Komunikasi, Menangis, Tertawa, dan Politik
SEMPAT beredar di linimasa media sosial dan pemberitaan, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S Dayang menangis tersedu-sedu seusai meminta maaf atas kasus keracunan massa...
SEBAGAI anak tunggal yang dimanjakan, keluhan macam apa yang pantas keluar dari mulutku? Kedua orang tuaku seorang Pegawai Negeri Sipil. Rincinya begini, ayah seorang koas di rumah sakit dan ibuku seorang guru. Jadi jangan tanyakan tentang kekurangan untukku. Aku dilahirkan dengan kesempurnaan. Limpahan kasih sayang memelukku setiap hari melalui ciuman dan belaian orang tuaku. Setidaknya hal itu yang berusaha ku pegang sampai usiaku 10 tahun ini.
Kenalkan, namaku Satria Firdaus. Aku lelaki penyandang cerebral palsy. Sejak usia dua tahun sampai sekarang kebanyakan aktivitas terselesaikan di atas kursi roda ini. Ibuku sering bilang bahwa aku anak istimewa. Matanya yang bersinar dengan riak air itu berbicara sebagai ekspresi haru karena bahagia. Manakala pesan-pesan mutiara itu membiusku dalam rasa tenang, hanya gumam-gumam balasan dariku yang mampu ibu dengar. Ini karena aku penderita lumpuh otak. Meski begitu suara ini terlukis dari apa yang selama ini mereka dan dunia tidak ketahui.
Satu momentum waktu itu yang kuingat, dalam ketiadaan saat ibu bermunajat kepada Tuhan; aku perhatikan beliau tampak khusyu meminta kesembuhanku. Ini terjadi saat usiaku beranjak 5 tahun dan tubuhku sering merasakan apa yang disebut epilepsi dan sensasi nyeri dalam bergerak.
Kata dokter Hamzah, kelemahan semua otot dan sensor yang ku miliki ini memang tidak begitu terlihat saat lahir. Semua normal dengan segala keterlambatan yang cenderung terjadi pada bayi-bayi lainnya. Dokter Hamzah memberitahukan sifat alami hal ini terjadi adalah faktor kesehatan ibu yang menurun saat mengandungku. Ibu mengakui bahwa kala kehamilannya memasuki 8 bulan, sebuah penyakit bronkitis menderanya.
Derit pintu berbunyi. Ibu sadar aku mengganggu. Aku berulang kali meminta maaf dengan menunduk. Sungguh aku pun berusaha menyapu air liur yang berjatuhan di pahaku. Tapi tak bisa. Aku juga berusaha mundur dengan memainkan jariku di atas roda. Memang susah. Tapi aku berkeinginan untuk itu.
Ibu memburu cepat sambil mengusap matanya. Dengan gemetar dan tersenyum pelukan itu membalutku.
"Satria, mengapa kamu murung? Ibu tidak sedih, Nak. Kau istimewa, Satria. Tuhan akan berkasih untuk kita."
Ibu seolah ahli nujum saja. Beliau pasti tahu tentang ekspresiku. Memang begitulah yang selalu ditanamkan ibu kepadaku.
Ayah? Dialah tameng terkuatku untuk menghadapi apa itu dunia. Semua orang di taman sering sekali ku saksikan memandangku dengan aneh. Ayah yang mengajakku melihat warna dunia lantas akan melakukan semacam upaya. Bagi ayah mungkin itu rahasia. Tapi sekali lagi ku tegaskan, aku adalah roh normal dalam jasad istimewa. Aku mampu berpikir dan berbicara dalam cara yang mereka dan dunia ini tak ketahui. Aku sadar ayah bertindak keras untuk orang-orang itu. Usai dari sana, ayah akan bilang "Semua orang mencintaimu. Hanya terkadang mereka tak pandai untuk menunjukkannya."
Tentang terapi, sampai sekarang aku masih melakukannya. Mulai dari fisioterapi, okupasi, wicara, hingga rekreasi kedua orang tuaku itulah pendampingku. Kasih sayang mereka seurat sedarah.
