SETAHUN lalu, pada pertengahan Desember. Di sebuah markas bernama Karang Siluman (Karsil), di Sambangan, Gang Durian, lelaki itu membuka bajunya, menatap lukisan abstrak, baru saja rampung.
Ia merokok. Lalu menatap lukisan berjudul “Lanscap 2025” berukuran 250 x 130 cm dari media AOC itu, dengan satu tarikan napas paling dalam. Asap tebal keluar—menguar. Maka, meredalah segala perang batin. Keringlah pikiran di kanvas. Juga rasa cemas.
“Karena kebanyakan orang berharap di tahun 2025 lebih baik dari tahun 2024. Banyak yang bilang semoga di tahun 2025 berlimpah uang, cepat dikasih jodoh dan sebagainya. Tapi terkadang mereka lupa bersyukur,” kata Mizanul Hak, lelaki itu, tentang lukisan yang baru saja dibuatnya itu.
Mizanul Hak, seniman muda asal Lombok yang memilih berkarir di Bali. Ia lahir pada 27 Januari 1997, di Kumbung Timur, Desa Kumbang, Masbagik, Lombok Timur.
Ia adalah seniman muda asal Lombok yang banyak berporses di Bali.
Mizanul Hak | Foto: Dok. pribadi
Ia sempat kuliah Jurusan Seni di Undiksha tahun 2015. Lulus tahun 2021. Tapi masih bertahan di Singaraja hingga sekarang, memilih berkarir di Bali Utara walaupun sudah lulus.
Di Karsil (tempat nongkrong Mahasiswa Seni Undiksha) ia tidur di sana, juga melukis di sana.
Ia mengerjakan beberapa projekan seni untuk suvive selama kuliah, membuatnya punya banyak pengalaman tentang hidup. Juga tentang cinta. Dunia seni.
Di awal masuk kuliah, sebelumnya Mizan tak merasa betah tinggal di Bali. Sebab jurusannya sewaktu awal perkuliahan adalah Teknik Mesin—yang harus berurusan dengan hitung-hitungan. Dua semester ia ngos-ngosan. Setiap kali masuk kelas rasanya seperti diteror oleh angka.
Kemudian, di smester tiga, ia pindah ke jurusan seni. Sejak itulah, ia jarang pulang, dan bergairah mengembara di Bali Utara sebagai seniman lukis. Mengikuti banyak pameran sebagai panggungnya.
“Dari awal memang pengen jurusan seni, tapi katanya mahal, akhirnya saya disuruh masuk jurusan teknik oleh keluarga. Padahal saya gak kuat hitung-hitungan. Rasanya pengen pulang saja ketika itu,” ucap lelaki itu.
Setelah pindah jurusan, ke seni, itu membuatnya lebih hidup. Jurusan seni baginya seperti laut yang biru untuk para peselancar. Penuh petualang. Dan di kanvas, ia tak henti-henti berenang dengan kuas. Tenggelam pada imajinasi penuh warna dan simbol.
Ketertarikannya pada seni, memang sejak kecil lelaki itu senang gambar. Bahkan, menjual hasil gambarnya kepada teman, sewaktu SD, menjadi pengalaman manisnya dulu. Keluarganya memang orang-orang seni, bapaknya adalah seniman kaligrafi (huruf arab). Juga paman-pamannya ada yang bergelut di seni lukis.
Mizanul Hak saat melukis | Foto: tatkala.co/Son
Dan selama kuliah, nude art, atau lukisan yang lebih banyak mengekspresikan lekuk tubuh perempuan, yang indah (erotis). Di nude art, Mizan mulai membentuk keterampilannya.
Bahkan, kerap dipanggil Pelukis Cabul sebab terlalu sering melukis tubuh telanjang. Tapi ia biasa saja, dan menganggap lelucon itu adalah lelucon amatir.
Dari Realis ke Abtsrak
“Padahal, saya sebenarnya ingin menyampaikan pesan, bahwa perempuan itu bukan makhluk seksual semata. Ia adalah hidup. Keadilan mestilah datang pada semua perempuan, di tengah mata telanjang patriarki di zaman sekarang,” katanya.
