Tuhan, Cinta dan Birahi, di Bawah Kibaran Daster
Judul : Bibir Yang Terikat Penulis : Ferry Fansuri Penerbit : AE Publishing Cetakan 1 : Agustus 2017 ISBN : 978...
DI Kabupaten BadungOgoh-ogoh serangkaian Pengerupukan Nyepi Tahun Baru Saka 1947 dilombakan di area Taman Budaya Gedung Giri Natha Mandala (15/3/2025) melalui penilaian secara berjenjang berdasarkan zona kecamatan dan dipercayakan kepada Sekaa Teruna masing-masing Banjar menggarapnya sesuai dengan ketentuan lomba.
Di Kecamatan Kuta Selatan misalnya, terdapat 3 juara yang mewakili zona Ogoh-ogoh Sekaa Teruna Banjar Bualu, Ogoh-ogoh Sekaa Teruna Banjar Kelod Ungasan, dan Ogoh-ogoh Sekaa Teruna Banjar Kauh Pecatu. Pemenang di masing-masing zona kecamatan diadu kembali di tingkat kabupten untuk menentukan pemenang.
Di balik lomba ogoh-ogoh itu, sesaat setelah pengumuman juara di tingkat Kabupaten Badung, ogoh-ogoh Tatwaning Kali Sengara Sekaa Teruna Banjar Bualu yang dinobatkan sebagai juara II protes, gegara dikalahkan oleh Ogoh-ogoh Kungkang Siwa (Epik Katak Sakti) Banjar Umahanyar Penarungan Mengwi.
Terkait protes itu, pihak Disbud Badung sudah mengklarifikasi melalui media sosial. Sebagai bentuk apresiasi, Ogoh-ogoh Tatwaning Kali Sengara selain mendapat Juara II juga dinobatkan sebagai juara pavorit sebagai bentuk apresiasi. Namun, gelombang kekecewaan juga belum dapat diredakan dan viral di media sosial.
Dalam konteks berbeda, protes ini mengingatkan saya pada kasus juara 1 Lomba Gong Kebyar wanita Desa Baturiti, Kecamnatan Kerambitan, Tabanan, tetapi tidak diberikan karpet merah untuk melaju ke provinsi mewakili Kabupten Tabanan.
Memang resiko lomba ada kalah menang walaupun kriteria sudah ditetapkan, subjektivitas penilaian seni oleh juri tak terhindarkan. Oleh karena itu, seni seperti gong kebyar atau ogoh-ogoh sebaiknya tidak dilombakan, cukup diparadekan, sebagaimana dalam Parade Cak di Taman Budaya Denpasar pada tahun 2017, saat digelar Festival Bali Mandara Nawanatya pada era Gubernur Bali dijabat Made Mangku Pastika.
Saat itu, penampil cak dipentaskan secara mabarung dan Prof. Made Bandem memberikan apresiasi sekitar 5 menit mengomentari tampilan Sekaa Cak SMA/SMK se-Bali. Pelaku seni nikmat, penonton terhibur dan tercerahkan. Mereka pulang sumringah. Semua sekaa mendapat piagam. Di perjalanan, mereka membandingkan kelebihan dan kekurangan masing-masing peserta. Mereka pun dapat menyimpulkan dari komentar Prof. Made Bandem, penampil terbaik malam itu.
Ketika Gubernur Bali dijabat Wayan Koster, Festival Bali Mandara Nawanatya berubah menjadi Festival Seni Bali Jani yang lebih mengedepankan seni modern (kontemporer) sebagai penyeimbang seni tradisional dalam ajang PKB yang tahun 2025 memasuki tahun ke-47. Itu menandakan pemimpin Bali memiliki keberpihakan pada seni dan budaya secara berkelanjutan dan konsisten.
Untuk memberikan penguatan apresiasi, alangkah baiknya tim kurator dan panitia memperluas jangkauan apresiasi dengan memberikan penghargaan kepada para jurnalis/penulis yang mengabarkan baik dalam bentuk berita, kritik, atau esai dengan masa penilaian tertentu. Penilaian secara alami tanpa terkesan lomba. Hal demikian pernah dilakukan Kemendikbud dalam rangkan memperingati Hari Pendidikan Nasional pada era Presiden SBY dengan menilai tulisan yang pernah dimuat koran dalam rentang waktu tertentu bertema pendidikan.

Ogoh-ogoh Sutasoma Katadah dari Sekaa Teruna Giri Mustika Werdhi Banjar Pantigiri Kutuh, Kuta Selatan | Foto : Surya
Kembali ke ogoh-ogoh yang dilombakan, terlepas dari adanya protes, ada segi positif yang dapat dipetik.