Proses panjang dan bertahun-tahun membuahkan perubahan walau tak signifikan. Beberapa kata dan gerak aku bisa suarakan meski masih bias. Hanya epilepsi dan nyeri otot itu yang sampai sekarang masih melekat dan sering kumat.
Ayaku yang bekerja di lingkungan rumah sakit pernah mendiskusikan secara intens tentang ini. Aku waktu itu tentu sibuk bermain menyusun lego di sofa. Kadang juga bermain dengan Coco, kucing anggoraku yang manja.
"Dokter Hamzah pagi tadi tiba-tiba memintaku ke ruangannya."
"Untuk apa?"
Ayah membenarkan sikapnya bersila.
"Tentang Satria. Kejang dan nyeri akan ada dan menganggunya terus. Seharusnya obat-obatan relaksan seperti botox, baclofen, tizanidine, diazepam atau dantrolene bisa bekerja sebagai injeksi peregangan otot. Tapi memang belum cukup ampuh dan permanen. Dokter Hamzah bercerita tentang sebuah penilitian yang dilakukan oleh 17 ilmuan dunia tentang manfaat tanaman canabis sativa khususnya untuk penderita celebral palsy. Tanaman yang diolah dengan metode penyulingan atau destilasi itu terbukti mujarab."
Mendengar itu kontan mata ibu berbinar cerah.
"Bagus. Segera saja kita pesan obat itu."
Ayah mengangguk. Tapi sebagaimana dugaanku dan ibu, aura kecemasan menggantung di antara alisnya.
"Ada apa?"
Ayah mengangkat wajahnya.
"Obat itu tak tersedia di sini."
"Tak apa, suamiku. Meskipun impor, kita akan kejar."
Brak!!!
Aku terjatuh dari sofa lantaran semua otot tubuhku terasa kaku tanpa kontrol. Tuhan, sekarang nyeri itu kembali. Aku kejang di lantai sambil meraung sejadi-jadinya. Apakah sekarang saatnya kau mengasihiku, Tuhan?
Tak ayal ayah dan ibu bergegas memburuku. Segala etanol dan saleb segera dibalurkan ke tubuhku. Wajah mereka seperti biasa cemas dan gelisah. Duka yang selalu mereka tutupkan. Aku digelayuti perasaan beban. Tapi aku tak mau kecewakan karena ini janjiku. Aku yang dirajam nyeri terus tanpa kontrol selama beberapa menit pada akhirnya perlahan pulih kembali.
Peluh membanjiri semuanya. Dengan dipangku sebuah sapuan lembut menyeka keringat panas itu. Sekarang mereka ku lihat stabil. Ayah menghela napas. Ku amati tarikannya begitu kuat seolah berton-ton beban berusaha ia keluarkan. Merasa yakin, ayah menyambung kembali.
"Tanaman canavis sativa itu ganja, istriku."
*
Iman ibuku berputar 180 derajat. Pribadinya yang taat ku rasa mulai gamang dengan hal apapun yang berbau pemulihan. Ini karena kambuhku yang tambah akut dan mengkhawatirkan. Bayangkan saja, masa ini kejangku semakin hebat dan sekarang ada variasi muntahnya. Faktanya sekuat apa yang mereka benamkan dalam prinsipku, kecemasan tak mau sirna dalam roman wajahnya.
Bulan demi bulan berlalu menjadi sebuah perburuan. Ibuku rela merogoh kocek besar untuk benda itu yang dia mohonkan dalam bentuk tulisan besar yang setiap minggu dia kalungkan di taman kota. Tulisan itu berisi permintaannya bahkan pada Presiden untuk legalkan ganja medis bagi penderita cereblal palsy. Aku ikut hadir di sana sebagai saksi lunasnya bakti ibu pada titipan Tuhannya.
Di sisi lain e-mail terus ayah kirim kepada komunitas apapun yang berbau medis untuk meminta dukungan dan saran agar benda itu bisa hadir. Ayah bahkan rela kena SP karena nekad masuk dalam sebuah rapat pertemuan dokter di rumah sakit tempatnya bekerja. Kupikir, ayah yang paling gencar tentang ini. Sekarang tak ada dalam matanya sebuah ketundukan. Dalam kondisiku yang kian mengerang karena pembersihan ini, ayah kian merajalela. Ayah yang mendapati respon tunggu dalam ketidakpastiannya mulai bermain dalam darkweeb. Situs perdagangan terlarang ia kunjungi. Semua itu membuahkan hasil.
