Baduy Luar, Etalase Pariwisata Banten
SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami pedesaan juga merasakan nafas kemajuan s...
OGOH-ogoh, yang bermuka jahanam bermata melotot—tajam dengan tubuh yang besar, divisualkan begitu mengerikan. Ini makhluk dari liang neraka. Di malam pengrupukan atau sebelum Hari Raya Nyepi, monster-monster itu akan diarak sepanjang jalan di desa-desa, juga di kota-kota.
Seperti tak berkutik, iblis-iblis itu menjadi bulan-bulanan warga, dibuat sebagai patung besar, sebagai simbol kontemplasi diri secara kolektif menyoal sesuatu yang jahat-jahat.
Salah satunya pada ogoh-ogoh bertajuk “Ulian Manuse”, yang dibuat oleh Komunitas Pang-Len Community Banjar Kaja Kangin, Desa Kubutambahan, Buleleng, Bali. Ogoh-ogoh ini secara moralis hendak menyampaikan sesuatu tentang kerusakan alam—akibat ulah manusia.
Melalui ogoh-ogoh mereka, ditunjukkanlah bahwa iblis tak melulu terbuat dari dubur neraka, tetapi bisa terbentuk dari sifat dan rasa angkuh manusia—perilaku hidup manusia kurang ajar pada alam. Perilaku buruk manusia bisa membangkitkan bencana paling besar di dalam diri Bhuana Agung—alias alam semesta.

Bajang-bajang muda Komunitas Pang-Len Community Desa Kubutambahan berfoto di depan ogoh-ogoh "Ulian Manuse"| foto Kadek Satya Saputra
Ogoh-ogoh “Ulian Manuse” menunjukkan kemarahan yang digambarkan melalui murkanya Ibu Pertiwi sehingga terbentuk wujud paling mengerikan.
Gigi tajam keluar, lidah menjulur dan mata seram dengan dua kepala iblis merupa pengganti telinga. Cekernya berkuku panjang dan tajam berwarna hitam gelap. O, begitu horor dan bangsatnya makhluk itu dari liang bumi.
Selaku konseptor, Kadek Sastya Saputra mengatakan ogoh-ogoh yang dibuat itu adalah wujud mengerikan dari makhluk jahat terhadap alam. Makhluk yang bisa bergerak dan ada, dan bentuk itu adalah simbol dari ulah manusia ugal-ugalan dalam memperlakukan punggung bumi, tidak senonoh.
Satya juga menekankan ogoh-ogoh itu bukan lagi sekadar patung besar yang dibuat-buat, lalu diarak sebagai ritual budaya setiap tahunnya di Bali. Tetapi justru sebagai suara kolektif warga yang sadar untuk mengingatkan bahwa bangsa ini sedang sakit—buminya sakit—dan jika dibiarkan akan modar secara perlahan. Kiamat.

Proses pembuatan kepala ogoh-ogoh "Ulian Manuse" dengan detail yang rumit | foto Kadek Satya Saputra
“Ulian Manuse—ini menggambarkan Ibu Pertiwi yang marah sekaligus menangis, melihat bagaimana anak-anaknya (manusia) tanpa ampun merusak keseimbangan yang diwariskan kepadanya,” kata Satya Saputra selaku konseptor dan arsitek ogoh-ogoh “Ulian Manuse” Komunitas Pang-Lan Community Desa Kubutambahan, ketika dihubungi melalui Whatshapp pada Rabu, 26 Maret 2025.
Melalui luka-luka di tubuh monster “Ulian Manuse”, simbol-simbol itu diletakkan sebagai atensi terhadap akar kesakitan yang berasal dari gorong-gorong yang mampet, aliran sungai yang kotor dan bibir pantai yang tak lagi eksotis karena disetubuhi sampah-sampah binal.
Kemudian bagaimana laut biru yang membiru—menggigil dan ikan-ikan di kedalaman terusik oleh limbah plastik dan para nelayan kerap menyiuk tai zaman, limbah, ketimbang ikan. Adalah hasil banalitas manusia dalam memperlakukan bumi tak selayaknya sebagai ibu kandung sendiri. Durhaka.
Dari ular yang tersesat ke gorong-gorong dibawa banjir karena hutan-hutan banyak yang dibabat tanpa ditanam ulang, dan burung-burung terbang kacau balau mencari sarang kesulitan.
Semua itu kekacauan itu menjadikan ogoh-ogoh “Ulian Manuse” ini lebih mendapatkan makna, bernyawa dan memantik perenungan bahwa kebanalan manusia harus dikurangi, dan harus sadar akan pentingnya berbagi ruang, dan berhenti bersekutu dengan sampah-sampah yang dibuang buta-buta di laut dan di darat, bahkan di udara sekalipun.
Tak hanya dari sisi bentuk yang diperjuangkan, tetapi ogoh-ogoh “Ulian Manuse” juga diperjuangkan secara proses yang konsisten. Pemilihan bahan-bahan dari sampah anorganik seperti; botol plastik, sedotan dan tas plastik, dan kaleng bekas, menjadikan kesan kuat tentang akar masalah yang diajukan secara tematik itu begitu serius.