Pertama, memberikan kepercayaan kepada Sekaa Teruna untuk mengembangkan inovasi dan kreativitas berkesenian, khususnya terkait dengan menggali kearifan Filosofi Hindu yang diterjemahkan ke dalam karya seni ogoh-ogoh.
Kedua, mendorong kolaborasi sesama anggota Sekaa Teruna untuk belajar dalam tim sebagai bagian dari keterampilan abad ke-21. Sukses hari ini dan ke depan adalah Kerjasama tim. Melalui lomba ogoh-ogoh ini, kerjasama tim diperkuat termasuk meningkatkan skill individu.
Ketiga, melalui lomba ogoh-ogoh, roda ekonomi digerakkan di tengah badai cuaca ekonomi yang tidak menentu. Lebih-lebih, menjelang Nyepi, ada rangkaian ritual Melasti yang memerlukan biaya. Anggota Sekaa Teruna yang visioner dapat berjualan di banjarnya masing-masing sebagai penyedia konsumsi dan kostum misalnya. Tentu masih banyak sisi positipnya, selain juga ada negatifnya,
Terlepas dari plus minusnya, Ogoh-ogoh telah menjadi trend mengiringi upacara pengerupukan sehari menjelang Nyepi pada awal 1980-an di Kota Denpasar, nyaris berbarengan dengan gelaran Pesta Kesenian Bali (PKB) pertama (1979) gagasan Gubernur Bali, Prof. Dr. Ida Bagus Mantra. Sebelum dekade 1980-an, prosesi ngerupuk di Denpasar dan di desa-desa di Bali pada umumnya hanya menggunakan obor berkeliling desa melibatkan sekaa teruna dan anak-anak sekolah.
Saya masih ingat ketika ngerupuk 1970-an, guru menyuruh kami siswa SD Kelas IV-VI membawa obor (dibuat sendiri, dari mencari bambu, sabut kelapa, hingga minyak tanah) demi obor menyala. Belakangan ketika saya ikut Pramuka, obor juga dinyalakan mengawali api unggun dengan lagu “Api Kita Telah Menyala” mengitari kayu bakar yang sudah disiapkan sebelumnya. Dengan Pramuka kami merasa gagah dengan jilatan api di obor berkeliling tiga kali sebelum api pertama diacungkan ke kayu bakar yang dijadikan pusat api unggun.
Kini menjelang 50 tahun sejak awal ogoh-ogoh dirangkai ngerupuk setelah tawur kesanga di perempatan Desa Adat seluruh Bali, nyaris tiada ngerupuk tanpa ogoh-ogoh. Bahkan ngerupuk identik dengan ogoh-ogoh sebagaimana ngaben dengan wadah bade penuh pesona. Padahal, penggunaan wadah bade bersifat alternatif, tidak wajib. Menggotong mayat ke kuburan serangkaian ngaben adalah hal biasa. “Hemat cermat dan bersahaja”, seperti salah satu bunyi Dasa Dharma Pramuka. Demikian pula halnya, ngerupuk tidak wajib dengan ogoh-ogoh.
Kini, atraksi ogoh-ogoh di lapangan desa ditunggu-tunggu warga bahkan desa-desa wisata menjualnya dengan paket ngerupuk, Nyepi, dan Dresta Lango setelah Nyepi. Paket wisata ini bagi bule di Bali adalah hal yang istimewa.
Pertama, rangkaian ramai-sepi-ramai dengan ogoh-ogoh ngerupuk lalu hening-sepi-gelap Nyepi dan ramai dresta lango di beberapa desa adat seperti Mabuug-buugan di Desa Adat Kedonganan Kuta, Pasar Majelangu dengan final Jegeg Bungan desa di Desa Adat Kuta atau Omed-omedan di Desa Adat Sesetan Denpasar Selatan akan memberikan pengalaman yang terunik sedunia. Bule akan mendapat terapi alami ala Bali yang menyehatkan secara lahir batin, sekala-niskala.
Kedua, selain memberikan tontonan bagi wisatawan sekaligus tuntunan bagi warga Hindu bahwa ogoh-ogoh dengan wajah seram bin garang adalah perlambang kejahatan. Maka saat tawur digelar, tugas umat adalah nyomia buta kala sehingga sifat-sifat keraksasaan dapat dikendalikan dengan sifat-sifat kedewataan mengedepankan keutamaan budi dan etika berupacara.