Entah bagaimana benda haram itu sampai ke tangan ayah. Melalui penghambaan atas sebuah nurani, ayah berhasil mendesak dokter Hamzah untuk terlibat. Beliaulah yang meramu tanaman terlarang itu menjadi obat tetes dan juga minyak urut.
Perkembangan tubuhku ke arah signifikan saat menjalankan terapi ini. Aku mulai jarang epilepsi dan tak merasakan nyeri.
Dua malaikat itu mengurai senyum yang maha dahsyat melihat perkembangan pesatku. Aku perlahan mulai merambat. Lidahku juga tak kelu dan mulailah aku berkata pelan seyogyanya manusia.
Mereka berdua memelukku dengan erat. Hanya memang kejadian ini tak berlangsung lama. Efek tentu ada apalagi dari sebuah zat candu. Tubuhku mulai merespon terus. Memaksa gerakan yang pada titik sakau jika tak terpenuhi. Ayah yang mengetahui kemungkin ini dari dokter Hamzah tak ada cara selain menuruti kemauanku. Lalu petaka itu muncul. Bagaimanapun rapatnya menyimpan bangkai tentu aromanya bakal tercium juga. Itulah yang terjadi kepada ayah.
Sebuah mobil xenia hitam bertamu dengan mengesampingkan etika serta kesopanan. Pintu didobrak dan ayah yang waktu itu membawa paket segera dijegal serta dipiting. Ayah berontak hebat. Ibu yang melihat segera mengesampingkan aku yang sedang disuapinya.
"Ibu kami mohon kerjasamanya. Semua bisa diselesaikan dengan musyawarah di kantor nanti" kata seorang pria gondrong yang berperawakan tegap.
Tentunya bujukan itu hanya sebatas angin lalu. Semakin ayah meronta dan berkelit, semakin cadas pula raungan dan permohonan ampun dari ibu. Menyaksikan kekacauan di depan mata itu tentu membuatku ketakutan setengah mati. Aku meraung memberontak. Pikiranku sadar bahwa keluargaku dalam masalah. Sungguh anak siapa saja yang akan merelakan ayahnya digelandang dengan sematan tahanan begitu. Dengan berat aku menyeru "Baa..pak!! Baa..,pak!!".
Ibu merangkulku dengan degup jantung gelisah. Sementara angin malam membiaskan cahaya lampu pada seutas senyum ayah yang pamit dan sirna dalam kegelapan.
Sidang berlalu dengan perasaan hancur. Meski dengan bantuan pengacara dan beberapa saksi termasuk dokter Hamzah tentang kepemilikan dan fungsi ganja itu, putusan hakim tak mau toleransi dan memvonis ayah bersalah dengan hukuman 15 tahun.
Tak ayal ujung dari ujian ini adalah keterpurukan. Sekarang setegar apa ibu. Selain aku yang harus mendapatkan terapi ganja medis, beliau juga didera banyak permasalahan. Hutang bank menumpuk dan ibu harus menjadi tulang punggung. Kerabat? Sudahlah. Memang seramah apa kota terkait biaya keluarga?
*
Waktu demi waktu berjalan dengan senyum ibu yang kian kuyu. Aku dipeluk dan dicium dengan mata yang rebang. Aku sadar itu semua ialah luka yang menjalarinya.
Pada usiaku yang hampir genap 13 tahun sekarang, kondisi ibu makin memprihatinkan. Ibu mulai batuk-batuk karena kelelahan. Bronkitis? Mungkin itu kambuh lagi. Matanya cekung pertanda dirinya telah sampai pada batas. Sementara doa demi doa setiap malam tetap rutin ibu panjatkan dengan linangan. Jujur hatiku remuk menyaksikan itu. Manakala semua bertambah keruh, satu malam aku dapati ibu yang ambruk dalam sejadahnya. Aku segera memutar roda sebisanya. Setelah dekat, dengan tekad kuat aku dorong tubuh lumpuhku ini.
