Berapa jalan yang harus disusuri manusia. Sebelum kau bisa menyebutnya manusia? Berapa laut yang harus dilayari merpati putih. Sebelum dia bisa rebah di atas pasir? Ya, berapa kali meriam harus ditembakkan. Sebelum akhirnya dilarang? Jawabnya, kawan, ada bersama angin. Berhembus bersama angin. (lirik lagu Blowing in the wind,- Bob Dylan)
Bob Dylan mempertanyakan sebab segenap angkara murka terkesan seolah kodrat alam yang alih-alih dicegah malah dibiarkan untuk selalu terjadi di planet bumi ini. Menurut Jaya Suprana (2018) dalam ulasannya atas lagu ini pertanyaan Bob Dylan “How many times can a man turn his head. And pretend that he just doesn’t see?“ pada dasarnya merupakan suatu kegelisahan kemanusiaan. Kemelut kegelisahan yang menghantui lubuk sanubari ketika saya terpaksa dengan mata kepala sendiri menyaksikan bagaimana rumah dan bangunan warga Bukit Duri, atas nama pembangunan digusur secara sempurna melanggar hukum dan hak asasi manusia pada 28 September 2018 lalu.
Penggalan lirik lagu terkenal, Blowing in the Wind' dari Bob Dylan di atas sarat makna untuk menjelaskan berbagai dinamika kehidupan manusia dalam menjalani kehidupan nyata ini. Penulis lagunya kini berusia 83 tahun, bukan orang biasa. Dia 'raksasa' di dunia musik, hingga saat ini.
Lagu Blowing in The Wind perdana dirilis pada tahun 1962. Mahakarya perpaduan musik dan puisi Bob Dylan yang 53 tahun kemudian memperoleh anugerah penghargaan Nobel pada tahun 2016. Mempertanyakan penderitaan umat manusia akibat angkara murka, kekerasan, dan penindasan dilakukan oleh manusia terhadap sesama manusia.
Pertanyaan yang sama selayaknya juga menghantui setiap insan manusia yang masih memiliki sisa nurani kemanusiaan; yang terjadi dari masa ke masa, ketika menyaksikan penderitaan warga Kampung Pulo, Pasar Ikan, Sukomulyo, Tulang Bawang, Kulon Progo, Kendeng, Pulau Pasir, Papua, yang digusur atas nama pembangunan. Begitu pun penderitaan warga Rwanda, Kongo, Sudan, Bosnia, Rohingnya, Uighur, Afghanistan, Yaman, Suriah, Irak, Chechnya. Sampai saat ini di Gaza masih terjadi pembantaian, penindasan, penganiayaan, bahkan rencana pembinasaan oleh sesama manusia atas nama ideologi, kepercayaan, kerakusan dan kekuasaan.
Ini yang menjadi kegetiran Bob Dylan dalam lagu tersebut. Seperti pagar laut di Kabupaten Tangerang, pantai utara yang sedang trending topic. Terlepas dari apakah ini salah prosedur atau kelalaian pemerintah, jelas di sana terjadi pelanggaran hak pada masyarakat atas tanah, ladang, sawah, dan laut untuk mencari nafkah, karena pagar sepanjang 30 km membentang di Kecamatan Teluk Naga, Sepatan, Pakuhaji, Mauk, dan Keronjo. Selain lautnya dipagar untuk di kavling-kavling, juga lahan daratnya ”dipaksa” untuk di jual atas nama Proyek Pantai Indah Kapuk (PIK 2). Perampasan hak asasi manusia terus berlangsung, dengan berbagai modus alasannya.
Tentang lagu Blowing in the wind Dian Basuki (2019) mengemukakan, bila anda lahir dari generasi yang cukup ”jadul”, barangkali masih ingat kepada lirik yang membuat banyak orang bersenandung atau bersiul sembari memetik gitar:
How many roads must a man walk down Before you call him a man ? How many seas must a white dove sail Before she sleeps in the sand ? Yes, how many times must the cannon balls fly Before they're forever banned ? The answer my friend is blowin' in the wind The answer is blowin' in the wind.
Penggalan lagu Blowing in the Wind yang ditulis Bob Dylan pada 1962, dan populer di sini pada 1970-an, lagunya enak dinyanyikan namun liriknya getir.
