Gonjang-Ganjing, Hutan Gundul, Banjir Bandang Menutup 2025
MENUTUP tahun 2025, duka melanda bangsa Indonesia. Beragam bencana terjadi di berbagai daerah. Puncaknya, banjir dan tanah longsor di Pulau Sumatra. Ada yang menyebut ini musibah....
SAYA mendapatkan sebuah kesempatan. Undangan itu datang dari Samsara Living Museum, acara literasi yang mereka gelar di Bali pada tanggal 9 Maret kemarin. Mereka sudah menentukan tema untuk saya: Kearifan Lokal sebagai Inspirasi Literasi Dunia.
Saya membacanya berkali-kali. Tema yang besar, nyaris terlalu besar. Pikiran saya mulai berkelindan, mencari pegangan. Apa yang akan saya katakan? Dari mana saya harus memulai? Apa referensi yang saya butuhkan? Tapi, di antara gemuruh pertanyaan itu, saya mendapati diri saya berhenti sejenak, membiarkan pikiran saya beringsut pelan, merangkai bayangan: Bali.
Apa imaji pertama yang muncul ketika saya mendengar nama itu? Sebagai orang Bali, apa yang saya lihat? Dan apa yang orang luar lihat?
Saya mencoba melihatnya dari mata seorang pendatang. Bali adalah surga dunia, tanah eksotis, tempat di mana tubuh bisa berbaring malas di bawah matahari tropis sementara hati ditenangkan oleh tarian dan gamelan. Tempat di mana segala sesuatu tampak lebih ringan, lebih lembut, lebih indah. Begitulah yang mereka katakan.

Diskusi literasi di Samsara Living Museum | Foto: Ist
Saya menutup mata. Mengingat semua hal yang saya tahu. Mengingat sejarah. Mengingat kisah-kisah dari kakek saya tentang tanah ini. Mengingat senyum yang ditawarkan bukan karena suka cita, tetapi karena kebiasaan. Mengingat orang-orang yang bekerja di bawah terik matahari sementara yang lain datang hanya untuk berfoto. Bali, tempat yang katanya milik kita, tapi entah sejak kapan mulai terasa bukan lagi milik kita.
Di dalam buku catatan saya, saya mencoret satu kata besar: Eksotisme.
Eksotisme adalah cara dunia luar melihat kita. Melihat Bali. Tapi ada satu hal yang tak sering mereka sadari: dalam setiap eksotisme ada jarak. Jarak antara mereka yang melihat dan yang dilihat. Jarak yang menjadikan Bali bukan sebagai subjek, tetapi sebagai objek. Karena ketika sesuatu menjadi objek, ia kehilangan suara, kehilangan kendali atas bagaimana ia dikisahkan.
Bali telah lama menjadi objek dalam narasi dunia. Sejak Walter Spies memotret keindahannya dan menulis surat kepada pelancong Eropa, sejak film Eat, Pray, Love membuat lebih banyak orang datang untuk "menemukan diri sendiri", sejak iklan pariwisata melukisnya sebagai negeri mistis yang harus dikunjungi sebelum mati.
Tapi dalam setiap lukisan itu, di manakah suara orang-orang Bali sendiri? Apakah mereka yang memilih kata-kata yang digunakan untuk menggambarkan rumah mereka? Ataukah itu adalah suara orang lain—suara yang lebih kuat, lebih berpengaruh, lebih tahu cara menjual keindahan?
Di dalam buku catatan saya, saya mencoret satu kata lagi: Pasar.
Pasar bukan hanya tempat transaksi, bukan hanya sekumpulan kios dan meja kayu dengan buah-buahan tertata rapi. Pasar adalah apa yang menjadikan Bali seperti sekarang. Pasar adalah kekuatan yang membuat ritual menjadi tontonan, desa adat menjadi latar belakang Instagram, dan tarian sakral menjadi hiburan malam di hotel berbintang lima. Pasar adalah yang menentukan apa yang layak dipertahankan dan apa yang harus dilupakan.
Dan Bali? Bali mungkin kini hanyalah objek yang ditentukan oleh pasar?

Saya (penulis) sedang bericara dalam diskusi literasi di Samsara Living Museum | Foto: Ist
Acara di Samsara Living Museum telah berlalu. Saya telah berbicara, telah mendengarkan, telah berdiskusi. Dan satu hal yang terus berulang dalam pikiran saya: menulis ulang.
Mungkin itu jawabannya. Mungkin itu jalannya. Bahwa kita harus menulis ulang narasi kita sendiri. Bahwa kita harus menemukan kembali identitas kita yang selama ini lebih sering diceritakan oleh orang lain ketimbang oleh kita sendiri. Bahwa kita harus kembali menjadi subjek, bukan sekadar objek dalam cerita tentang rumah kita sendiri.
Karena mungkin hanya dengan cara itulah, literasi benar-benar bisa berfungsi. Bukan sekadar kata-kata di atas kertas, tetapi sesuatu yang hidup, yang bergerak, yang mengubah cara kita melihat diri sendiri dan cara dunia melihat kita.
Saya tidak ingin memberi jawaban. Saya tidak ingin memberi solusi. Saya hanya ingin bertanya kepada mereka yang mendengarkan: Bali itu apa? Dan apakah kita masih memilikinya? [T]
Penulis: Pranita Dewi
Editor: Adnyana Ole
MENUTUP tahun 2025, duka melanda bangsa Indonesia. Beragam bencana terjadi di berbagai daerah. Puncaknya, banjir dan tanah longsor di Pulau Sumatra. Ada yang menyebut ini musibah....
Dalam sebuah pertemuan dengan beberapa Pemangku (seseorang yang bertugas memimpin upacara adat dan budaya dalam agama Hindu di Bali), mereka mengungkapkan dalam persembahan "harus...
IRINGAN musik mulai diputar, lalu suara seorang remaja mengalun dari panggung. Riuh percakapan perlahan mereda. Penonton diam, juri menajamkan perhatian, dan sorot lampu tertuju p...
BALI selama puluhan tahun “dijual” kepada dunia sebagai surga mulai dari pantai yang eksotis, sawah berundak, budaya yang hidup, dan keramahan yang seolah tak pernah habis. Namun,...
DALAM kehidupan sehari-hari di Bali, kita kerap menjumpai pemandangan yang, bagi sebagian orang, dianggap ganjil. Seorang laki-laki berbicara sendiri di pinggir jalan, seorang per...
BERTEPATAN dengan Peringatan Hari Ibu Tahun 2025, Senin, 22 Desember 2025, di Gedung Dharma Negara Alaya, Denpasar, Nyoman Wirayuni, SH., MM., menerima penghargaan Gender Champion...
MAGNUS CARLSEN, nama yang lekat dengan dominasi catur cepat dan kilat di era modern, kembali ke panggung FIDE World Rapid Championship 2025 yang berlangsung di Doha, Qatar, dari 2...
“Comfortably Numb,” mahakarya Pink Floyd yang tak lekang waktu, menyentuh isu eksistensial paling manusiawi: keterasingan, isolasi emosional, dan kehampaan batin yang menghantui m...
Pengakuan yang Tidak Otomatis Mengubah Kesadaran Pada 2 Oktober 2009, dunia secara resmi mengakui batik sebagai Intangible Cultural Heritage of Humanity melalui UNESCO. Secara...
TEPAT 20 Desember 2025, saya melakukan perjalanan ke tiga negara dengan pintu masuk Singapura. Seperti biasa, dari Changi Airport saja sudah menjadi daya tarik pengunjung. Sebut s...