Parwata bersimbah darah. Dadanya ditusuk orang yang ia tidak kenal secara tiba-tiba.
Parwata di malam itu memakai kain kamen hitam, dengan udeng hitam, di tengah malam yang naas itu, berpakaian adat Bali madya. Ia seakan paham di dalam batinnya malam gelap di warung Madura itu akan menjadi titik akhirnya.
Parwata bersimbah darah. Dibonceng ke rumah sakit, tidak tertolong, menghembuskan napas akhirnya.
Parwata, saya tidak mengenalmu, tapi merasa demikian dekat.
Parwata, kata yang demikian dekat dengan saya, artinya gunung.
Parwata berpulang mengantar saya pada karya Jawa Kuno yang ternama: Agastya Parwa: “saṅ tumahap agra niṅ Windhyaparwata”
Dalam Agastya Parwa yang melahap gunung Windhya adalah mahamulia Bhagawan Agastya: “bhagawān Agastya, saṅ tumahap agra niṅ Windhyaparwata, sambaddha ri denya n ahyun tumunto dalan saṅ hyaṅ Āditya…”
Begitu disebutkan dalam karya besar yang ditulis sejaman dengan era pendirian Candi Prambanan dan Candi Borobudur, di abad IX.
Parwata dalam parwa tersebut tidak bersimbah darah, tapi ditelah lindap oleh Rsi Agastya yang mahasuci.
Parwata identik dengan kesucian, keagungan para dewata, kemuliaan para pertapa.
Disebutkan juga dalam naskah lain, Kakawin Arjuna Wijaya, bahwa gelar Bhatara Śiwa adalah: Śrī Parwatarājadewa.
Hampir semua khazanah kitab kakawin Jawa Kuno dan Hindu Bali memuliakan ‘parwata’. Cita-cita orang tua Parwata yang kemarin berpulang bersimbah darah, pastilah mengarapkan putranya seagung gunung suci, Parwata.
Tidak ada bayangan buruk dalam nama Parwata yang dipenuhi kesucian. Tapi begitulah, Bali, pulau yang dipenuhi taksu sesaji dan berbagai ritus upakara mantra-mantra suci, disimbah darah sang Parwata yang ditusuk amukan bhuta-kala malam buram gelap Bali.
Parwata berpulang bersimbah darah, tidak tertolong di malam gelap; tidakkah ini sebuah pertanda gunung suci dan simbol keagungan pulau yang diberi jejuluk Pulau Dewata ini “taksunya telah berpulang”?
Saya tidak mengenal Parwata yang berpulang bersimbah darah di gelap malam kemarin. Tapi saya merasa dekat. Sangat dekat. Terlalu tragis untuk diuraikan panjang lebar. Parwata berpulang penanda “berpulang taksu Bali”?
Saya berdoa terbaik dan terdalam untukmu Parwata. Darahmu yang tumpah di tanah Bali tidak akan kita biarkan sia-sia. Tabik pikulun semoga jalan terang dan Dewata memberikan tempat terbaik untukmu, Parwata. Darahmu tumpah untuk mengingatkan Bali, ‘awignamastu’, darahmu tetabuh yang akan dikenang sebagai “tanda-tanda Bali tidak baik-baik saja”. Selamat jalan gunung suci yang disematkan pada namamu, Parwata.
Masihkah Bali terlena ketika sudah dibukakan mata ‘kadundun’ sang Parwata bersimbah datang dan gugur di tengah malam buta yang naas?
DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu bergerak perlahan melintasi Jalan Ngurah Rai menuju Gedung D...
Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan
TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali. Ledakan bom merenggut ratusan nyawa dan menggunca...
NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan usaha, hingga berbagai tr...
PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati....
HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Iya, hampir saja. Itu berarti b...
Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi dan tiang-tiang bangunan ikut...
KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses pemulihan roh kebudayaa...
IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama berhenti diajukan m...
PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.
Bagi saya, it...