SEJAK awal 1980-an,ogoh-ogoh menjadi tradisi baru menyertai upacara ngerupuk menjelang Nyepi. Tradisi ini dimulai dari Kota Denpasar yang kala itu menjadi ibu kota Kabupaten Badung sekaligus ibu kota Provinsi Bali. Dari Kota Denpasar, ogoh-ogoh lalu menyebar ke kota kabupaten, terus menyeruak sampai ke desa-desa. Denpasar sebagai kota urban adalah tempat pergulatan dan pergumulan orang-orang hebat desa berdialektika menciptakan inovasi dan kreativitas, termasuk dalam membuat ogoh-ogoh.
Kini ogoh-ogoh bukan hanya di Bali, melainkan juga menggedor orang-orang Bali di daerah trasmigran bahkan sampai kaum diaspora Bali di luar negeri. Karya manusia Bali begitu mendunia.
Kini, setiap ngerupuk menjelang Nyepi ogoh-ogoh selalu ditunggu-tunggu. Bahkan, ngerupuk itu identik dengan ogoh-ogoh itu sendiri. Ngerupuk tanpa ogoh-ogoh identik dengan ngaben tanpa wadah bade. Padahal, keduanya tidak wajib. Namun, saya sadar sesuatu yang diulang-ulang dan diviralkan melalui medsos, bisa dipercaya secara membabi buta, sebagai kebenaran baru.
Kebenaran baru berbeda dengan dengan kebenaran itu sendiri. Apa boleh buat, rendahnya literasi membuat netizen tidak sadar untuk mencermati dan mengkritisi. Inilah buah dari pendidikan berbasis schrool yang mengabaikan etika school academic. Kecepatan diburu mengabaikan kedalaman. Pembelajaran berbasis deef learning yang digagas Mendikdasmen Abdul Mu’ti hanya nyaring di permukaan sebagai representasi politik pencitraan dengan mengedepankan pilihan berbasis jaya suara, minim jaya laksana niretika.
Ketika terjadi musibah badai angin ribut menjelang ngerupuk pada Nyepi Isaka 1947 pada Jumat, 28 Maret 2025 dan Nyepi yang bersamaan dengan Tumpek Wariga, Sabtu Kliwon 29 Maret 2025, Festival Ogoh-ogoh pun dijadikan kambing hitam oleh seorang tokoh. Tidak pelak lagi, terjadi silang wacana dengan kekuatan argumentasi masing-masing.
Bahkan, ada juga yang netizen menyebut bahwa Nyepi 1947 telah bergeser waktunya, yang katanya seharusnya jatuh pada Tilem Kasanga, 28 Maret 2025. Maka, makin lengkaplah rumpangnya paragraf kebalian dengan kedangkalan pemahaman. Maklumlah, tokoh tertentu menjadikan wacana ogoh-ogoh ngerupuk sebagai panggung untuk meraih simpatik.
Sementara itu, netizen berupaya mendapat follower sebanyak-banyaknya. Sampai kapan musibah komunikasi ini akan berakhir ?
Baiklah tinggalkan saja wacana rumpang itu, kita fokuskan pada Festival Ogoh-ogoh yang bergelegar makin gagah menyeruak sampai ke desa-desa hingga ke pelosok-plosok. Ini mengingatkan saya pidato Bung Karno yang menusuk jantung hati para pengagumnya yang buta huruf. Bung Karno memiliki kekuatan seni orator tingkat dunia, kini level Bung Karno tak terkejar. Bahkan sekelas pemimpin nasional pun, bahasa komunikasinya belepotan dan menjadi bahan ledekan. Festival Ogoh-ogoh di Bali menjelang Nyepi mengalahkan wacana pemimpin.
Pertama, viralitas komunikasi ogoh-ogoh menyentuh jantung emosi masyarakat sebagai hiburan berbasis kerja kreativitas dan inovasi berkearifan lokal. Prof.Dr. Ida Bagus Mantra, mantan Gubernur Bali, berujar, “Orang Bali mesti menyadari diri. Menyadari diri adalah sumber kreativitas”. Pernyataan penggagas Pesta Kesenian Bali itu diterjemahkan oleh seniman muda ogoh-ogoh dengan karya estetik dan kritis menangkap fenomena aktual yang terjadi menimpa Bali, seperti kisah hantu yang disebut tonya kehilangan tempat tinggal divisualisasi dalam Ogoh-ogoh Bregan Pering.
Atau Ogoh-ogoh Tulak Tunggul yang bermaterikan bacaan spiritual untuk menolak energi negatif yang mengintip kelalaian manusia. Kedua ogoh-ogoh ini menyajikan kebaruan (novelty) setara karya disertasi (S-3). Sungguh pencapaian estetik memantik empatik penonton yang terhibur dan tertuntun dengan mahakarya otentik anak muda Bali. Capaian itu mengingatkan saya ketika prosesi ngajum sawa saat ngaben digelar. Badan manusia disimbolkan dalam kajang (kain berlukis simbol badan manusia) dengan aneka aksara di dalamnya.
Aksara itulah yang diolah kemudian divisualisasikan dan dihidupkan dalam karya estetis etis humanis. Aksara adalah simbol dan simptom peradaban dengan jumlah terbatas (18 aksara Bali) tetapi dengan produk narasi yang tidak terbatas. Ini juga mengingatkan saya pada teori trasformatif generatif dalam studi linguistik dari Chomsky linguis berkebangsaan Amerika.
