Topeng Tugek Carangsari – Memainkan Topeng Mengolah Karakter
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
angin begitu liar
membentur tanah. di pusat bayang
langit menyalak
kilatan bunyi. dalam kebisuan
pohon-pohon tua menebar gelagat
lewat denting ranting dan tepuk daun-daun
di sepanjang jalan
jarum-jarum hujan merajut selimut
di bawahnya kesunyian
berkerumun serupa anak-anak
merencanakan permainan
menuju tempat-tempat rahasia
siapakah perempuan itu. kepalanya terlepas
setelah sinar timur mengasah nyala
sebilah pedang
bunga-bunga putih doa-doa
bermekaran di atas
genangan darah
bukankah tuhan ada di mana saja
bahkan di tempat lembap dan lebam?
lelaki sehari lima kali
mendatangi tuhan
dengan mata dan telinga
basah
agar tanah hanya lumpur
bagi warna bunga-bunga, dan doa-doa
kuncup dalam diri
bukankah tuhan ada di mana saja
bahkan pada nyala sebilah pedang?
bulu-bulu. angin menggenapi
bagian kosong langit
warna danau yang gagal
memberi aksen pada terbang
sepasang angsa
khusyuk bersidekap di atas sajadah
air. menunggu sujud sebelum tarian
kembali datang
dalam gerak duniawi
samadi lilin tanpa api
tak ada arah bagi kupu-kupu
kiri atau kanan, tak terbaca
dalam mekar bunga
malam. mengamini lafaz-lafaz hujan
juga takbir bintang dan binatang
terbang kupu-kupu sampai
di kuning ruang, bilah-bilah luka
jadi batas gelap terang
tempat samadi
kembali fitrah kembali ke tanah
di terang hari
batu mimpi tertidur
di bawah selimut
sedimen laut
disingkaplah lingkar cangkang
tapi cangkang hanya menyimpan gema
ledakan bintang dalam fragmen debu
beribu tahun lalu
orang mulai bertanya
tak ada kapal lain atau nelayan tersesat
dalam pelayaran.
laut, bagai benteng rebah dilapis cahaya
jutaan kupu-kupu menerbangkan perih
ke mataku
di belakang kapal, mekar sehampar
anyelir, meledakkan anyir
ikan-ikan. dilayarkan angin
ke tepi-tepi
tangannya tak lagi mampu mengurai hangat
di basah pasir. ia menyerahkan pelayaran
pada lingkar kemudi patah
berdiri ia menebak-nebak warna hari
dipalut kabut, tapi laut selalu malam
di matanya. merenungkan perjalanan
─ dari mimpi ke tanah tak nyata─
di pusat diam, guntur menyambar-nyambar
menghapus wujud nyata
dirinya, wujud nyata dunia
*
Penulis: Abed Ilyas
Editor: Adnyana Ole
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
JIKA di atas meja belajar anda terdapat dua buah benda yaitu gadget dan buku, manakah yang akan anda pilih? Saya percaya, demi sinetron kesukaan ibu-ibu di tivi, kebanyakan dari a...
LAGU anak-anak itu kadang unik, terutama liriknya. Saat Taman Kanak-Kanak dulu kita tidak begitu hirau dan memang tak banyak mengerti arti dan maksud lagunya itu apa. Cuma nyanyi d...
BALI merupakan kepulauan seribu pura yang telah terkenal sejak zaman dahulu. Masyarakat Bali tak lepas dari Tri Hita Karana yang merupakan landasan kehidupan beragama dan beradat....
JIKA benar harga rokok setinggi langit biru, dan jika benar harga tinggi itu bisa menghentikan orang merokok, dan (siapa tahu) nanti benar-benar tak ada yang merokok, bagaimana nas...
PERNAH nyuluh jangkrik? Zaman saya kecil, di desa saya di Jembrana, nyuluh jangkrik (memburu jangrik malam hari) adalah kegemaran saya dan teman sebaya. Jauh-jauh sebelumnya, bapak...
Cerpen: Putri Handayani HAMPIR setiap hari Griya Siwa tidak pernah sepi dari orang-orang yang ngayah1. Mulai dari membuat sarana upakara sampai meracik tirta, semua dilakukan oleh ...
KELAHIRAN istilah 'simakrama' menarik untuk ditelusuri. Awalnya istilah ini yang lebih mengarah pada padanan kata 'silahturahmi', yang mencerminkan keinginan untuk berbicara dan sa...
ADA serombongan remaja sedang berebut peran. Mereka akan menjadi pelakon sandiwara dalam perayaan Agustusan tingkat RT. Peran konglomerat, menteri, dokter, mahasiswa, semua mereka...
GARIS berliku itu menyerupai sungai. Lebar di hulu kemudian menyempit di hilir. Warnanya hijau, biru, dan jingga. Garis berliku serupa sungai itu membelah lukisan menjadi dua bagia...