Ogoh-ogoh "Ulian Manuse" siap diarak dan dilombakan| foto Kadek Satya Saputra
Seperti, botol plastik diubah menjadi rambut Ibu Pertiwi yang kusut dan tak terawat. Sedotan dan bungkus makanan menjadi mahkotanya yang mencerminkan polusi visual. Sementara tutup botol dan tas plastik dijadikan perhiasan yang ironis, menggambarkan keindahan palsu di tengah kehancuran. Dan kaleng bekas diolah menjadi ornamen bunga yang mencerminkan kehidupan yang indah tertutupi limbah.
“Dengan memanfaatkan limbah, kami tidak hanya menciptakan sebuah ogoh-ogoh yang megah, tetapi juga memberikan pesan kuat kepada masyarakat bahwa sampah-sampah yang dibuang sembarang, suatu hari akan kembali menghantui kita semua!” kata Satya secara tegas.
Soal kontemplasi, gotong royong warga dari berbagai kalangan dan usia di desa itu juga satu bukti yang jujur dan organik, jika perenungan sudah terjadi sebelum monster ini diciptakan secara fisik—melalui urunan bahan baku sukarela.
Bahan baku pembuatan tidak dibeli, didapatkan dari warga sekitar sebagai bentuk solidaritas. Setiap warga menyumbangkan sampah plastik dan materil bekas tidak terpakai lainnya yang mendukung. Yang kata Satya, ini adalah bukti nyata perubahan besar sebenarnya bisa dimulai dari komunitas kecil. Dan kesadaran kolektif itulah yang dicecar oleh Komunitas Pang-Len Community.
Sampai di sini, Satya juga menjelaskan anggaran pembuatan ogoh-ogoh dari komunitasnya tidak menyundul angka yang besar. Hanya sekitar tiga juta lima ratus rupiah dihabiskan. Tentu angka ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan karya lain yang justru bisa mencapai puluhan juta bahkan mentok sampai seratus juta.
“Sedang kami mengandalkan kratifitas dalam memanfaatkan barang bekas,” lanjut Satya.
Ada banyak tantangan dan kesulitan dalam proses penciptaan selama satu bulan. Projek ini dikompres secara biaya dan waktu—diselesaikan di sela kesibukan masing-masing, karena nyaris semua yang mengerjakan adalah anak sekolah. Sehingga mereka harus menyesuaikan dengan jadwal masing-masing.
Siang hari, melewati sore, menutup malam—jika ada waktu luang. Begitulah orang-orang itu berkumpul dan bekerja bersama.

Proses pembuatan ogoh-ogoh dari bahan bekas anorganik| foto Kadek Satya Saputra
Dan bagaimana detail dan skala proyek, ogoh-ogoh “Ulan Manuse” juga tidak hanya mementingkan esensi, tetapi estetika juga dipertahankan sekuat tenaga. Detail anatomi tubuh monster itu ditilik secara serius.
Tinggi ogoh-ogoh sekitar 5 meter, dan lebar 3,5 meter dengan berat sekitar 700 Kilogram. Dan bagaimana lidah yang menjulur secara detail dibentuk, juga kuku yang tajam dan serat kulit dari wajah yang mengerikan itu dirapal oleh tangan-tangan terampil anak muda, tanpa intervensi orang dewasa.
“Kami berharap karya ini tidak hanya memukau secara visual saja, tetapi juga bisa mengetuk hati setiap orang yang melihatnya. Jangan sampai kita menunggu hingga bumi benar-benar murka baru kita mulai bergerak!” harap Satya mewakilkan harapan teman-temannya.
Di tanggal 28 Maret mendatang, ogoh-ogoh ini akan diarak dari lapangan Desa Kubutambahan menuju setra di desa itu, dan dibakar setelah hari raya nyepi selesai.
Selamat Hari Raya Nyepi, Semeton. Melalui ogoh-ogoh, selamat membunuh kenasklengan di dalam diri… [T]
Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole
SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami pedesaan juga merasakan nafas kemajuan s...
DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah mengatakan “pilihan kata (diksi) meng...
SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng. Wantilan yang biasanya digunakan...
REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di bidang pertanahan. Selama puluh...
MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir (TA) Proyek Inovatif Seni Pertunjukan, P...
DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus penjaga nilai-nilai keh...
Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata, India. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga terpelaj...
DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa...
BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang menyimak. Malam pertama Juni 2026, itul...
JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat itu adalah Buleleng. Tepat pada...