Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
SEHARI sebelum Nyepi, 28 Maret 2025, umat Hindu di seluruh Bali, juga di Nusantara, melaksanakan pengerupukan, sebuah kegiatan keagamaan yang bertujuan untuk mengusir energi negatif bhuta kala di lingkungan rumah dan sekitarnya.
Di Desa Padangbulia, Buleleng-Bali, kegiatan mengusir energi-energi negatif dilakukan dengan ritual yang cukup berbeda dengan desa-desa lain di Bali. Pada saat pengerupukan, selain pengarakan ogoh-ogoh dan meamuk-amukan atau perang api, juga dilakukan ritual ngoncang.
Apa itu ngoncang?
Ngoncang adalah kegiatan memukul-mukul ketungan, persis seperti orang yang sedang menumbuk padi. Ngoncang ini memiliki perbedaan dengan menumbuk padi atau nebuk.
Kalau nebuk, di dalam ketungannya tentu ada padi. Kalau ngoncang, di dalam ketungan itu kosong. Karena kosong, maka, ketika dipukul-pukul, ketungan itu menimbulkan suara yang khas dan cukup keras menyerupai suara gambelan.
Ngoncang biasanya dilakukan oleh warga, terutama ibu-ibu, satu grup berjumlah antara 5 sampai 10 orang, tergantung panjang ketungannya.

Bapak-bapak di Desa Padangbulia ngoncang saat hari pengerupukan sebelum Nyepi | Foto: Dok. Dek Bem
Mereka akan secara bersama-sama memukul-mukul kentungan dengan tempo yang berbeda-beda. Ada pemukul ada yang menciptakan tempo yang cepat, ada yang sedang, ada yang acak, dan ada juga yang menciptakan tempo lambat. Suara pukulan mereka bersahut-sahutan, persis seperti tempo metronome.
Sehingga terciptalah suara suara yang sederhana namun menarik.
Ibu-ibu para penabuh ketungan atau kita sebut saja tukang ngoncang atau pengoncang. Mereka berjejer di pinggir jalan. Jalanan adalah panggung mereka untuk mempertunjukkan atraksi memukul-mukul ketungan. Ketungan itu dipukul dengan pemukul yang terbuat dari kayu, biasa disbut lu.
Apa itu ketungan? Ketungan adalah sebuah alat untuk menumbuk padi di masa lalu yang terbuat dari batang kayu yang cukup besar dengan panjang sekitar 3 sampai 5 meter.
Batang kayu tersebut dilubangi di bagian tengahnya sebagai tempat untuk menaruh padi ketika akan ditumbuk. Alat penumbuknya atau pemukulnya disebut dengan lu yang juga terbuat dari kayu yang memiliki panjang sekitar 1 meter sampai 2 meteran.
Adapun tujuan dari kegiatan itu adalah untuk mengusir atau meleyapkan energi-energi negatif dari bhuta kala. Di masa lalu ngoncang juga dilakukan ketika ada gerhana bulan
Pada saat gerhana bulan, masyarakat akan secara spontan mereka memukul-mukul kentungan atau ngoncang agar gerhana bulannya cepat berlalu dan bulan kembali bersinar. Namun seiring waktu kegiatan itu mulai ditinggalkan.

Warga di Desa Padangbulia ngoncang saat hari pengerupukan sebelum Nyepi | Foto: Dok. Dek Bem
Banyak faktor yang menyebabkan mulai hilang tradisi ngoncang, terutama saat gerhana bulan atau gerhana matahari. Antara lain penyebabnya karena sudah hampir tak ada lagi orang yang menumbuk padi. Jadi otomatis keberadaan ketungannya pun sudah semakin langka.
Ngoncang memiliki makna yang mendalam karena kegiatan ngoncang itu adalah sebuah peroses untuk menciptakan keindahan gerak keharmonisan, kerjasama dan juga penyelarasan rasa melalui peran yang berbeda-beda. Bersama tidak harus sama.
Semoga ke depan nanti masyarakat tetap masih mau untuk melakukan atau menjalankan tradisi ngoncang ini sehingga tetap ada dan terus memberikan irama irama sederhana namun penuh makna di tengah segala gempuran teknologi, entah bagaimanapun caranya. [T]
Penulis: Gede Dedy Arya Sandy
Editor: Adnyana Ole
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...