“Full Day School”, Bentuk Generasi Emas atau Generasi Cemas?
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
HARI-HARI ini, menurut saya, membaca kembali buku Melihat Diri Sendiri: Refleksi dan Inspirasi (2019) karya KH. A. Mustofa Bisri adalah suatu hal yang tepat. Bukan saja karena kondisi sosial-agama-politik bangsa yang sedang semerawut, tapi juga ini bulan Ramadan---bulan yang cocok untuk lebih banyak refleksi, merenung, melihat diri sendiri.
Saya nyaris lupa bahwa di rak buku saya di rumah terselip buku setebal 294 halaman terbitan Diva Press itu kalau saja saya tidak mencari buku Indonesia Kita-nya Nurcholis Madjid. Buku tersebut berdiri tepat di sebelah Indonesia Kita---dan akhirnya membuat saya mengurungkan niat untuk membaca kembali buku Cak Nur ini. Maka pada sore menjelang buka puasa, saya putuskan untuk kembali memetik hikmah-nasihat dari buku Melihat Diri Sendiri.
Buku ini memuat 50-an esai karya Gus Mus---panggilan akrab KH. A. Mustofa Bisri---yang pernah dimuat di berbagai koran dan majalah, sebagaimana pengakuan Gus Mus dalam sekapur sirihnya, “dalam rentang waktu sejak menjelang ambruknya Orde Baru hingga ramai-ramainya orang menari-nari mengikuti gendang yang ditabuh Bush bin Bush (Presiden Amerika yang kerasukan “jin teror”) dan sekutunya.” Esai-esai tersebut dibagi menjadi enam bagian dengan maksud memudahkan pembaca yang ingin langsung membaca bagian-bagian yang dipilihnya. Dan ini jelas membantu pembaca (tidak sabaran) seperti saya.
Ya, tentu saja saya tidak langsung membaca semua esai. Apalagi yang tertib dari esai pertama sampai terakhir secara berurutan. Saya membaca esai-esai yang menurut saya pendek dan saya anggap mudah memahaminya. Begitulah. Maka saya mulai membaca Niat (hal.58).
Sebagaimana judulnya, esai yang menjadi pembuka bagian kedua---keberagamaan---itu, membahas tentang niat kita dalam melakukan sesuatu. Amal atau perbuatan apa pun tergantung niatnya, kata Gus Mus. “Dua orang yang sama-sama tidur, bisa jadi yang satu mendapat pahala dan yang lain tidak. Sebab, yang satu tidur dengan niat beristirahat agar ketika bangun energinya kembali dan dapat melakukan kegiatan ibadah dengan optimal, sedangkan yang lain tidur asal tidur.” Tak hanya memberi contoh soal tidur, Gus juga menyinggung soal pernyataan orang yang berpolitik.
Niat yang menjadi standar sah dan kualitas amal itu, menurut Gus Mus, muncul dari hati, bukan dari mulut. Seorang politisi bisa saja menyatakan bahwa perbuatannya didasarkan atas niat yang baik, niat ibadah, dan mungkin orang-orang yang mendengarnya percaya, tetapi siapa sangka itu hanya sekadar ucapan manis di mulut tapi lain di hati. Maka tak mengherankan jika masih banyak pemimpin di negara ini yang korupsi, menipu, dan lebih mementingkan diri sendiri daripada kepentingan rakyat. Itu karena sejak awal niatnya bukan murni mengabdi, melainkan menguasai.
Urusan niat ini kelihatannya sederhana, tapi sebenarnya tidak. Hanya diri sendiri dan Tuhan yang tahu niat seseorang. Kata Gus Mus, terkadang perbuatan yang tampak duniawi, lantaran niat yang benar, memiliki nilai ibadah. Sebaliknya, ada amalan yang tampaknya ibadah, lantaran niat yang salah, menjadi sekadar perbuatan duniawi yang tak ada pahalanya, bahkan bisa berbalik menjadi kedurhakaan. “Membaca al-Quran dengan niat mendapat piala, tentu tidak sama dengan niat mendapat pahala.”---dalam esai Taat, Ibadah, dan Taqarrub (hal. 72).
Dalam esai lain, Gus Mus menyinggung soal pemandangan orang-orang yang berebut mencium Hajar Aswad---batu hitam yang terpasang di pojok dekat pintu Ka’bah---dengan tak jarang malah menyakiti sesama jamaah. Gus Mus mengambarkan: “Sesekali, terlihat beberapa orang terpental kena sodok ‘saiang-saiang’ mereka sesama jamaah, kemudian kembali melaju merangsek lagi. Wajah mereka yang berhasil mencium batu hitam yang dikeramatkan itu, meskipun tampak lusuh dan kusut, jelas sekali memancarkan kelegaan dan kepuasan.”---esai Sikap Keberagamaan (hal.62).
Dengan kritis Gus Mus menegaskan, mencium Hajar Aswad adalah sunah, sedangkan mengganggu dan menyakiti sesama mukmin---yang notabene juga sedang melaksanakan ibadah---adalah haram. Bagaimana mungkin seorang muslim ingin melaksanakan kesunahan dengan melakukan keharaman? Lebih muskil lagi bila pelanggaran larangan agama itu dilakukan untuk memuaskan diri sendiri---mencari pengalaman rohani atau apa pun namanya---bersamaan dengan dan atas nama pelaksanaan ibadah agama. Ringkasnya, aneh rasanya jika ibadah dilakukan bersamaan dengan menyakiti sesama, atau membuat ibadah orang lain menjadi terganggu.