Melukis tubuh perempuan menjadi ketertarikannya tersendiri. Tubuh telanjang (nude art). Sebagaimana Picasso dulu melukis tubuh perempuan. Tapi, setelah ketertarikan itu, Mizan terhenti. Ia diamuk cinta. Lebam.
Pertunangan yang gagal bersama pacar, membuatnya beralih dari surealis pada abstrak. Seni tertinggi memang adalah asbtrak. Walaupun menanggungnya nyeri. Semua simbol terkesan disembunyikan. Termasuk tentang perempuan. Kota ini mengajarinya pelajaran hidup.
“Tapi justru, di abtsrak ini, banyak lukisan saya terjual dari pada lukisan sebelumnya,” ujarnya.
Sekitar tiga lukisan habis terjual dalam waktu enam bulan tahun lalu. Satu lukisan ada yang dua juta harganya, tiga, bahkan bisa lebih. Beragam. Tak hanya tiga, masih banyak lagi yang tandas dibeli. Mizan tak ingat soal judulnya apa saja. Lupa.
Setelah lulus dari Undiksha, Mizanul sempat mencoba pulang ke Lombok dan mengajar sebagai tenaga pendidik di MTs Mu’allimin Nw Anjani, atau sekolah Islam.
“Tiba-tiba pulang ke Lombok saya dipanggil Ustaz. Dalam hati saya, selama kuliah berurusan dengan seni, dengan pergaulan, yang gimana begitu, tiba-tiba dipanggil Ustaz, saya shock culture, haha..” katanya humor.
Sebagai cerita unik, suatu kali, lanjut lelaki itu bercerita, ia tak hanya dipanggil sebagai ustaz, tapi kerap juga dipercaya untuk menjadi imam sholat. Sulit untuk ditolak setelah bediri di tengah waktu illahi, tapi karena hidup adalah misteri, tawaran itu diterimanya saja. Sholat dimulai.
Karya-karya Mizanul Hak | Foto: tatkala.co/Son
Para tuan guru merapikan shafnya di belakang lelaki itu, juga siswa-siswi. Hening. Khusyuk maghrib akan digelar. Takbir pertama si imam mulai beranjak, makmum mengikuti. Alfatihah mulai dibacakan hingga akhir. Setelah itu, ia membacakan surah Arrahman sebagai lanjutannya. Makmum khusyuk mendengar.
“Saya bacakan satu ayat saja waktu itu. Padahal jumlah ayatnya 78 ayat. Karena boleh kan, satu juga. Nah, saya diam dulu setelah membacakan Arrahmaan (ayat pertama), menjeda dulu. Mikir. Saya kan gak hafal, terus itu panjang, kan, saya juga gak tahu, kok, bisa-bisanya saya kepikiran baca surah itu. Padahal panjang. Saya langsung rukuk, allahuakbar, di belakang, anak-anak itu, ketawa kecil, dan menahan ketawa tuan-tuan guru. Saya malu jadi imam haha,” ceritanya.
Singaraja, dan Sapuan Kuat terhadap Kanvas
Setelah satu tahun menjadi guru, ia kembali ke Singaraja, dan melanjutkan S2-nya di STAH Mpu Kuturan, mengambil jurusan ilmu agama dan kebudayaan. Seperti tak puas, Bali Utara terus diubeknya soal kesenian. Tentang Singaraja, memang, kata lelaki itu.
“Sulit ditinggalkan. Pernah, satu waktu, aku sakit, lupa di mana waktu itu aku sakit. Kayanya di Ubud.” Lelaki itu mengingat. “Aku pulang ke Singaraja, sembuh.”
Entah itu mengarang atau tidak, yang jelas, kota ini sudah seperti kuas yang memainkannya berwarna. Selama berproses di Singaraja, sudah banyak peristiwa yang ia lukis. Dan ada banyak pameran yang sudah diikutinnya banyak sekali.
