Fokus.
Dan Sugi Hartana mengangkat tinggi HP-nya, mengambil video keseluruhan isi pementasan. Pacarnya, masih menari di sana—dan disorot terus-terus pakai kamera HP. "Itu pacar saya!" tunjukannya ke salah satu barisan penari yang membawa payung merah—seperti bunga.
Oratorium itu dinikmati sangat khusyuk oleh Sugi Hartana. Bukan hanya karena pacarnya ada di atas panggung, tapi memang karena yang diceritakan adalah sosok penting. “Saya baru tahu cerita ini.” lanjut laki-laki itu masih menonton.
Begini kisah itu: Setelah menang bertempur di tanah Jawa, tepatnya di Blambangan, Raja Buleleng I Gusti Anglurah Panji Sakti pulang ke Buleleng dengan anugerah seekor gajah dan pasukan dari Jawa.
Dengan jiwa besar I Gusti Anglurah Panji Sakti membuka hati yang lebar untuk menerima dan mengajak segenap pasukan Blambangan untuk ikut mengiringi perjalaan dari tanah Jawa menuju ke Buleleng. Di Buleleng, pasukan Blambangan yang ikut ke Bali diberikan tempat tinggal atau wilayah di beberapa desa di Kabupaten Buleleng.
Satu adegan dalam Oratorium; Paripurna Jayeng Wikrama | Foto: tatkala.co/Rusdy
Dari penggalan cerita itu bisa kita lihat jiwa besar seorang raja yang dengan penuh cinta kasih dan kedamaian untuk merangkul segenap lawannya di medan tempur, ketika kemengangan telah diraih untuk memajukan dan menunjukkan harkat martabat manusia yang unggul demi kejayaan Bumi Panji Sakti. Perbedaan dan keberagaman dilebur menjadi satu untuk rasa cinta tanah Denbukit.
Oratorium atau pertunjukan drama tari itu, selain bercerita tentang kehebatan dan jiwa besar Anglurah Panji Sakti, juga mengetengahkan keberagaman seni budaya Indonesia. Barangkali ingin menunjukkan bahwa Buleleng adalah daerah yang beragam, di mana berbagai suku, etnis dan budaya berbaur dan hidup berdampingan dengan damai.
Di tengah drama tari itu muncul berbagai tarian Nusantara, seperti tarian khas Sumatra, Minangkabau, Kalimantan dan Papua. Ada juga atraksi barongsai. Panggung bak miniatur sebuah bangsa, yang kaya, beragam, dan multikultural.
Tarian khas Kalimantandalam Oratorium; Paripurna Jayeng Wikrama | Foto: tatkala.co/Rusdy
Tarian khas Minangkabaudalam Oratorium; Paripurna Jayeng Wikrama | Foto: tatkala.co/Rusdy
Tarian khas Sumatra dalam Oratorium; Paripurna Jayeng Wikrama | Foto: tatkala.co/Rusdy
Walaupun secara tematik tari-tarian Nusantara itu terkesan tempel-tempel, tapi secara emosional tari-tarian itu sepertinya berhasil membangkitkan semangat nasionalisme, kecintaan pada budaya bangsa, tentu juga kecintaan pada budaya Buleleng. Penonton bersorak. Penonton terhibur.
Gubernur Koster ke Atas Panggung
Oratorium itu berhasil membuat acara pembukaan Malam Apresiasi Seni (MAS) serangkaian HUT Kota Singaraja pada Sabtu malam, 5 April, punya makna lebih istimewa, bukan sekadar seremonial sebuah perayaan.
Di sela tarian bola bercahaya yang dimainkan setelah semua tarian daerah selesai, di akhir pementasan, Gubernur masuk disambut MC untuk membuka keris dari sangkarnya. Wayan Koster naik ke atas panggung didampingi Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna.
Gubernur Bali Wayan Koster (tengah), Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra (kiri) dan Wabup Supriatna (kanan) membuka Malam Apresiasi Seni HUT ke-431 Kota Singaraja | Foto: tatkala.co/Rusdy
Musik berhenti pelan dan semua penari itu berdiri di belakangnya. Dan payung itu terus diputarkan dan kipas masih digibaskan. Maka, berbicaralah sang Gubernur terpilih memberi kabar gembira.
"Pembangunan shortcut terus berlanjut. Tahun ini titik 9-19 (akan dibangun) sampai tahun 2026. Kemudian, akan dilanjutkan titik dengan titik 1-12 di Bangkiang Sidem sampai Ambengan. Astungkara berjalan sukses. Sekarang (masih) proses tender shortcut 9-10,” kata Koster, menyambut masyarakat dengan kabar gembira—pembangunan.
Di sana, di sela ia berdiri, keris pun dicabut dari sangkarnya. Dan Malam Apresiasi Seni—dalam serangkaian HUT ke-421 Kota Singaraja resmi dibuka. Suara tetabuhan kembali riuh terdengar memenuhi ruangan. Tarian kembali hidup memenuhi panggung. [T]
Repoter/Penulis: Sonhaji Abdullah Editor: Adnyana Ole
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...