Kupeluk ibu dalam ketidakmampuanku. Beliau tersenyum sambil menyeka mulutnya yang tampak pucat. Batuk terus meledak dan ibu menutupnya dengan tangan. Kusaksikan cairan merah menempel pada tapak tangannya. Lebih mengejutkan lagi ternyata bercak merah kering telah ada di sejadahnya. Entah kapan semua ini terjadi. Aku bicara padanya dengan teriakan ketakutan dan meminta pertolongan. Tapi upaya apa yang berarti dari orang sepertiku.
Tiba-tiba tubuh ibu perlahan bangun. Entah bagaimana tenaga itu seperti menyusupi setiap otot dalam tubuhnya. Sedikit tersengal, ibu bisa duduk dan memangkuku.
"Semua atas jalan yang dipilihkannya. Satria, maafkan ibu yang ringkih ini. Tapi sungguh ibu akan selalu ada di sampingmu. Tak peduli bagaimana caranya."
Aku menyunduli dada ibu dengan tangan yang seusahanya meremat mukenanya. Aku berikan kode dengan memajukan dagu ke arah sejadah. Aku berharap mukzizat Tuhan untuk sampaikan pesanku ini. Sungguh tak bisa dirincikan tentang pertalian yang bagaimana. Ibu memahami maksudku. Beliau lalu mengelus rambutku.
"Satria. Permohonanku sekarang kepada Tuhan bukan tentang kesembuhanmu lagi," kata ibu sambil menempelkan pipinya di kepalaku. Beliau menggoyangkan aku ke kanan dan ke kiri.
Ibu lalu kembali terisak. "Tuhan, jikalau kesembuhan bukan dari kehendak jalanmu atas kehidupan keluargaku, maka jangan biarkan engkau ambil aku sebelum putraku."
Mendengar itu aku tersenyum dan membalas pelukan ibu. Air mataku jatuh atas semua perjuangan dan kasih sayang kedua malaikat ini. Semua ku nilai dengan impas dan lunas. Terima kasih, Bu. [T]
Penulis: Heri Haliling
Editor: Adnyana Ole
SEMPAT beredar di linimasa media sosial dan pemberitaan, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S Dayang menangis tersedu-sedu seusai meminta maaf atas kasus keracunan massa...
BALI hari ini sedang kehilangan fungsi oase jiwa sebagai Pulau Dewata. Di balik senyum sumringah pariwisata dan wangi asep menyan majegau yang mengepul di setiap sudut pura, terse...
WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari Praha cukup mengambil perhatian saya karen...
Lebih baik aku jadi debu di tanah bayu. Asal ku menyatu dalam perlawanan. Begitulah monolog Sayu Wiwit dalam drama musikal Rempeg: Bayu Tak Pernah Padam. Ditampilkan dan diprod...
DI Bali, tempat suci idealnya menjadi ruang hening: tempat manusia menundukkan kepala, menyucikan niat, dan menata hubungan dengan yang maha kuasa. Namun dalam praktik sosial yang...
BAIT PERTAMA Baris pertama,entah sudah kutulis untukmutentang singgah pertemuandan dekap hangat mata rayumulekat rindu seakan menjadi teman Baris kedua,Pertama kali senyum t...
TOKO jam itu selalu tutup setengah hari. Terletak di pojok Jalan Salemba, diapit warung kopi dan toko plastik, toko itu seperti tak peduli zaman. Namanya “Waktu & Anak-Anak...
ISTILAH sekaa gong sebunan, atau sekaa yang anggotanya berasal dari satu desa, belakangan mulai tak terdengar gaungnya. Kini, untuk ikut Pesta Kesenian Bali (PKB) misalnya, banyak...
ETIKA politik di Indonesia dewasa ini menghadapi tantangan serius yang bersifat multidimensional. Krisis kepercayaan publik terhadap institusi politik, menguatnya pragmatisme keku...
PENDIDIKAN tinggi seni hari ini tidak lagi cukup hanya berkutat pada penguasaan teknik di dalam studio atau penghapalan teori di ruang kelas. Tantangan abad ke-21 menuntut kemampu...