HUJAN deras sejak siang mengguyur di Les Ngembak Festival 2025 pada Ahad, 30 Maret 2025, di Pantai Penyumbahan, Desa Les, Kecamatan Tejakula, Buleleng-Bali. Orang-orang sudah ramai. Dan hujan mengkerutkan jidat mereka.
Para pedagang kuliner menjadi stres, tukang sound apalagi, karena aliran listrik agaknya terganggu oleh hujan.
Di stand-stand jajanan misalnya, lampu-lampu menjadi hidup–mati alias ngadat. Dan dari panggung utama yang jaraknya tidak jauh dari garis pantai, terlihat jukung nelayan terombang-ambing oleh ombak di pantai—seolah hendak melaut sendiri.
Orang-orang bertahan di sela hujan untuk menyaksikan Les Ngembak Festival 2025 | Foto: tatkala.co/Rusdy
Pula dari arah laut, angin cukup kuat menerpa semua yang terpampang di garis pantai, termasuk panggung. Semua kepala orang-orang tampaknya benar-benar pusing karena hujan tak kunjung reda sejak siang hingga sore.
Padahal tanah-tanah sudah becek, stand-stand kuliner tergenang air. Orang-orang yang tumpah di sana tetap diam. Mereka tak pergi, Mereka menunggu. Di sela hujan masih turun misalnya, ada pengunjung yang menggendong anaknya menggunakan jas hujan, menggunakan payung.
Ada pula yang rela basah-basahan menantikan Les Ngembak itu akan dibuka sebentar lagi setelah hujan agak reda. Bukan lagi abu-abu, sebentar lagi langit menjadi gelap alias malam. Menandakan bahwa hujan, memang cukup lama turun.
Lekas tukang soundsystem menyambut waktu baik itu, mengecek sound—hidup mengeluarkan suara lebih nyaring. Dua MC masih testas-testas mencoba mic mereka juga sudah bisa menyala atau belum.
Tiba-tiba sebuah lagu keluar dari dalam sound…
Semua kata rindumu Semakin membuatku tak berdaya Menahan rasa ingin jumpa Percayalah padaku aku pun rindu kamu..
Lagu Mp3 dari Dewa 19—yang berkumandangitu, setidaknya memberi tanda bahwa acara akan segera dimulai. Dari kejauhan orang-orang mulai mendekat—gembira, mereka yang datang merasa hangat oleh musik yang menyala sebentar.
Tari Nelayan pada Les Ngembak festival 2025 | Foto: tatkala.co/Rusdy
Baleganjur anak-anak dalam Les Ngembak Festival 2025 | Foto: tatkala.co/Rusdy
Bukan tanpa sebab mengapa masyarakat di sana setia—tak hengkang kaki pergi ke rumah masing-masing walaupun sudah menggigil tubuh basah. Ngembak memang sudah menjadi satu tradisi penting di Desa Les pasca Hari Raya Nyepi.
Sehingga Les Ngembak Festival 2025 dengan tema “Sea Summit NortheastBali, Art-Culture-Culinary and Nature”. Menjadi momentum yang lain, yang dinantikan mereka setelah dua tahun lalu sudah berjalan.
“Festival ini merupakan event tahunan yang bertujuan untuk memperkenalkan potensi-potensi yang ada di Desa Les, baik dari potensi bukit hingga bahari serta menjaga semangat Desa Les sebagai Juara ADWI (Anugerah Desa Wisata Indonesia) tahun 2024 kemarin,” kata Perbekel Desa Les Gede Adi Wistara.
DJ Asmara Koplo pada Les Ngembak Festival 2025 | Foto: tatkala.co/Rusdy
Acara itu dibuka dengan Tari Panyembrama, tarian penyambutan tamu yang diciptakan oleh I Wayan Berata sekitar tahun 1971. Tarian itu biasanya dimainkan oleh orang dewasa, di Les Ngembak Festival 2025, tarian itu ditarikan oleh anak-anak.
Diantaranya Ira (kelas 1 SD), Dhira (kelas 2 SD), Luh Nik (kelas 4), dan Valen kelas 4. Tak kalah keren dengan orang dewasa, di atas panggung, tangan mereka yang lentik dan mungil itu, juga meliuk—lihai, sambil membawa sampian gonjer yang berisikan bunga-bunga.
Setelah lama menari dengan posisi berdiri, mereka kemudian saling berhadap-hadapan membentuk pola berpasangan. Tangan yang mungil, mata yang lentik dan kekanak-kanakan, memperlihatkan mereka sebagai anak-anak yang ceria di atas panggung. Siap menyambut tamu, menyambut mereka yang sudah datang di depan panggung.
Modern dance pada Les Ngembak Festival 2025 | Foto: tatkala.co/Rusdy
Lantas mereka setengah duduk dari berdiri, dan terus meliukkan tangan—menari dengan posisi seperti itu. Dari ritme musik lebih slow di tengah permainan, musik berubah ritmenya mengeras dan cepat kemudian, dan keempat penari itu lekas berdiri memperlihatkan estetik gerak nyambi menaburkan bunga.
