FESTIVAL konservasi dan identifikasi serangkaian dengan Bulan Bahasa Bali VII berlangsung di Banjar Kaja Kauh, Desa Tulikup, Kecamatan Gianyar, Kabupaten Gianyar, Rabu, 26 Februari 2025. Dinas Kebudayaan Provinsi Bali melalui Penyuhuh Bahasa Bali melakukan konservasi lontar merupakan milik I Wayan Suparsa.
Tim Penyuluh Bahasa Bali yang melakukan pendataan awal menemukan sebanyak 66 cakep lontar. “Setelah kami menyusun ulang, jumlah lontar tersebut bertambah 4 cakep, dan kini menjadi 70 cakep lontar,” kata Koordinator Baga Lontar Kabupaten Gianyar I Wayan Suparsa.
Tim Penyuluh yang terlibat adalah Ida Bagus Ari Wijaya, I Wayan Gitar Hardinata, I Dewa Nyoman Raka Parthama, Ni Putu Suwendayani, dan Gusti Ayu Leni Suyasti, Made Dwi Megasani, Ni Kadek Umi Wirantari, I Wayan Sudiarsa, Ni Luh Sri Artini, Ni Nengah Sudiani, Ni Wayan Budiari, dan Ni Kadek Adi Astuti yang secara serius merawat lontar-lontar warisan dari leluhur I Wayan Mustawan.
Lontar tersebut masih dalam keadaan baik dan masih bisa dibaca. Hanya saja beberapa bagian ada yang tercecer, sehingga harus disusun ulang. “Jenis lontar tersebut sangat beragam, mulai dari wariga, tatwa, usada, susastra, kanda, dan mantra,” paparnya senang.
Pada kesempatan itu, Tim Penyuluh Bahasa Bali yang hadir sebanyak 12 orang---karena sebagian lagi melaksanakan kegiatan Bulan Bahasa Bali di beberapa desa. Seluruh penyuluh mengawali kegiatan dengan melakukan pembersihan debu-debu yang melekat pada naskah lontar.
Kegiatan Festival Konservasi Identifikasi Lontar di Kabupaten Gianyar | Foto: Ist
Setelah bersih, tim kemudian membubuhkan pengawet dengan cara diusap memakai lap secara halus. Selanjutnya proses identifikasi naskah. “Sesuai dengan klasifikasinya, isi dari lontar yang sudah di konservasi dan diidentifikasi kami menemukan berbagai jenis lontar,” imbuhnya.
Ada lontar berisi penentuan hari baik, berisi tentang petuah-petuah dalam kategori tutur, ilmu pengobatan dan resep obat trdisional, ada cerita tentang Gatot Kaca dalam bentuk kakawin, ilmu kadiatmikan atau kebatinan, dan mantara-mantra pemujaan.
“Dari hasil identifikasi lontar yang kami sudah lakukan itu, bisa dikatakan Wayan Mustawan masih memiliki lontar dalam kategori umum yang banyak tersebar di masyarakat. Tidak ada lontar yang lain atau yang memiliki keunikan khusus,” sebutnya.
Suparsa mengatakan, sebelum dilakukan observasi lontar itu disimpan dalam keropak kayu. “Saat ini, beliau sudah mengganti keropak kayunya dengan lemari kaca. Itu atas saran Penyuluh agar suhunya dapat terjaga, dan terkena cahaya agar tidak lembab,” imbuhnya.
Walau demikian, Tim Penyuluh Bahasa Bali tetap memberikan tips-tips khusus dalam merawat lontarnya. Walau tidak dibaca secara rutin, namun harus melakukan perawatan dengan cara sesekali waktu membuka lontar kemudian membersihkan debunya.
Alat yang digunakan bukan kain, melainkan menggunakan kuas. Hal itu tetap dilakukan walaupun tidak membacanya. “Cara seperti itu untuk menghindari agar lontar itu tidak terkena air dan sinar matahari langsung,” jelasnya.
Pemilik lontar, Wayan Mustawan, sangat mengapresiasi dan mengucapkan terimakasih kepada Dinas Kebudayaan Provinsi Bali yang melaksanakan program merawat lontar milik masyarakat. “Program ini sangat berguna ini, khususnya bagi yang memiliki naskah lontar,” ujarnya.
Termasuk dirinya yang sangat awam dengan cara perawatan lontar, sehingga merasa sangat terbantu dalam menjaga warisan leluhurnya. “Kami berharap Penyuluh Bahasa Bali---yang di bawah naungan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali---terus melanjutkan program ini kepada masyarakat lainnya yang memiliki naskah lontar,” harap Mustawan.[T][Rls]
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...