Puisi-puisi Vito Prasetyo | Antara Hitam dan Putih

Vito Prasetyo
by Vito Prasetyo — Maret 08, 2025 in Puisi

Tatkala.co

Antara Hitam dan Putih

cahaya lampu membuatmu lupa akan kegelapan
bukankah sebelum takdir dituliskan
engkau serupa puisi tanpa kata-kata
berkelana dalam warna hitam
sebelum menemukan betapa pentingnya warna putih

Malang, 2025

Enigma Rindu

dengan cara apa memaknai cinta
jika perasaan terbelenggu
mengembara dalam orbit masa dan tatapan gelap
sementara malam, senantiasa hadirkan rindu

Malang, 2025

Oasis

andai garis-garis cahaya menjahit segala gelisah
tak akan ada rindu yang pergi
merancap luka di ingatan mimpi
biarkan kubaringkan penatnya kata-kata
menjadi puisi yang lesapkan semesta cinta
dari segala peristiwa yang kita tulis sebagai perjalanan

Malang, 2025

Pusara Ibu

tempat itu terlalu tabah dan teduh
untuk segala luka yang dijahitnya tanpa keluh kesah

tempat itu adalah punggung ibu
yang kini tak akan pernah lagi bisa ‘kusandarkan dukaku
bukankah Tuhan telah sempurnakan
dalam doa-doa yang senantiasa kupanjatkan
mengalungkannya dengan zikir di cungkup pusara
dan membiarkan air mata menjadi setumpuk kenangan

andai segala peristiwa bisa terulang kembali
biarkan malam menjadi sejarah kata-kata
melesap pada bait-bait puisi
yang menghapus catatan sedih di sudut mata ibu
meski sinar matahari senantiasa memayungi
di tanah-tanah pusara, penanda keabadian
dari kedangkalanku memaknai rindu

Malang, 2025

Sungai Kering

sisa kata-kata
yang kita pungut dari jejak tidur
seakan begitu lelah menjadi kalimat
meski sinar pagi menghunjam tajam
di jemari kertas, enggan menyimpul makna
mungkin, masih ingin lelap dalam angan-angan
dan esok hanyut pada sungai-sungai kering
yang menanti kata-kata baru serupa air bening mengalir
dari kedangkalan kita membaca cinta

Malang, 2025

Matahari dan Rembulan

ada kalanya aku ingin membaca matahari
sinarnya menghunus ingatanku
senantiasa mengingatkan, aku hanya mampu berpijak di tanah
bukankah itu isyarat, tentang kedangkalanku memaknai langit
aku juga tidak mampu menolak sinarnya
yang memagari tatapanku, kerap hanya tersenyum pada rembulan
hampir tiap malam, aku selalu merindukan lengkingan purnama
seperti sebuah syair, matahari dan rembulan
tak akan pernah mampu bersenandung bersama
selain menyatu dalam puisi

Malang, 2025

Sunyi Sedalam Lautan

adalah sunyi, acap kali penyair tuangkan ke dalam bait-bait
seolah-olah hanya mereka yang mengerti tentang kesunyian
bukankah sunyi bermakna kekal milik siapa saja
yang telah menggumpal beku dalam penjara ingatan
mengembara sedalam lautan, mengudar rindu dan gelisah

Malang, 2025

Penulis: Vito Prasetyo
Editor: Adnyana Ole

https://tatkala.co/2025/02/23/puisi-puisi-gilang-sakti-ramadhan-senandika/
https://tatkala.co/2025/02/22/puisi-puisi-abed-ilyas-rencana-bermain/embed/#?secret=fI1LORCNim#?secret=3Tlhl24rGV
https://tatkala.co/2025/02/16/puisi-puisi-willy-fahmy-agiska-alerta/embed/#?secret=SqaZzuAuwf#?secret=YigMrLL7jC
https://tatkala.co/2024/12/29/puisi-puisi-gimien-artekjursi-tanamlah-musim-dalam-jiwamu/embed/#?secret=72sV4m82i2#?secret=HHBE7upUFc
https://tatkala.co/2024/11/23/puisi-puisi-iga-darma-putra-dari-paris-kepada-sunyi-kabut-hujan/embed/#?secret=i9qpIvJBH0#?secret=gWXDtLq11M
Tag: Puisi
Avatar

Vito Prasetyo

Related Posts