SETIAP Minggu pagi, Pasar Intaran yang terletak di Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, menjadi surga bagi para pecinta kuliner, komunitas, maupun individu yang mencari tempat untuk berkumpul. Banyak orang dari berbagai kalangan, baik itu anak-anak, orang tua, anak muda, pelajar, pengusaha, jurnalis, aktivis, dan mahasiswa datang untuk menikmati berbagai acara yang diadakan oleh pasar ini.
Terletak di pedesaan dengan pepohonan rindang dan udara segar, Pasar Intaran menawarkan pengalaman yang lebih dari sekadar tempat berbelanja. Di sini, pengunjung bisa memulai hari dengan olahraga Zumba, mencari sarapan, bertukar gagasan, hingga menikmati hangatnya matahari pagi.
Dari banyak hal yang dapat kita temukan di Pasar Intaran, tetap yang menjadi daya tarik utamanya adalah keberagaman makanan tradisional yang menggugah selera. Bagi generasi yang lebih tua, sarapan pagi di Pasar Intaran bisa jadi kesempatan untuk bernostalgia, mengingat kembali rasa-rasa yang dulu pernah ada, eakk.
Sementara bagi muda-mudi, sarapan pagi di Pasar Intaran bisa jadi ini adalah pengalaman mencicipi kembali hidangan yang semakin jarang ditemukan sekaligus merasakan kedekatan dengan akar budaya melalui kuliner.
Pada hari Minggu, 16 Februari 2025, salah satu makanan yang paling mencuri perhatian adalah sate keladi, primadona baru di antara jajanan Pasar Intaran. Sate keladi terbuat dari campuran keladi (talas), kentang, dan ikan cakalang yang menghasilkan perpaduan rasa gurih yang unik. Teksturnya lembut namun tetap memberikan sedikit gigitan khas dari keladi.
Dengan hanya satu koin neem (alat tukar/transaksi di Pasar Intaran), setara dengan Rp10.000, pengunjung sudah bisa menikmati lima tusuk sate keladi yang kaya rasa dan sarat sejarah. Lokasinya pun mudah ditemukan, berada di dekat Pojok Literasi, dengan ciri khas meja dan alat pemanggang yang menguar aroma khas sate yang sedang dibakar.
Namun, menikmati sate keladi di Pasar Intaran bukan sekadar soal mencicipi makanan lezat. Ini juga menjadi perjalanan untuk mengenali kembali jejak kuliner khas Bali Utara yang semakin langka. Sebuah pengalaman yang mengajak kita untuk tidak sekadar makan, tetapi juga memahami makna di balik setiap suapan.
Mengapa Sate Keladi Bukan Sekadar Hidangan Biasa?
Konon kuliner adalah jendela untuk memahami sebuah kebudayaan. Lewat rasa, aroma, tekstur, dan tampilan, makanan mampu menghadirkan pengalaman yang lebih dari sekadar mengenyangkan perut. Setiap gigitan mengandung cerita, sejarah, dan nilai-nilai yang melekat dalam suatu masyarakat.
Namun, merasakan sebuah hidangan tidak cukup hanya dengan indera perasa. Di balik setiap makanan, ada kisah yang menjadikannya lebih bermakna. Mengetahui latar belakang suatu hidangan akan memberikan apresiasi yang lebih mendalam terhadap cita rasanya.
Memabakar sate keladi di Pasar Intaran | Foto: Dok. Pasar Intaran
Begitulah pengalaman saya ketika berada di Pasar Intaran. Berawal dari mencicipi sate keladi, percakapan dengan sesama pengunjung pasar yaitu Pak Patut dan Pak Made, membawa saya pada perjalanan mengenal lebih jauh tipologi peradaban di Bali Utara. Hal itu diawali dengan pertanyaan sederhana yaitu, “Apakah sate keladi banyak ditemukan di Singaraja?”.
Dari pertanyaan sederhana itu diketahui bahwa sate keladi bukan sekadar sajian khas, tetapi juga bagian dari identitas kuliner desa-desa di Bali Aga, kelompok masyarakat Bali asli yang mempertahankan tradisi leluhurnya di wilayah Bali Utara.
“Mereka itu yang budayanya Bali sebelum ‘dijajah’, kalau kita kan sudah pernah ‘dijajah’,” jelas Pak Made.
Tentu yang ia maksudkan dari jajah-dijajah ini merujuk pada proses akulturasi dan asimilasi kebudayaan Bali di era Kerajaan Majapahit (1343), yang mana hal itu tidak terjadi di desa-desa Bali Aga.
Sate keladi dikenal sebagai makanan khas dari Desa Pedawa. Sebuah desa yang berada di dataran tinggi di Kabupaten Buleleng, di mana keladi menjadi tumbuhan yang bisa tumbuh di mana-mana, bahkan ia tumbuh liar di pekarangan rumah, hingga menjadi sumber pangan yang vital bagi masyarakat.
Jika keladi pada umumnya direbus atau dikukus, diolah menjadi kue, atau juga dicampur dengan nasi seperti nasi muranan. Uniknya, masyarakat Pedawa mengolah keladi menjadi bahan baku sate lilit. Kok bisa ya?
“Kalau saya sih melihatnya, sate keladi ini spesial karena dia pakai keladi, tidak perlu lagi tepung tapioka atau terigu untuk merekatkan adonannya,” ujar Pak Patut.
