ABDUL tergesa-gesa ke pasar Singa Mandawa. Sehabis salat subuh, ia disuruh ibu untuk membeli sembako untuk keperluan puasa yang akan dilaksanakan besok. Harus pagi-pagi sekali, agar mendapat harga lebih murah. Ibu biasa berhemat dalam berbelanja. Sebagai seorang perantauan dari Lombok, ia tak ingin memboros di Bali. Lagi pula, pekerjaannya yang hanya berjualan canang mana cukup untuk bermegah-megahan.
Uang di saku Abdul hanya berisi tiga lembar pecahan seratus ribu. Kata ibu, uang itu hanya boleh untuk belanja yang perlu-perlu saja. Jika ingin membeli makanan, jatahnya hanya lima ribu perak. Alamak, uang segitu untuk beli nasi jinggo saja tak cukup.
Ia telah membeli bahan-bahan pokok yang dituliskan ibu dalam daftar belanjaan. Tinggal daging sapi yang belum ia beli. Makan daging sapi untuk berbuka puasa sangat baik, kata ibu. Tetapi ia harus hati-hati. Pesan ibu, Abdul harus membeli daging itu dari pedagang yang menggunakan jilbab atau berpeci. Tahu sendirilah, di tempat itu kaum mereka adalah minoritas. Danging sapi bisa saja tak disembelih atas nama Allah, dan kemungkinan paling parahnya dipotong di tempat yang sama dengan daging babi.
Ibu memang taat beragama. Abdul diajarkan sejak kecil untuk berhati-hati melakukan segala sesuatu dalam hidupnya. Seperti misalkan jika ia memungut buah mangga di depan rumah Miq Tuan Ahmad, ia harus meminta izin terlebih dulu sebelum boleh memakannya. “Subhat, berpotensi haram jika pemiliknya tidak rido.” Pesan ibu.
Ketika bapak meninggal, mereka hijrah ke Bali. Ahmad baru masuk SMA waktu itu. Pekerjaan bapak yang buruh pasar, tak mungkin dilakoni ibu untuk menyambung kehidupan keluarga. Ibu membulatkan tekad ke Bali, memulai usaha berjualan canang. Daun kelapa dan kembang sebagai bahan utama ia dapatkan dari seorang teman bapak, Pak Nyoman yang tinggal di Kintamani. Sebenarnya Pak Nyoman belum bisa disebut sebagai teman bapak. Hubungan mereka hanya karena bapak pernah membantu Pak Nyoman mengangkat barang di bandara. Bapak yang waktu itu mengantar koleganya ke Malaysia, menemukan Pak Nyoman terlihat kesulitan membawa barang-barang bawaannya menuju embarkasi. Jiwa kuli bapak meronta-ronta. Seusai membantu Pak Nyoman, bapak tak mau menerima upah. Karena itulah ia diberikan secarik kartu nama yang ditemukan oleh ibu di dompet bapak dua hari setelah meninggal.
Mengubungi Pak Nyoman sebenarnya adalah pilihan terakhir ibu. Ia telah jungkir-balik mencari uang dari kerja serabutan selama tiga bulan. Pernah ibu meminta agar ia diperbolehkan bekerja di pabrik penggilingan gabah milik Pak Ahmad, tetapi ibu malah diajak menikah olehnya. Tentu saja ibu tak akan sudi, sebab Pak Ahmad dikenal sebagai rentenir dan walaupun kaya, pelitnya nauzubillah.
Ketika terhubung melalui telepon bututnya dengan Pak Nyoman, ibu mengenalkan diri dan menyebut nama bapak. Pak Nyoman tak mengingat bapak sama sekali. Pak Nyoman hanya tahu bahwa setiap orang yang meminta pertolongan kepadanya melalui telepon pastilah pernah menolongnya. Pasalnya, Pak Nyoman bukanlah seorang pegawai atau manager sebuah perusahaan sehingga membutuhkan kartu nama. Ia hanyalah seorang pemasok kelapa ke berbagai wilayah di luar Bali. Ia membuat kartu nama dengan tujuan agar bisa diberikan kepada orang-orang asing yang berbuat baik kepadanya.
Berjualan canang, paling tidak bisa membuat keluarga ibu dan Abdul berjalan seperti ketika bapak masih hidup. Mereka tinggal di sebuah kontrakan, berdekatan dengan kebun kelapa Pak Nyoman. Abdul sendiri menjual makanan ringan yang ia titipkan di kantin sekolahnya dari modal tabungan uang saku. Namun, jualannya yang sedikit dan murahan itu tak laku keras. Sewaktu-waktu, ia tetap harus meminta uang saku kepada ibu.
