Pulau Serangan menurut "usana" (sejarah tradisional) adalah titik suci yang dipilih Mpu Kuturan (sekitar tahun 1001 Masehi) untuk membangun tempat memuliakan Mahasuci Buddha Sakhya, sekarang bernama Pura Sakenan — terhubung dengan nama klan Śākhya garis keluarga Siddhārtha Gotama, juga merupakan nama garis silsilah perguruan Buddha Suci kuno.
Sakenan juga terkait dengan tradisi memuliakan Hyang Tunggal sebagai "mitra-sahabat batin" manusia. Memuliakan Tuhan dalam hati dengan perasaan bahwa Hyang Tunggal adalah sahabat dalam diri manusia dikenal dengan istilah "Sakhyam" atau "Sakyanam". Di lidah orang awam menjadi "Sakenam" dan "Sakenan".
Dalam tradisi Waisnawa "Sakhya" merujuk rasa terpikat sebagai sahabat para pemuja pada Śrī Kṛṣṇa. Memuja Śrī Kṛṣṇa sebagai sahabat hati disebut "sakhya"; salah satu dari lima hubungan utama umat dengan Bhatara Kṛṣṇa.
Nama pulau Serangan dari "sira" dan "(h)angen". Sira-hangen menjadi Serangan. Mengandung makna "Beliau Hyang Suci yang dalam angan". Tradisi meditasi tradisional dengan mengangankan Kesucian Ilahi atau Sang Hyang Suci, Sangkan Paraning Dumadi, muasal alam raya disebut sebagai "maangen-angen", berkontemplasi memasuki hakikat diri dan ketuhanan. Dalam nama Pulau Serangan diwariskan ajaran memuliakan Hyang Tunggal sebagai Roh Suci yang hanya bisa diangankan. Bahkan angan tentangNya bukanlah Hyang Tunggal itu sendiri. Tapi dari sini kita bisa merenungi hakikat diri di depan-Nya.
Pulau Sira-angen (Serangan) menjadi tempat Dang Hyang Nirartha merampungkan karya besar sastra Kawi "Hanyang Nirartha" (sekitar tahun 1546-1550 M). Serangan dipilih karena kesucian dan keindahan yang membuat Sang Kawi terpana dalam keindahan — beliau mengalami "kalangwan/kalangen/mangen-angen lango".
Sekitar tahun 1001 pulau Serangan diberkahi ajaran Buddha Suci Mpu Kuturan. Sekitar tahun 1550 Serangan disucikan dalam samadhi-sastra Kawi Dang Hyang Nirartha. Tahun 1995-1998 dijarah, diporak-poranda penguasa, diambil paksa, direklamasi. Tahun 2024-2025 diobok rebranding ahistoris Kura-Kura, "Pranda baka" yang selalu berdharmawacana Tri Hita Karana berstempel sakti KEK. [T]
Setiap bertemu orang yang bertanya, “Sudah kerja? Kerja di mana sekarang?” Saya kesal. Selalu kesal. Bukan lantaran karena tak punya pekerjaan. Namun betapa bingung mesti dengan ap...
Judul Buku: Cupak Tanah – Enam Naskah Drama
Pengarang : Putu Satria Kusuma
Penerbit : Mahima Institute Indonesia
Tahun Terbit : 2015
Jumlah Halaman : xvi + 216 halaman
ISBN :978-60...
Lucu itu pembawaan, tak bisa dipaksakan. Tidak banyak orang yang fasih melucu. Kebanyakan orang gigih mencoba melucu, justru jadinya tidak lucu. Kalaupun kemudian ada yang tertawa,...
SETIAP zaman punya ciri khasnya masing-masing. Zaman kita saat ini adalah zaman ‘dunia maya’. Dan, setiap zaman selalu melahirkan sejumlah konflik. Zaman kita sekarang ini melahirk...
Bila ditanya, manakah karya sastra yang benar-benar mampu berbaur dengan segala hal, barangkali puisilah jawabannya. Sebagaimana ia diistilahkan dengan berbagai nama di setiap bida...
KETIKA ideologi komunis atau sosialis dikatakan bangkrut, lantas apa yang mendasari kedatanganku ke kuburan Karl Marx, lelaki yang identik dengan ideologi itu?
"Untuk memenuhi ras...
Bali memahami konflik dengan sangat bijaksana. Ia adalah konsep rwa binedha, pertentangan yang menjadi satu, pertentangan yang melahirkan dinamika dan keberlangsungan hidup.
Ada ru...
Judul Buku: EKSPLO(RA)SI TUBUH - ESAI-ESAI KURATORIALSENI RUPAPenulis: HardimanPenerbit: Mahima Institute IndonesiaTebal : viii + 307 ISBN : 978-602-18311-7-5 Buku Eksplo(ra)si Tub...
Judul Buku : Perempuan Tanpa Nama
Pengarang : Kadek Sonia Piscayanti
Penerbit : Mahima Institute Indonesia
Tahun Terbit : 2015
Jumlah Halaman : x + 288 halaman
ISBN :978-602-18311-...
Berbahagia sekali saya masih diberi kesempatan untuk bernapas, kemudian tadi pagi masih berak dengan lancar, dan menyusun pidato ini dengan keadaan suhu tubuh serta kejiwaan yang n...