Seperti Pameran Sak Art, Kuta Mandalika, Lombok Tengah (2016), Pameran Maut Seru #29, Pameran Kucing Seru #5 Undiksha Gallery Kampus Bawah Undiksha (2017), Pameran Seru-Seruan #30, Gallery Kampus Bawah Undiksha,Pameran Photograpy Undiksha (2018), Pameran Maut Seru #31, Gallery Kampus Bawah Undiksha, Pameran One And Another, Monkey Forest,Ubud, Bali (2019). Pameran “Jhaga”, Bondowoso, Jawa Timur (2019).
Kemudian, Pameran Tugas Akhir, Gallery Kampus Bawah Undiksha, Pameran Trash To Art Manik Bumi, Singaraja, Buleleng, Bali (2020), Pameran DCG 15 Meruak Nyata UNY Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta (2020), Pameran Virtual BDC Conec, Bandung, Jawa Barat (2020), Pameran Virtual Gamasera Undiksha, Singaraja, Buleleng, Bali (2020).
Karya-karya Mizanul Hak | Foto: tatkala.co/Son
Pameran Komunitas SENIne Rasa Masa dan Massa Lombok Timur (2020). Pameran Komunitas SENIne #2 Lombok Timur (2020). Pameran Seni Rupa SENIne X Sak Art Home Sweet Home, Lombok Tengah (2020), Pameran Art Comonity Exhibition Se-NTB, Taman Budaya NTB, Mataram (2020).
Pameran In International Art Exhibition “Pesta Seni 6” “Human Circus” Department Student Association Faculty Of Letters , Malang State University, Jawa Timur (2020), Pameran Iring-iringan, Ponorogo, Jawa Timur (2020), Pameran Dosen Dan Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa Undiksha “ Contemplating The Journey” Kampus Bawah Undiksha (2020), Pameran Komunitas SENIne Nol Kecil, Mataram, Nusa Tenggara Barat (2021), Pameran dan Lomba Lukis Dies Natalis UNS 45 yang diselenggarakan oleh Universitas Sebelas Maret, Surakarta , Jawa Tengah (2021), Pameran Komuntias OPRASI #3 Get In Touch With Prasi Di Ruang Antara Studio Batu Bulan, Gianyar Bali. 2021 : Affordable Artfair AAF 2021, Kuala Lumpur, Malaysia (2021). Pameran "MENYIGI TRADISI", Taman Budaya NTB. 2022 : Pameran Forum Drawing Indonesia (FGD) Landscape "sisi lain" serentak di Indonesia (2021).
Pameran Titik Temu, Taman Budaya NTB, Mataram (2022), Pameran Mindscape , Tetebatu, Lombok Timur (2022, Pameran Komunitas Senine “Revolusi” Pringgasela Lombok Timur (2023), Pameran 10 Perupa NTB bertajub ME (REKA) Taman Budaya NTB, Mataram. 2024 : Pameran Bring Back Memories at Ayom Suite Hotel, Mataram, NTB (2024), Pameran Voice Of Beauty International Exhibition at ISI Denpasar, Bali (2024).
“Singaraja sudah seperti rumah yang nyaman, dan memberikan banyak pengalaman. Termasuk pengalaman cinta yang abstrak!” tutup lelaki itu. [T]
Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah Editor: Adnyana Ole
Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran
TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah kalimat sederhana. Itulah yang say...
ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk memenuhi kepentingan m...
SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada akhir tajuknya Festival Cerita Rasa 0.4. Ang...
PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini dialami oleh banyak sekali cerita rakyat...
TIGA buku tersusun rapi di atas meja. Sampulnya berbeda-beda, tetapi lahir dari ruang akademik yang sama. Ada ‘Lawaté Surup Ring Balé Gedé: Pupulan Puisi Bali Anyar’, ‘Geguritan D...
MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak jauh dari kota kabupaten. Daerah yang...
MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB). Yang kedua, Seleksi Penerimaan Murid...
Bagi anak-anak, Rekasadana (Pergelaran) Karya Legendaris Maestro Wayan Berata yang dipersembahkan Sanggar atau Sekaa Gong Gita Bandana Praja, Banjar Belaluan Sadmerta, Desa Dangin...
SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna, editor yang mengolah naskah, literary...
SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu malam, 16 Juni 2026, yang ditampil...