Hikmah dalam buku ini tidak hanya Gus Mus sampaikan lewat contoh kasus dalam ibadah Islam saja, tapi juga lewat sepak bola. Pada bagian ketiga---norma pergaulan hidup---Gus Mus menulis esai dengan judul Permainan Sepak Bola (hal.106). Dalam esai ini sang kiai menyampaikan beberapa hal betapa sepak bola telah menjadi olah raga yang paling---atau setidaknya termasuk yang paling---digemari di dunia sebelum menyampaikan pesan moral di akhir tulisan.
Kata Gus Mus, hidup tak lebih dari permainan, seperti permainan sepak bola itu. Orang berlari, berebut sesuatu yang sepele untuk kemudian dilepas dan dikejar-kejar lagi. Mereka yang mengejar dan berebut harta, misalnya, setelah berhasil mendapatkannya ada yang melepasnya secara sukarela, ada yang terpaksa melepaskannya. Demikian pula mereka yang mengejar dan berebut kursi dan kekuasaan. Untuk merebut, kalau perlu menyikut, menendang, dan menginjak saudara sendiri. Dan tak jarang orang yang berperangai religius pun melakukannya.
Soal pemimpin yang berbuat memau-gue, Gus Mus menyampaikannya lewat esai Norma Pegaulan Hidup (hal 123). Dalam esai ini, dengan gamblang Gus Mus menggambarkan betapa banyak pemimpin di negara ini masih berbuat semaunya sendiri tanpa rasa malu dan sungkan. Coba pikir, tulis Gus Mus, alangkah banyaknya orang yang memiliki kedudukan sangat terhormat, dengan gagah memamerkan ketidaktahumaluannya, pada saat orang-orang yang kedudukannya jauh lebih rendah daripadanya saja---karena sudah menganggapnya pemimpin mereka---merasa sangat dipermalukan dengan sikapnya. Ada---kalau tidak banyak---tokoh pemimpin yang seharusnya bertanggungjawab, tanpa malu-malu selalu hanya tanggung asal jawab.
Dalam esai yang kemudian menjadi judul buku ini, Melihat Diri Sendiri (hal. 268), Gus Mus mengingatkan bahwa pandangan yang berlebihan terhadap materi dan segala yang duniawi-lah kiranya yang benar-benar menyeret orang menjadi pribadi yang egois. Kegilaab terhadap materi dan segala yang duniawi---yang sebetulnya sepele menurut Gus Mus---itu kemudian memunculkan kebakhilan, keserakahan, arogansi, dan sifat-sifat lain yang cenderung mengabaikan, bahkan melecehkan pihak lain. Dan setiap orang berpotensi memiliki sifat demikian.
Sampai di sini, benang merah dari “kesalahan berpikir”, anggap saja begitu, yang disampaikan Gus Mus dalam setiap esainya dalam buku Melihat Diri Sendiri ini adalah boleh jadi menggambarkan semangat beragama yang tinggi, tetapi tidak diimbangi dengan pemahaman dan penalaran agama itu sendiri. Beragama, tapi tidak berilmu---beriman tanpa ilmu.
Melalui buku ini, Gus Mus berhasil menyampaikan pesan-pesan moral dan spiritual dengan cara yang indah dan menyentuh (jangan lupa, beliau juga seorang penyair), yang mampu meresap ke dalam hati banyak orang, melampaui sekat-sekat agama, budaya, dan ideologi. Dan seperti yang telah tertulis di sampul belakang buku, dalam Melihat Diri Sendiri, Gus Mus mengajak pembaca untuk mengembala ego, memenapkan (mengendapkan) ke-aku-an kita supaya bisa menjadi manusia sejati. Banyak renungan kehidupan yang diwedar sang kiai dalam buku ini; mulai masalah kebangsaan, keagamaan, politik, hingga diri pribadi. Semuanya itu hanya berpangkal satu tujuan, yakni agar kita tidak menjadi manusia yang linglung. [T]
Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
HAY, ges, Salam Sejahtera untuk ges ges semua di seantero jagad Indonesia tercinta. Semoga semua masih dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa dan selalu memegang teguh ideologi Panca...
RATUSAN anak mendadak berlarian dari sisi barat dan timur Taman Lumintang, Denpasar. Mereka menghambur begitu saja di tengah-tengah lapangan. Mereka menari, berlari, kejar-kejaran,...
Cerpen: Surya Gemilang PARA pengunjung Taman Palakosa dibuat menganga pada sore itu oleh kehadiran seorang pria bertubuh kekar yang wajahnya abnormal; ia bermata tiga—m...
RASANYA baru kemarin saya menjadi mahasiswa semester 6 dan kini sudah beranjak ke semester 7. Segala pahit getir hari-hari di semester 6 yang agak jahanam akhirnya bisa saya lalui...
“Dadi minum, sakewale abedik!” begitu pesan luhur dari Sembroli. Dan kalimat itu dikatakan berkali-kali. Setiap kali menyebut “pesan luhur”, ia selalu angkat gelas dan menenggak ar...
PAGI tadi aku duduk di sebuah kursi taman di belakang gedung kampusku yang baru. Sudah tiga hari aktivitas ini aku lakukan. Aku pun sebenarnya tidak betul-betul tahu untuk apa dan...
MEDIA Sosial tentunya memberikan banyak manfaat. Mulai dari sarana untuk mengekspresikan diri, bertukar informasi, mencari lebih banyak teman, bahkan untuk menjalankan sebuah bisni...
BELAJARLAH pencitraan dari kuliner khas Buleleng, terutama dari lawar getih. Karena pencitraan itu adalah pertunjukan tentang “rasa dan kesan” yang serupa antara apa yang dilihat m...
SINTHA Pramadewi terlihat serius melihat aksara demi aksara yang tertulis di atas selembar daun lontar. Dengan terbata-bata ia berusaha membaca aksara demi aksara, yang ukurannya t...