Kedua, festival ogoh-ogoh mendekatkan anak muda Bali ke guyub banjar sebuah organisasi tradisional yang visioner menangkap dinamika zaman. Di sini mereka belajar ilmu kehidupan berbasis sejarah berpendekatan trisemaya dalam linearitas garis waktu. Trisemaya yaitu atita (masa lalu), wartamana (kini), anagata (masa depan) sejalan dengan pidato Bung Karno tentang Jas Merah (jangan sekali-kali meninggalkan sejarah).
Begitulah, tetua Bali mendidik dengan laku tindak (kerja) yang disebut karmayoga buat generasi mudanya sebagai bagian dari ibadah persembahan. Galib diketahui Bali dikenal dengan Pulau Persembahan termasuk festival ogoh-ogoh sebagai karya seni. Tidak berlebihan bila orang luar Bali mengaku selalu menemukan sudut lain dan inspiratif di Bali walaupun berkali-kali datang kembali. Seakan Bali berbisik, “Barang siapa pernah menginjakkan kaki di Bali, Dewata akan memanggilmu kembali. Datanglah ke Bali sebelum kau mati”.
Ketiga, ogoh-ogoh yang hadir belakangan sedangkan ngerupuk sudah diimani sejak dulu kala dengan tradisi mabuhu-buhu (mengelilingi desa membawa api obor) mengiringi tradisi tawur agung secara berjenjang dari tingkat desa adat, kecamatan, kabupaten, hingga tingkat Povinsi Bali yang dipusatkan di Madya Mandala Besakih sebagai Pura Ibu (mother tample).
Melalui utusan kabupaten/kecamatan/desa adat se-Bali nunas tirta dan nasi tawur ke Besakih sebagai anugrah untuk nyomia buta kala dengan harapan Bali aman, nyaman, tenang, degdeg ajeg. Tatanan itu menandakan bahwa spiritual manusia Bali seirama dengan sistem birokrasi berjenjang bermula dari tingkat desa. Jika di Bali dikenal adanya dua desa yang menyatu (desa adat dan desa dinas) adalah cermin menyatunya kekuatan purusa (ayah) dan pradana (ibu).
Itulah gambaran manunggalnya Kawula-Gusti, menyatunya pemimpin dengan rakyat yang dipimpin, tak ubahnya bunga kamboja (Bahasa Bali : Jepun) yang menyatu antara bunga dan sarinya.
Begitulah Bali beritual menyambut Tahun Baru Isaka 1947 penuh simbolik yang mungkin tidak banyak dihayati maknanya oleh para pengarak ogoh-ogoh. Mereka meluber dalam euphoria persembahan menuju proses menjadi sebagai mana diisyaratkan dalam dunia pendidikan. Mendidik tidaklah mendadak, perlu waktu berproses untuk menjadi.
Berbeda dengan perayaan menyambut Tahun Baru Masehi, Nyepi sebagai pergantian tahun hingar-bingar semalam sebelumnya, sepi hening gelap sesudahnya, walaupun hanya sehari. Inilah furifikasi ala Bali masuk ruang gelap dalam sepi hening reflektif, kontemplatif, meditatif menuju kebaruan dan kedewasaan sebagai cara mengaktualisasikan pembangunan berkelanjutan dan berkeseimbangan.
Dengan begitu, Nyepi adalah teks kehidupan yang padu bersenyawa secara kohesif dan koherensif menjaga Bali dari kedalaman makna di tengah kedangkalan informasi pendek di media sosial. Jangan sampai berenang dikedangkalan tanpa menyelam di kedalaman samudera luas mengangkat Mutiara ke permukaan yang terpendam di dasarnya.
Begitulah Hindu tampil di permukaan dengan meriah ogoh-ogoh penuh simbolik. Diperlukan pisau tajam analisis agar bisa dikupas dengan baik dan benar. Ibarat mengupas bawang, lapis demi lapis yang berakhir dengan tetesan air mata untuk penyucian agar bisa melihat yang sepantasnya dan sepatutnya.
Begitulah Ogoh-ogoh yang makin gagah menyambut sepi hening Nyepi. Festival Ogoh-ogoh di seluruh Bali saat ngerupuk pada Jumat, 28 Maret 2025 makin mengukuhkan Bali sebagai negara teater sebagai dilekatkan oleh Clifford Geertz.
Festival ini nyaris berimpitan dengan malam takbiran yang ditandai dengan kemeriahan merayakan kemenangan setelah berperang melawan hawa nafsu sebulan dalam puasa Ramadan bagi umat Islam. Sungguh toleransi indah dalam keberagaman yang saling beriringan. Selamat Nyepi Tahun Baru Isaka 1947. Selamat Idul Fitri 1446 H. Mohon maaf lahir batin. [T]
LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang ketika sebuah suara mulai terdengar p...
DESA Mengwi yang dulunya sebagai pusat kerajaan mewarisi berbagai kebudayaan, tradisi dan nilai-nilai luhur yang sangat penting bagi kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Karena...
PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit memudar dari kelam menuju keabu-abuan, lalu menyala...
DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli dengan menyisihkan upah sebagai wartawan.
Tidak...
Jauh sebelum para undangan itu hadir, karya seni rupa berbagai ukuran sudah terpasang rapi pada dinding tembok putih. Lampu sorot masih mati, dan ruangan masih lengang. Kalau bera...
MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor 30 T...
SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda, kali pertama berenang di pantai, kali pe...
Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api itu berputar-putar. Juga roh-roh y...
— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026
Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka atau membiarkan beroperasinya fasilitas...
Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026
---
PENDIDIKAN selalu menjadi "h...