Bob Dylan memulai perjalanan panjang dengan lagu-lagu folk di tengah masyarakat yang terguncang oleh terjebaknya AS dalam Perang Vietnam. Bersama Joan Baez, Dylan menyanyikan lirik-lirik yang menyuarakan protes kepada perang, menyerukan perdamaian dan kebebasan (https://www.indonesiana.id/read/94322/nobel-sastra-untuk-penyanyi-bob-dylan )
Andaikan tidak ada penindasan, peperangan, konflik di dunia hanya ada rasa tentram, itu mimpi saya, setiap mendengar lagu ini, air mata langsung meleleh, mungkin cengeng saya tidak bisa untuk menahan air mata ini untuk tidak keluar.
Tidak ada kekerasan di planet bumi ini mungkin hanya angan-angan saja; utopis kata para filsuf. Zaman telah memasuki detik-detik terakhirnya. Konflik, pertikaian dan pertarungan tak kunjung mereda. Apinya berkobar semakin dahsyat dan menjadi-jadi. Jiwa dan darah pun menjadi barang murah yang mudah sekali ditumpahkan.
Perang merupakan salah satu cara yang dipahami oleh beberapa negara dalam menyelesaikan konflik serta masalah yang mereka hadapi dengan negara lain di samping cara diplomasi. Perang dalam arti sempit adalah kondisi permusuhan dengan menggunakan kekerasan dan biasanya menggunakan senjata sehingga perang seringkali membawa kerugian bagi para pelakunya.
***
Hati manusia semakin resah. Hidup mereka penuh dengan kegelisahan dan rasa pesimis. Sampai kapan konflik ini akan terus terjadi? Pertanyaan besar orang-orang Palestina, di Gaza sana.
Kapan kegaduhan ini akan berakhir? Rasa aman menjadi barang langka. Sebagian dari mereka yang belum kuat imannya mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Lebih baik mati daripada melihat kekejian yang tak kunjung habis ini, kata mereka. Tapi mungkinkah menghapus konflik di muka bumi ini? Sementara yang bertarung adalah antar pengikut haq dan batil. Tak hanya itu, para pengikut kebatilan juga saling menyerang. Dan yang paling menyedihkan, para pengikut kebenaran yang sama-sama berucap syahadat juga saling bertikai (https://inilah.com/mozaik/2274387/mungkinkah-mewujudkan-dunia-tanpa-konflik).
Menurut para filsuf, konflik adalah bagian dari perubahan. Di dunia ini berjalan sistem yang amat teratur dan rapi. Berputarnya bumi, terbitnya matahari dari timur dan tenggelam di barat. Api yang membakar, air yang mengalir, dan segala sesuatu yang berjalan sesuai aturan alam ini disebut Sunnatullah. Konflik adalah termasuk Sunnatullah yang pasti terjadi. Bukan berarti Allah SWT ingin keburukan bagi hamba-Nya, namun konflik ini adalah suatu kelaziman yang harus terjadi.
Tanpa adanya konflik, kehidupan manusia tidak akan berjalan. Contohnya laut dipagar, timbul konflik; dan di dalam konflik ada pergerakan kehidupan. Semuanya jadi geger dan repot, sampai urusan pagar bambu saja, TNI AL harus turun tangan. Pada hal cukup urusan ini selesai di Babinsa Desa, seloroh saya hehehe..., harus orang pusat semuanya yang turun tangan. Konflik membuat semuanya jadi hidup. Mungkin interpretasi saya yang keliru.
Lalu mungkinkah konflik di dunia ini dihapuskan? Jawabnya seperti dalam penggalan bait lagu blowing in the wind. Sebuah pertanyaan retoris tentang perdamaian, perang, dan kebebasan., “Berapakali kau harus mendongak sebelum kau lihat langit? Berapa telinga yang harus kita punya untuk mendengar tangisan? Berapa banyak lagi kematian di bumi. Hingga kita sadar terlalu banyak yang mati?. Jawabnya, kawan, bersama angin, Berhembus bersama angin.” [T]
DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang calon wirausaha ditanya mengenai apa y...
SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali seperti sediakala?"
Pertanyaan...
PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya di Jembrana-Bali, yang telah berpulang pada 21 Januari 20...
KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi ini: hutan-hutan terbaik yang be...
"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota Singaraja," ujar Bupati Buleleng, dr. I...
JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan akan datang orang-orang yang dan...
HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai marmer rumah mewah di kawasan elit. Suara temba...
MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA
mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata
jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta kebijakan berbe...
TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar. Di tengah gemuruh tabuh dan warna-warni busa...
RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat dikenali secara utuh dalam epik Ramaya...