Sate keladi siap disantap | Foto: Dok. Pasar Intaran
Sama hal nya dengan kentang ataupun singkong, keladi juga kaya akan pati sehingga tanaman ini merupakan potensi sumber karbohidrat lokal. Selain itu kandungan amilopektin yang tinggi juga membuat talas atau keladi terasa lengket dan pulen.
Bisa dibayangkan bahwa sate keladi merupakan buah pikiran arif dan kreatif dari komunitas Bali Aga, yang kehidupannya penuh dengan kesadaran ekologis. Tidak perlu membeli tepung terigu atau tapioka yang sudah mengalami proses yang cukup panjang, cukup dengan memanfaatkan keladi yang ada di lingkungan sekitar, satu makanan lezat sudah bisa terhidang di meja makan.
Santapan lain yang bisa dinikmati di Pasar Intaran
Tidak hanya sate keladi, di Pasar Intaran kita bisa mencicipi santapan khas Bali Utara lainnya dalam bentuk jaje, di antaranya: nagasari, olen-olen, injin (ketan hitam), dan jaje giling-giling yang dikemas dalam wadah daun pisang.
Selain itu kudapan lain seperti nasi bakar, tipat cantok, siomay, mie asin, dan mengguh dapat ditemukan dengan mudah di pasar ini. Hanya dengan satu koin neem, kita bisa mendapatkan satu porsi dari makanan tersebut.
Jika anda haus setelah mejajaki makanan tradisional yang ada di pasar, ada es daluman yang kaya akan serat dan manis karena gula aren. Dalam proses pembuatannya tidak menggunakan bahan pengawet maupun pemanis buatan. Selain itu ada juga es kelapa muda yang laris manis, dan kopi dari Kedai Kopi Dekakiang yang nikmat sekali disruput sembari bercengkerama.
Tidak hanya sekedar makan, di Pasar Intaran juga kita dikenalkan pada gaya hidup yang berkelanjutan. Karena semua produk, baik itu makanan atau barang-barang yang dijual di Pasar Intaran merupakan hasil kurasi pihak penyelenggara.
Produk-produk di pasar ini sebanyak mungkin harus mengakomodasi penggunaan bahan-bahan alami, dimulai dari bahan baku produk hingga pengemasannya. Seperti daun kelapa dan daun pisang yang dijadikan bungkus, alas, atau piring menggantikan plastik. Ini bukan sekadar nostalgia, melainkan cara belajar dari masa lalu dengan mengadopsi kebiasaan lama yang lebih ramah lingkungan.
Lebih dari Sekadar Pasar, Lebih dari Sekadar Kuliner
Sate keladi di Pasar Intaran adalah lebih dari sekadar jajanan baru yang sedang naik daun. Ia membawa cerita tentang asal-usul, kearifan lokal, dan bagaimana kuliner bisa menjadi jembatan untuk memahami sejarah dan identitas sebuah masyarakat.
Pasar Intaran sendiri bukan sekadar tempat bertransaksi. Ia adalah ruang hidup yang menghubungkan manusia dengan tradisi, mengenalkan kembali kearifan lokal dalam keseharian, serta memberikan ruang bagi komunitas untuk berbagi pengalaman.
Di sini, kita tidak hanya makan, tetapi juga belajar. Kita tidak sekadar membeli, tetapi juga mengapresiasi. Dan di antara semua itu, kita diingatkan bahwa makanan bukan hanya tentang rasa, tetapi juga tentang perjalanan dan makna di baliknya. [T]
Reporter/Penulis: Gia Editor: Adnyana Ole
Liputan ini terselenggara atas kerjasama Pasar Intaran dan tatkala.co
Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending'
Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending (kegalauan) y...
TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel pendek. Dalam perbi...
Roses are red
Violets are blue
106,20 KM?
WTF is wrong with you?
SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas diangkat oleh seorang warga negara asing, tepat sebel...
SETIAP tanggal 20 Mei bangsa Indonesia seolah menyetel ulang kompas tentang nasionalisme. Dari mana nasionalisme dimulai, dan kini hendak dibawa ke mana? Pertanyaan itu membawa ba...
CITRA Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni rupa tahunan Sove...
DUNIA modern melahirkan manusia-manusia yang semakin pandai berbicara, tetapi perlahan kehilangan kemampuan memahami. Hari ini, orang terlalu cepat membuat kesimpulan hanya dari a...
Pernahkah Anda mendengar seseorang kecewa dan mengeluh bahwa ia sedang patah hati kepada sebuah negara?
Saya sendiri kerap mendengar orang mengeluh patah hati karena urusan asm...
JUMAT malam, 8 Mei 2026, di Mactan Expo, Cebu, Filipina, dalam jamuan santap malam KTT ke-48 ASEAN, budaya tampil lagi di ruang diplomasi. Presiden Prabowo Subianto hadir mengenak...
“Ini tarian paling susah yang pernah dipelajari sejauh ini.”
Kalimat itu meluncur pelan dari Ni Mas Ayu Rasitha setelah usai mementaskan Legong Kembang Ura di Wantilan Pura Des...
DALAM salah satu bukunya, I Gde Aryantha Soethama menulis bahwa orang Bali tidak punya tradisi berwisata ala Barat. Berwisata dalam arti plesir yang dalam Bahasa Bali disebut mala...