Topeng Tugek Carangsari – Memainkan Topeng Mengolah Karakter
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
CUACA sangat tidak menentu. Di wialaah Tejakula, tempat saya tinggal, hujan di sisi timur tapi panas di sisi baratnya. Pun demikian di Denpasar cuaca sempat sangat panas meski di Buleleng hujan lebat, atau sebaliknya.
Tapi saya tidak akan berbicara tentang cuaca, hujan dan angin kencang. Saya ingin menulis tentang seorang anak muda yang sejujurnya telah membantu untuk meyakinkan generasinya bahwa bekerja tidak harus ke kota atau bahkan menjadi PNS.
Seperti biasa, saya nongkrong di Pagi Motley Studio, sebuah tempat yang lebih banyak menyediakan jasa pencelupan di Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula. Saya berbincang dengan salah satu pekerja muda. Namanya Gusti Ngurah Panca Prasetya.
Anak muda berusia 19 tahun itu berasal dari Desa Bondalem, masih di wilayah Kecamatan Tejakula. Ia sudah bekerja setahun di studio itu sebagai pegawai celup internasional.
Ya, kata “internasional” di situ menunjukkan bahwa hasil celupannya dibawa dan dipesan oleh kalangan internasional. Sebut saja dari Jepang, Eropa , Australia dan Amerika.
Ngurah Panca sempat bekerja di Denpasar, tapi kemudian memutuskan untuk bekerja di desa, dekat dengan rumah dan suasana yang menyenangkan di lingkungan kerja.

Ngurah Panca di Pagi Motley Studio, Sembiran, Tejakula, Buleleng | Foto: Nadiana
Panca menuturkan ketimbang bekerja di kota, ia lebih nyaman bekerja di desa. Pendapatannya saat ini malah bisa ditabung dan mencicil kendaraan bermotor.
“Saya mendapatkan gaji Rp. 2.500.000 per bulan belum bonus di sini,” terangnya.
Di Denpasar gajinya tak ada sisa untuk ditabung. Semua habis untuk saya sewa kos, biaya makan dan lain-lain.
Setelah tamat dari salah satu SMA negeri di Tejakula, Ngurah sempat bekerja pada usaha yang bergerak di produksi juice buah. Sebagai seorang gamer (hobi bermain game), Ngurah adalah contoh bagaimana bisa mengadaptasi kekinian dengan pekerjaan, sekaligus memberi contoh bagi generasi sejawatnya untuk tetap mencelupkan hidup di masa kini untuk warna masa depan yang lebih cerah
Adalah sejumlah hal yang tidak bisa dipisahkan untuk mengurangi urbanisasi, yang akhirnya semua mengerti, bahwa urbanisasi itu akhirnya menimbulkan masalah-masalah sosial, lingkungan di kota-kota.
Antara lain, dengan melakukan hal-hal nyata di desa-desa. Misalnya, membuat usaha dan berjuang bersama-sama dan memberikan dampak nyata bagi sesama. Ngurah Panca salah satu dari tidak banyak anak muda yang mau bekerja di desa dengan pertimbangan menuju masa depan.
Jika bekerja didasarkan pada banyaknya gaji mungkin saja di kota akan lebih menjanjikan bahkan di luar negeri. Tetapi jika bekerja adalah juga persoalan kenyamanan, pemberdayaan dan menjadi pelopor di tanah kelahiran, barangkali pilihan untuk bekerja atau menciptakan lapangan pekerjaan di desa adalah hal yang luar biasa.
Banyak sekali kita dengar dengungan jargon-jargon pemberdayaan, UMKM dan support lokal yang masih menjadi kata pemanis oleh pemangku kebijakan. Dari Ngurah Panca, kita belajar mengurangi urbanisasi, adalah bekerja dan melihat peluang di desa.
Tentunya ini persoalan yang luar biasa pelik tapi teman-teman banyak yang secara organik telah menciptakan lapangan pekerjaan untuk komunitas di desa. Pagi Motley salah satunya. Jika ingin desa berdaya harus ada orang yang tinggal di desa dan mendapatkan hasil ekonomi dari kegiatan atau usaha di desa.

Suasana kerja di Pagi Motley Studio | Foto: Nadiana
Ternyata masih saja ada hal-hal yang ersifat semu. Misalnya, masih ada yang berbangga ketika desa, UMKM, dan orang-orang yang berbuat untuk desa, asik difoto dan disampaikan ketika ada pameran dan penjabat datang. Selebihnya ya, pejabat itu menghilang seperti jamur di musim kemarau.
Jika ada data atau catatan berapa angka pekerja di kota, harusnya ada catatan angka yang bekerja di desa. Dan kalau memang yang peduli hanya itu-itu saja, berarti kemanuan, pemberdayaan dan UMKM hanya cerita muaiman saja.
“Tetapi harus tetap semangat,” kata Ngurah Panca sambil mencelup kain dengan pewarna alami, pewarna dari bahan-bahan alami yang didapatkan di desa. [T]
Penulis: Nyoman Nadiana
Editor: Adnyana Ole
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
JIKA di atas meja belajar anda terdapat dua buah benda yaitu gadget dan buku, manakah yang akan anda pilih? Saya percaya, demi sinetron kesukaan ibu-ibu di tivi, kebanyakan dari a...
LAGU anak-anak itu kadang unik, terutama liriknya. Saat Taman Kanak-Kanak dulu kita tidak begitu hirau dan memang tak banyak mengerti arti dan maksud lagunya itu apa. Cuma nyanyi d...
BALI merupakan kepulauan seribu pura yang telah terkenal sejak zaman dahulu. Masyarakat Bali tak lepas dari Tri Hita Karana yang merupakan landasan kehidupan beragama dan beradat....
JIKA benar harga rokok setinggi langit biru, dan jika benar harga tinggi itu bisa menghentikan orang merokok, dan (siapa tahu) nanti benar-benar tak ada yang merokok, bagaimana nas...
PERNAH nyuluh jangkrik? Zaman saya kecil, di desa saya di Jembrana, nyuluh jangkrik (memburu jangrik malam hari) adalah kegemaran saya dan teman sebaya. Jauh-jauh sebelumnya, bapak...
Cerpen: Putri Handayani HAMPIR setiap hari Griya Siwa tidak pernah sepi dari orang-orang yang ngayah1. Mulai dari membuat sarana upakara sampai meracik tirta, semua dilakukan oleh ...
KELAHIRAN istilah 'simakrama' menarik untuk ditelusuri. Awalnya istilah ini yang lebih mengarah pada padanan kata 'silahturahmi', yang mencerminkan keinginan untuk berbicara dan sa...
ADA serombongan remaja sedang berebut peran. Mereka akan menjadi pelakon sandiwara dalam perayaan Agustusan tingkat RT. Peran konglomerat, menteri, dokter, mahasiswa, semua mereka...
GARIS berliku itu menyerupai sungai. Lebar di hulu kemudian menyempit di hilir. Warnanya hijau, biru, dan jingga. Garis berliku serupa sungai itu membelah lukisan menjadi dua bagia...