Ya, barangkali mereka hendak menyampaikan pesan melalui simbol tadi, "Selamat datang di Festival Desa kami, selamat merayakan Ngembak”
Menanam Tunas Desa, Menarik Mereka yang Muda ke Akar
“Bedanya festival tahun lalu dengan sekarang, kami menarik akar tradisi sebagai wacananya lebih kuat. Sehingga bukan sekadar hiburan semata, tetapi juga agar lebih mengedukasi mereka mengapa acara ini penting dilaksanakan terutama pada generasi muda,” kata Nyoman Nadiana, ketua pelaksana Les Ngembak Festival.
Sampai di situ, Don Rare—panggilan akrab Nyoman Nadiana— juga menegaskan festival ini tidak lagi sekadar tentang pengembangan pariwisata desa, atau memperkenalkan wisata dalam sebuah table, misalnya.
Tetapi juga bisa menjadi satu ruang untuk menumbuhkan kembali masyarakat setempat lebih mengenal desanya sendiri, mengenal rumahnya sendiri, terutama pada generasi muda melalui festival ini, sebagai proses belajar.
Tari kebyar duduk pada Les Ngembak Festival 2025 | Foto: tatkala.co/Rusdy
Agar mereka paham—dari apa yang mesti dikembangkan selain keramaian: Ayo Melali ke Desa Kami. Yang lebih penting, katanya, adalah mengembangkan Sumber Daya Manusia-nya, dan mengaktivasi anak-anak mudanya agar tidak tergiur dengan keriuhan kota.
Kesadaran semacam itu sedang dikuatkan lagi, agar anak-anak muda bisa berbuat sesuatu di desa, bukan sekadar mengandalkan Nyegara Gunung sebagai berkat—kekayaan organik.
Melalui festival memang wacana untuk merawat alam, mengeksplor wisata sudah keras dikampanyekan. Tapi di festival ke-tiga ini, para anak muda kembali digenjot—terlibat secara pementasan dan konsep.
Tari Nelayan pada Les Ngembak festival 2025 | Foto: tatkala.co/Rusdy
Salah satunya pada pelatih tari masih muda, Ayu Restia. Di Desa Les, Ayu menjadi remaja yang masih bertahan dengan tari tradisional di Desa Les. Ia mengempu anak-anak di sanggar tari tempatnya dulu belajar, Sanggar Tari Labda Manohara.
Selain menjadi panitia, ia juga menjadi bagian penting di belakang panggung untuk mempersiapkan pertunjukan, yaitu Tarian Panyembarama dan Tarian Nelayan.
"Anak-anak latihannya satu bulan. Kesulitannya gak ada tempat latihan saja. Bahkan terkadang kehujanan, kadang kepanasan karena dusun ada aktivitas ogoh-ogoh kemarin,” kata Ayu Restia setelah melihat pementasan Tarian Panyembrama selesai ditarikan.
Melatih Ira, Dhira, Luh Nik, dan Valen—dalam Tarian Panyembrama, menurut Ayu tidak terlalu sulit. Karena mereka berempat sebelumnya sudah belajar, katanya, bahkan sudah menguasai beberapa tarian seperti Cendet dan Condong.
“Setelah banyak mengobrol dengan Komunitas Mahima dan Tatkala.co, di festival tahun depan, kami akan mencoba memasukkan perlombaan sastra, dan mengajarkan anak-anak menulis (setidaknya) tentang desanya sendiri. Ini rencana tahun depan, semoga dananya mencukupi. Semoga.” kata Nyoman Nadiana, berharap tahun depan lebih edukatif selain rekreatif.
Hujan masih turun, air masih belum surut di stand-stand jajakan. Tapi acara masih berjalan, dan orang-orang tetap masih bertahan. Untuk menghangatkan tubuh menantikan pertunjukan baleganjur anak, Tari Nelayan, Tari Kebyar Duduk oleh anak-anak.
Juga ada dance modern dari perempuan remaja Desa Les, karaoke “Melali ke Desa Les”, dan pertunjukan dari band lokal bernama Old Brother X Vicky Crowpost itu, mereka sesekali menengguk arak, meminum kopi, membeli bakso dari jajanan lokal.
Di sana, juga ada dua guestar terbaik dihadirkan panitia sebagai hiburan totalitas masyarakat desa. Yaitu Band Navicula dan Asmara Koplo. Suasana basah, betul-betul dirasakan enjoy saat guestar tampil. [T]
Repoter/Penulis: Sonhaji Abdullah Editor: Adnyana Ole
DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu bergerak perlahan melintasi Jalan Ngurah Rai menuju Gedung D...
Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan
TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali. Ledakan bom merenggut ratusan nyawa dan menggunca...
NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan usaha, hingga berbagai tr...
PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati....
HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Iya, hampir saja. Itu berarti b...
Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi dan tiang-tiang bangunan ikut...
KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses pemulihan roh kebudayaa...
IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama berhenti diajukan m...
PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.
Bagi saya, it...