Dengan demikian, rangkaian Melasti, Ngerupuk, Nyepi, dan Ngembak Geni dengan Dresta Lango masing-masing menjadi ajang silaturahmi dengan sesama untuk saling memaafkan. Bersamaan dengan itu kualitas keimanan kepada Hyang Maha Embang ditingkatkan sembari menjaga alam beserta isinya senantiasa dalam keharmonisan secara konsisten dan berkelanjutan.
Mengimani rangkaian Melasti, Ngerupuk, Nyepi, dan Dresta Lango bagi manusia Bali seharusnya menjadi ruang meditasi dengan menyadari jeda di antara nafas. Nyepi lebih-lebih bagi manusia di Gumi Delod Ceking dengan Goa Peteng-nya adalah ajang refleksi membaca diri ke dalam goa gue selaras dengan goa duwe ciptaan Hyang Maha Galang dengan tradisi aksara bermakna.
Dengan bacaan itu, rangkaian Nyepi dengan semangat ritual bermuara pada peningkatan spiritual. Indikator keberhasilannya adalah saling asah, asih, asuh. Pakedek-pakenyung, manyama braya, semesta merestui. Ikatan kohesi dan koherensi menjadi paragraf kehidupan yang menyatukan segala perbedaan.
Paragraf kehidupan akan menjadi rumpang manakala kemeriahan ritual berhenti di permukaan sebagai pesurfing yang bermain di atas indahnya ombak tanpa menyelam mengangkat mutiara di kedalaman Samudra yang menjanjikan klangon.
Lebih-lebih, saat Nyembak Geni (30 Maret 2025) adalah malam takbiran bagi umat Islam menyambut Idul Fitri (31/3/2025). Kun Widodo sopir go car asal Surabaya yang saya tumpangi dari sekolah ke rumah mengatakan Idul Fitri itu ibarat Hari Raya Galungan bagi umat Hindu. Jika Galungan dimaknai sebagai hari kemenangan Dharma melawan Adharma, maka Idul Firti adalah kemenangan melawan nafsu (musuh dalam diri) selama sebulan.
Puasa sebulan adalah ruang renungan reflektif - kontemplatif - meditatif untuk lahir kembali secara spiritual. Kembali ke fitri, Kembali ke fitrah sebagaimana Jhon Locke mengibaratkan kelahiran sebagai layaknya kertas putih, tanpa noda.
Selamat Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1947. Selamat Idul Fitri 1446 H. Salam Toleransi. [T]
Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Adnyana Ole
Judul : Bibir Yang Terikat Penulis : Ferry Fansuri Penerbit : AE Publishing Cetakan 1 : Agustus 2017 ISBN : 978...
SUARA mesin grinder biji kopi, aroma biji kopi yang telah menjadi bubuk, lagu pop barat yang membosankan. Dan orang-orang yang melewatkan malam bersama dalam satu ruang. Robin d...
“Siapa yang bercita-cita menjadi seorang pelukis?” tanya Ryan, salah seorang mahasiswa KKN PPM XVI Universitas Udayana Tahun 2018, kepada 47 orang siswa kelas IV dan V SD Negeri 2...
DARI sekian banyak film yang pernah saya tonton, adegan akhir “Dead Poets Society” masih terus terpatri di alam bawah sadar saya selama waktu lama. Adegan terakhir ini muncul kemba...
BERBICARA soal cinta memang tidak akan berujung. Rumit iya, sederhana iya, angkuh iya, arogan iya, bahagia juga iya. Atau mungkin ada yang ingin menambahkan lagi? Atau ada yang ing...
LUH Sukerti (bukan nama sebenarnya) sudah hampir setahun ini tidak bertegur sapa dengan seorang tetangganya yang bersebelahan dengan rumahnya. Pasalnya, Sukerti mendapat petunjuk d...
APA itu kone? Dalam bahasa Bali kone diartikan sebagai bentuk pernyataan ketidakpastian, atau suatu yang tidak nyata. Berbicara tentang kenyataan, khususnya di Bali ada suatu kutip...
BEBERAPA hari yang lalu, tepatnya tangga 10 Februari 2018, media sosial digegerkan dengan gambar seorang pria bersimpah darah. Tergeletak di lantai. Gambar itu membuat banyak orang...
PROSES penciptaan mengkhususkan pada etika dan estetika untuk kemudian dikelola melalui spirit yang ada pada diri manusia. Bahan-bahannya kemudian muncul dari suatu keluhuran buday...
INI adalah kebebasan dalam berekspresi yang dituangkan dalam berbagai bentuk. Letupan pergolakan emosi dipecahkan dalam ranah seni. Mural salah satunya. Tapi tatkala mendengar b...