Pasar semakin ramai. Abdul masih mencari-cari penjual daging sapi yang sesuai dengan kriteria dari ibu. Terkadang ketika mengalami kesulitan seperti itu, Abdul menggerutu. Pernah ketika Wayan, teman kelasnya yang tengil berulang tahun, ia mengalami dilema serupa. Wayan mengajak Abdul dan dua teman lain untuk makan di rumahnya. Abdul sempat menolak, karena tak mau nanti hanya berdecak menyaksikan mereka makan daging babi. Sungguh, Abdul juga ingin makan daging babi. Terlihat nikmat dan sepertinya akan sangat empuk jika dikunyah. Namun, Wayan mengatakan bahwa ia telah membeli daging sapi dari rumah jagal Jawa, tempat Abdul sering membayangkan akan bisa membelikan ibu daging sapi segar. Seperti dijebak, rupanya Wayan justru menghidangkan daging babi dan Abdul hanya bisa makan mi goreng sambil ditertawai oleh teman-temannya itu.
Ah, Abdul mengingat rumah jagal Jawa. Ia ingin sekali ke sana, tetapi rumah jagal itu menjual daging sapi berlabel halal dengan harga yang tak wajar. Uangnya itu sudah jelas tak akan cukup bahkan untuk membeli setengah kilo saja. Ia mengedarkan pandangannya lagi, biasanya di sudut lapak para pedagang daging ada seorang ibu berjilbab menjual daging sapi. Benar, ia menemukan ibu itu menjajakan daging di sana. Akhirnya, ia akan bisa membelikan sekilo daging untuk keperluan sahur nanti.
Abdul menanyakan harga daging sapi itu, dan uangnya sangat pas. Ia tak menawar dan begitu saja menyodorkan uangnya. Ibu itu menimbang sekilo daging dan membungkusnya dengan kantong plastik merah. Ketika hendak kembali, dilihatnya seorang kuli menaruh tumpukan daging di lapak ibu itu. Terlihat setangkai kaki babi dan sepasang kaki sapi menjulur dari tumpukan itu. Abdul dilema lagi. Jika ia membawanya pulang, pastilah daging itu telah bercampur dengan daging babi, atau paling tidak telah terkena tetesan darah babi. Namun, jika ia memilih untuk mengembalikannya, tak ada jaminan bahwa penjual yang lain tak melakukan hal serupa. Lagi pula, bisa-bisa ibu tak dapat memenuhi nutrisinya selama seminggu. Sementara, daging itu sangat diperlukan oleh ibu yang divonis hipoksemia empat bulan yang lalu oleh dokter. Jika begitu, pastilah ibu akan sesak di malam hari, linglung dan sakit kepala saat berjualan canang. Paling parah kejang, kemudian koma di rumah sakit.
Abdul tak mau hal-hal buruk terjadi kepada ibu. Hipoksemia di tubuhnya tak menunjukkan tanda-tanda penyembuhan. Bahkan, dua hari lalu ibu terkena gejala anemia; hasil pemeriksaan di Puskesmas menunjukkan, hal itu terjadi karena hipoksemia yang dideritanya. Semakin dilema, Abdul mengucapkan bismillah dalam hati, dan melanjukan apa yang seharusnya ia lakukan. [T]
Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran
TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah kalimat sederhana. Itulah yang say...
ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk memenuhi kepentingan m...
SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada akhir tajuknya Festival Cerita Rasa 0.4. Ang...
PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini dialami oleh banyak sekali cerita rakyat...
TIGA buku tersusun rapi di atas meja. Sampulnya berbeda-beda, tetapi lahir dari ruang akademik yang sama. Ada ‘Lawaté Surup Ring Balé Gedé: Pupulan Puisi Bali Anyar’, ‘Geguritan D...
MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak jauh dari kota kabupaten. Daerah yang...
MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB). Yang kedua, Seleksi Penerimaan Murid...
Bagi anak-anak, Rekasadana (Pergelaran) Karya Legendaris Maestro Wayan Berata yang dipersembahkan Sanggar atau Sekaa Gong Gita Bandana Praja, Banjar Belaluan Sadmerta, Desa Dangin...
SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna, editor yang mengolah naskah, literary...
SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu malam, 16 Juni 2026, yang ditampil...